Masyarakat Menolak Lapangan Sepak Bola di Pagar oleh Sipemilik Tanah

Exif_JPEG_420

 

Padang-today.com__Polemik lapangan sepakbola Sungai Abang, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumbar, belum menemui titik terang. Rencana pemasangan pagar lapangan oleh pihak yang membeli atas suruhan Amir Hosen Datuak Mudo yang telah menjual lapangan itu, dapat tantangan dari masyarakat.

Nyaris terjadi cakak banyak antara masyarakat Lubuk Alung dan Toboh Gadang. Puluhan polisi dari Polres Padang Pariaman dan Polsek Lubuk Alung untung cepat datang, sehingga aksi adu mulut yang sempat main tangan sejumlah oknum masyarakat itu tak berbuntut panjang. Dua pemuda Lubuk Alung yang sempat terluka dilarikan ke puskesmas dekat lapangan itu.

“ Masyarakat meminta pemagaran lapangan ditangguhkan, karena mediasi dengan masyarakat belum ada. Sebab, Lapangan tersebut telah dia jual kepada masyarakat Sungai Abang  yang akan dijadikan tempat usaha perdagangan,” kata Datuak Mudo beberapa hari lalu di Lubuk Alung.

Katanya, untuk mediasi pemasangan pagar tersebut akan dilakuan. Sekiranya tidak ada jalan terbaiknya dalam masa mediasi ini, dia akan tetap memagar lapangan tersebut. Sebab,  Semuanya sudah jelas bahwa tanah tersebut sudah diperjual belikan.

“Saya sendiri yang menjual. Tak ada lagi persoalan. Jadi apa maunya masyarakat yang melarangan, saya bingung pula,” kata dia.

Ia menambahkan, secara tertulis bahwa tanah tersebut sudah dijual. Namun, dalam penjualan tersebut tidak utuh. Ada jalan alternatifnya sebagai pengganti lapangan yang disediakan di belakang AKBID Sumbar, juga dalam Nagari Sungai Abang.

Salah satu tokoh masyarakat Sungai Abang yang tidak mau lapangan tersebut dipagar, Harry Amsar mengatakan, bahwa lapangan itu bukan sekedar kebanggaan Sungai Abang. Tetapi Lubuk Alung secara keseluruhan. “Ini marwah kita. Tempat banyak aktivitas olahraga anak muda dan seluruh sekolah yang ada. Tak bisa dilakukan pemagaran secara sepihak saja,” tegasnya.

Dasar hukum kita kuat, lanjutnya,  ada bukti tertulis berupa perjanjian dari yang menghibahkan tanah ini pada 1954, dan surat pernyataan seluruh niniak mamak, alim ulama, kepala desa, KAN pada 2 Februari 1981, bahwa lapangan tak boleh ada jual beli.

“Dan lapangan tersebut digunakan untuk olahraga anak-anak Sungai Abang dan Lubuk Alung,” kata dia.

Menurutnya, berdasarkan dari perjanjian tersebut, bahwa lapangan bola ini tak boleh diperjual belikan dirasa cukup kuat untuk menuntut balik Datuak Mudo secara hukum, karena telah melakukan penjualan secara sepihak. .(tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas