Maaf, Tidak Melayani Mustahik Perokok ! Ini Kata Annisa Aulia

Annisa Aulia Marketing Komunikasi Dompet Dhuafa Singgalang.

Annisa Aulia
Marketing Komunikasi Dompet Dhuafa Singgalang.

Advertisements

PADANGTODAY.com-Keras, memang. Tulisan peringatan itu terpampang tegas di depan Pintu masuk Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang. Sebagian mungkin akan berpandangan sinis. Menilai perspektif kategori mustahik (orang yang mengajukan bantuan) di Dompet Dhuafa Singgalang, terlalu berlebihan.

Berbicara tentang merokok, Kebiasaan tersebut datang dari suku Indian kafir. Tahun 1600-an, rokok menyebar ke Eropa, kemudian ke dunia Islam.

Dulu para tokoh agama berpendapat rokok itu makruh karena tidak ada label berbahaya pada rokok. Sekarang, setiap bungkus rokok telah dilabeli dengan bahaya merokok, mengapa pemerintah dan tokoh agama masih ragu untuk mengecam haramnya rokok?

Allah telah berfirman, ”Dan Allah menghalalkan bagi mereka semua perkara yang baik dan mengharamkan semua yang buruk.”(Q.S.Al-A’raf:157). Merokok tidak memberi manfaat sedikitpun. Selain berbahaya bagi kesehatan diri sendiri, juga berbahaya bagi orang lain.

Dalam suatu dalil , Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).

Mayoritas masyarakat Indonesia telah menyadari bahaya rokok. “Sebanyak 86 persen orang dewasa di Indonesia menyadari bahaya merokok bagi kesehatan dan dapat menyebabkan penyakit serius.” Demikian menurut temuan Global Adult Tobacco Survey (GATS) pada tahun 2012.

Dan dari riset yang dilakukakan WHO melalui “WHO Report on Global Tobacco Epidemic” tahun 2008, berdasarkan jumlah perokok, Indonesia adalah negara ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India.

Diperkirakan lebih dari Rp 200 trilyun dalam setahun dihabiskan untuk rokok. Padhal, seandainya rakyat Indonesia tidak merokok, biaya Rp 200 trilyun tersebut bisa didistribusikan untuk biaya pendidikan, sembako, atau membangun sebuah industri lain yang halal dan bermanfaat.

Lebih dari 4.000 jenis bahan kimia beracun terdapat dalam batang rokok. Namun atas izin negara, racun-racun tersebut dilegalkan dan diproduksi secara massal. Ya, negara telah membantu warganya dengan fasilitas bunuh diri lewat benda kecil ini. Hebatnya alat penggerogot nyawa dan kesehatan masyarakat ini tidak pernah diminta pertanggungjawabannya secara hukum perdata apalagi pidana.

Meskipun demikian, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dihelat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), proporsi rata-rata jumlah rokok yang diisap oleh penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas adalah 12,3 batang per orang per hari, atau setara dengan satu bungkus rokok.

Di Dompet Dhuafa Singgalang sendiri, ketegasan terhadap pembatasan layanan terhadap mustahik perokok dinilai penting sebagai tolak ukur akan kepantasan mustahik tersebut. Dengan patokan sebungkus rokok termurah adalah Rp.12.000,- . Jika disesuaikan dengan rata-rata masyarakat.

Sesuai hasil riset yang menunjukkan rata-rata konsumsi rokok masyarakat Indonesia minimal sebungkus per hari, dengan patokan harga paling rendah sebungkus rokok adalah Rp.12.000,-. Jika dihitung dalam rentang waktu satu bulan, maka biaya yang dihabiskan mustahik tersebut adalah sekitar Rp.360.000,-. Biaya yang terbilang cukup untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari mustahik.

Sedangkan, dari data pengajuan bantuan mustahik ke Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang, sebagian besar pengajuan dilakukan oleh kaum dhuafa yang berpenghasilan dibawah nominal yang dihabiskan para perokok setiap bulannya. Sungguh disayangkan sekali biaya yang bisa disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan harus mengalir pada mereka yang hanya menghamburkan uangnya untuk merusak kesehatan sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*