Mardhiyan Novita MZ, Menularkan Sastra Lewat Klub Sahara

Mardhiyan Novita MZ ketika membacakan puisi saat acara Pentas Seni Sastra, Diskusi Inpiratif dan Pembagian hadiah empat Cabang Lomba Kepenulisan di Aula Balaikota Pariaman

Padang-today.com__Sejak didirikan sanggar bahasa dan sastra tahun 2015 lalu, Klub Sahara telah melahirkan setidaknya 15 buku novel, puisi maupun kumpulan cerpen. Adalah Mardhiyan Novita MZ (25) yang terinspirasi untuk mendirikan Klub Sahara dengan mengumpulkan pelajar setingkat SMP dan SMA di Kota Pariaman dalam satu perkumpulan yang mengkaji bahasa dan sastra di Kota Pariaman, Sumbar.

Mahasiswa S2 Ilmu Susastra Universitas Indonesia tahun akhir ini telah merekrut pelajar-pelajar Kota Pariaman ke dalam empat angkatan, setiap angkatannya direkrut hanya 25 orang. Sehingga sampai tahun 2018 ini lebih kurang sudah 100 orang pemuda Kota Pariaman telah terdaftar sebagai anggota aktif Klub Sahara.

“Saya memang membatasi setiap angkatan Klub Sahara ini setiap tahun ada satu angkatan sehingga sampai tahun 2018 ini sudah ada empat angkatan. Saya membatasi anggota karena ingin menjaga kwalitas dan komitmen dari anggota Klub Sahara, walaupun ketika kita masih mengizinkan kepada pelajar-pelajar diluar anggota Klub Sahara”, ungkapnya ketika ditemui usai melaunching lima buku karya anggota Klub Sahara di Aula Balaikota Pariaman, Minggu 28/10.

Gadis yang pernah menamatkan Sarjana Sastra Indonesia UGM di Jogjakarta juga menjelaskan bahwa Klub Sahara berkumpul sekali seminggu di Rumah Tabuik Subarang. Setiap minggunya akan membahas topik-topik tentang sastra seperti menulis novel, puisi dan sebagainya.  Walaupun sibuk menyelesaikan studinya di Kota Jakarta, namun wanita yang biasa disapa Dhyian ini masih menyempatkan diri untuk datang ke Kota Pariaman sekali sebulan dan memberikan ilmunya kepada anggotanya.

Klub Sahara mengenakan iuran sebesar 5 ribu perbulan kepada setiap anggotanya. Uang terkumpul ini digunakan untuk menambah biaya-biaya operasional Klub Sahara. Klub Sahara merupakan sanggar bahasa dan sastra yang  dikelola dengan baik, buktinya semua anggotanya dilengkapi dengan rompi yang bertuliskan nama sanggarnya sehingga sanggar-sanggar bahasa lainnya di Sumbar sering menjadikannya sebagai percontohan terutama dari sisi penampilan.

Putri sulung dari pasangan Maryunis dan Zaisyam ini berharap mendapatkan tempat sebagai sekretariat Klub Saharanya, sehingga mereka memiliki tempat latihan yang jelas dan urusan surat menyuratpun bisa juga jelas alamatnya. Ia juga berharap kepada setiap sekolah di Kota Pariaman mengoleksi buku-buku karya anak-anak Klub Sahara di perpustakaannya.

Sebagai anak seorang wartawan, sepertinya keahlian sang ayah dalam menulis terwarisi dalam dirinya. Selama di Sekolah Dasar, iapun dikenal handal dalam mengarang dan bercerita. Di tahun 2011, novel pertamanya “Penyair Merah Putih” terbit. Produktivitasnya tidak lepas dari bimbingan sanggar sastra siswa yang diikutinya di Rumah Puisi Taufiq Ismail. Dan di tahun 2012, buku puisi tunggalnya “Sajak dari Bumi Melayu” diterbitkan Fadli Zon Library Jakarta. Buku itu ditulis selama masa kunjungan di Malaysia, lebih satu bulan, merekam semua yang ia lihat atas undangan Siti Zainon Ismail, sastrawati Malaysia.

Duta baca Sumbar ini setidaknya sudah menlahirkan novel antara lain Mahar Cinta Gandoriah,  Ranah Surga Mendayu Senja, Luka, dan buku-buku puisi serta kumpulan cerpen lainnya. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas