Memaknai Hidup Saltia Aufari CRM Dompet Dhuafa Singgalang

teropong-(8)

Padang, PADANGTODAY.com-Mencari makna hidup adalah salah satu bahasan penting yang selalu dibicarakan oleh para pemberi motivasi (trainer). Bahkan ditekankan untuk memiliki makna hidup, karna dengan memiliki makna hidup itulah kita bisa hidup dengan lebih bermakna dan lebih termotivasi, begitu juga dengan bekerja. Bekerja adalah fitrah bagi manusia untuk bisa hidup dan menghargai kehidupan yang dikaruniai Allah. Tanpa kerja mungkin kita tak merasakan hidup yang sesungguhnya. Karena, hidup hanya akan bermakna jika diwarnai dengan kerja. Oleh karena itu, kalau kita bekerja keras, saya pikir, itu bukanlah jalan yang salah. Bahkan, kita mesti mengamini kalau orang bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik atau lebih sukses. Tapi, tentu saja hidup tak seharusnya diisi dengan kerja dan kerja melulu.

Pada suatu titik tertentu mungkin tiba-tiba kita bertanya kepada diri sendiri, untuk apa sesungguhnya saya bekerja tanpa henti seperti ini? Apakah dari situ saya akan mendapatkan ‘sesuatu’ yang saya cari? Dan, benarkah ‘sesuatu’ yang saya cari itu dapat membahagiakan saya (dan orang lain)? Pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu membuat kita mengevaluasi kembali atas apa yang kita lakukan selama ini. Kapankah kebahagiaan di dapatkan kalo kita hanya memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki, jadilah pribadi yang selalu bersyukur dengan rahmat yang sudah kita miliki. Karna hidup hakikatnya adalah waktu yang dipinjamkan dan harta adalah berkat yang dipercayakan dan semuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Ketika kita memiliki harta yang berlebih sudah sebaiknya kita berbagi dengan orang yang membutuhkan yakni menyisakan sebagian harta untuk diberikan kepada kelompok tertentu yakni mustahik (penerima manfaat). Apalagi jika kita melihat kehidupan di tahun 2015 ini, bahan pokok menanjak naik, ketika harga mulai naik untuk normal kembali butuh waktu yang lama, krisis ekonomi kembali terjadi. Sebagaimana diketahui bahwa krisis ekonomi yang melanda negara sejak tahun 1997 yang lalu menimbulkan berbagai masalah ekonomi dan sosial yang saat ini masih kita hadapi dalam situasi yang lebih kompleks.

Jumlah rakyat di bawah kemiskinan terus bertambah. Sehingga berbagai dampak dari kemiskinan itu makin terasa dari hari kehari. Imbas kemiskinan sangat terasa dari berbagai aspek baik itu pendidikan, sosial, dan politik. Begitu juga mustahik, semakin hari semakin banyak mustahik yang mengeluh tentang kehidupan mereka. Mereka hanya memikirkan kehidupan hari ini, esok ya esok saja dipikirkan, yang penting bisa makan dan hidup hari ini. Sifat dari mustahik ini berbeda-beda. Ada mustahik yang ketika menerima bantuan mereka enggan untuk meminta bantuan kembali, mereka berjuang untuk memperoleh uang dengan hasil kerja keras. Bantuan yang mereka dapatkan dipergunakannya untuk modal usaha. Dari sanalah mereka memiliki tambahan biaya hidup dan pendidikan anak. Namun, Fenomena akhir-akhir ini yang sering ditemui adalah mustahik yang meminta bantuan kepada lembaga sosial untuk pembayaran biaya pendidikan sekolah anak. Ketika ditemui malah ada beberapa mustahik yang memohon agar bantuan segera dikeluarkan namun persyaratan yang diminta belum lengkap, ketika diminta persyaratan kembali banyak alasan, malahan persyaratan mutlak yakni kepala keluarga masih merokok. Padahal mereka tau apa dampak dari merokok untuk kesehatan belum lagi uang yang dipergunakan untuk rokok, jika setiap hari sebungkus dan di kalkulasikan sebulan, itu sudah bisa untuk membayar spp bulanan dan sering dari mereka mengeluh dengan kehidupan saat ini. Kebahagiaan tidak akan di dapat jika kita hanya bisa mengeluh dan berputus asa.

Kapankah kebahagiaan itu didapatkan kalo kita hanya selalu memikirkan apa yang belum terjadi, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki. Jadilah Pribadi yang selalu bersyukur dengan Rahmat yang sudah kita miliki. Bersyukurlah atas nafas yang kita miliki, pekerjaan dan keluarga yang kita miliki. Bersyukur dan bersyukur dalam segala hal.
Segeralah berlomba dalam kebaikan dimulai dari sekarang ini.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas