Masyarakat Semakin Yakin Akan Hoax di Medsos

Padang-today.com__Media sosial ‘Medsos’ salah satu instrumen diantara sekian banyak instrumen yang mewarnai sejarah perjalan panjang demokrasi. Media sosial dimanfaatkan secara kreaktif oleh pemilih sebagai alat partisipasi politik yang baru.

Media sosial tidak terlepas dari informasi kebohongan yang susah untuk dapat dipertanggung jawaban dengan ujar kebencian yang lagi ngetren di sebut dengan ‘Hoax”. Hoax merupakan implikasi yang tidak dapat terpisahkan dari alat partisipasi politik baru yang bernama media sosial itu.

Potensi terjadinya konflik sosial-politik semakin mudah karena difasiltasi secara maya. Media sosial adalah alat yang sangat potensial untuk memperkuat sekaligus memperluas demokrasi yang mengalami krisis partisipasi.

“ Informasi-informasi melalui medsos sering kali bermunculan di masyarakat dan tentu saja belum teruji kebenaranya. Bahkan, saat ini betapa mudah sekali kita copy paste (copas) informasi tersebut,”  kata Razaswati, Relawan salah satu Paslon Pilpres 2019, Sabtu (9/3) di Pariaman.

Meski demikian, masyarakat harus bisa menahan diri dan memilah-milah informasi dari Medsos tersebut. Ia menyayangkan, sikap masyarakat yang langsung menyebarkan informasi tanpa dicari tahu kebenaranyanya.

Bahkan, dari penyebaran informasi yang belum tentu benar tersebut seseorang yang tadinya bukan ustad dapat menjadi ustad dadakan. “ Repotnya misalnya kalau kita iseng kutip-kutip kata kata mutiara dan kita tulis adalah (dari) HR. Bukhori maka akan disebut HR Bukhori,” kata dia.

Masyarakat, lanjutnya, secara tidak sadar juga sering mengutip informasi dari situs ‘abal-abal’. Bahkan, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi kerap mengutip dari situs ‘abal-abal’ itu.

Pada kesempatan yang sama, Zulkanareini (52) salah satu pengamat  Pilpres untuk Pariaman mengatakan, komunikasi publik masyarakat sudah tidak dapat terbendung jumlahnya. Karena itu muncul akun-akun di medsos yang tidak bertanggung jawab.

Ia meingatkan, agar semua tokoh poltik agar dapat menjaga lisan. “ Kita harus terus meningatkan melalui diskusi diskusi terbuka, baik itu di mimbar bebas maupun di warung-warung demokrasi dadakan ini semua tokoh poltik dan agama agar lisanya jangan ceroboh, atau ugal-ugalan,” tandasnya menghakiri.  (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas