MARI SALING MEMBESARKAN , KAWAN SUKSES KAWAN KEBANGGAAN KITA Catatan hati : Yanti Elvita

Saya paling takut kehilangan kawan. Dan saya memang tak bisa hidup jauh dari kawan-kawan. Saya tahu, sebagai makhluk sosial, sebagai insan yang disebut dengan “zoon politicon” mana pernah kita bisa hidup tanpa teman atau kawan.

Kawan sejati bagi saya adalah kawan yang berdasar kepada rasa tulus. Kawan bagi saya bukan soal kepentingan. Kawan bagi saya adalah “inspirasi”. Tak ada dalam kamus saya, kalau ada perlunya, kita mendekat kepada kawan. Itu bukan saya.

Ada saya mendengar pepatah “barat”. Tak ada kawan atau musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang kekal. Saya mengenal diri saya. Paling tidak suka saya ketika cara hidup sosial, cara hidup berkawan berdasar kepada kepentingan belaka.

Bagi saya, kawan ya kawan!
Tak lebih.
Susah kawan, susah pula saya. Sesuatu yang paling membuat saya terasa sedih adalah ketika mana saya tak mampu memberi atau membantu kawan yang butuh pertolongan. Biasanya, kalau itu terjadi, menjadi sebuah pemikiran yang penting untuk melahirkan tanggung jawab moral. Hati nurani ini terpanggil untuk membantu. Dan bisa dipastikan, sebelum dapat membantu kawan, tidur saya tak akan nyenyak.

Hidup bagi saya adalah hidup yang berpatok kepada apa yang sering saya gelorakan, yakni spirit saling membesarkan kawan. Saya bahagia melihat kawan senang. Sukses dan besarnya kawan, adalah kebanggaan bagi saya.

Dari dulu hingga kini, saya memang menjauhkan diri dari segala sesuatu yang ‘menegatifkan’ kawan. Kawan bagi saya adalah sesuatu yang sangat ositif. Karena jalan hiudup saya acap dibuka oleh perkawanan yang baik.

Tentu kita bertanya, jika ada perkawanan yang baik, tentu ada pula perkawanan yang buruk, tentang ini, bagaimana sikap saya?

Ada sesuatu yang membuat hati saya terluka karena kawan.

Ada sesuatu yang membuat saya kecewa karena kawan.
Ada sesuatu yang membuat saya tersakiti karena kawan.
Ada sesuatu yang membuat air mata saya jatuh karena kawan.

Dan…
Bagaimana saya mengadapi ini?
Haruskah saya memusuhinya?

Haruskah saya membencinya. Haruskah saya berdendam padanya?

Haruskah?

Bertanya begini, sebelum menjawabnya tanpa saya sadari, saya menarik nafas dalam-dalam. Dalam jawabannya yang paling dalam adalah; “ Tidaki !”

Saya tidak harus memusuhinya.
Saya tidak harus membencinya.
Saya tidak harus memelihara dendam.

Bila air mata saya jatuh karena dilukai kawan, biasanya, saya biarkan menangis sepuasnya. Saya keluarkan segala airmata. Kemudian, saya mengmbil wudhu. Bagaimana pun juga, dendam kebencian, sakit hati, dan luka, adalah sesuatu yang sangat digemari setan atau iblis. Jalan satu-satu menghadapi sulutan api iblis adalah dengan menyiram dan membasuhnya dengan berwudhu dan solat.

Saya tidur. Biasanya setelah solat subuh, hati saya reda.
Saya menyadari dan memahami, seringkali emosi mengalahkan logika.

Kebencian bagi saya adalah kebencian yang sebentar, kemudian memaafkannya. Saya tak mau larut dalam segala pikiran negatif yang melelahkan dan merusak jiwa, hati dan pikiran.

Saya ingin menyampaikan, pada saat kini, abad milenial ini, sikap yang harus kita kembangkan adalah sikap, saling membesarkan kawan, bukan sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*