Membangun Tak Semudah Berbicara

Oleh:
RIZA FALEPI

Membangun Tak Semudah Berbicara

Membangun Tak Semudah BerbicaraBeberapa tahun lalu kami membangun kanopi di tengah Pasar Payakumbuh dengab tujuan menyelesaikan persoalan sempitnya ruang untuk kuliner malam bagi pedagang kuliner Payakumbuh. Selain itu juga dirasa perlu menghubungkan pasar yang dibelah jalan agar ketika hujan dan panas tidak masalah bagi pengunjung pasar.

Waktu itu kami dicaci habis habisan, termasuk oleh sebagian pedagang pasar. Namun alasannya kadang bagi kami kurang masuk akal atau dari segi kebijakan tidak bisa dijelaskan penolakan mereka. Bahkan ketika waktu itu kami mau maju Pilkada, salah satu calon berkomentar bahwa kalau dia menang akan dibongkar lagi kanopi ini, sambil tidak sadar dia memperlihatkan ketidaktahuannya tentang aturan karena sesuatu yang sudah dibangun ada usia pakai bangunan.

Hari ini kanopi itu dinikmati semua pihak, dan ketika saya tanya beberapa pedagang pasar mereka berkomentar positif, meski sebelumnya mereka tidak menyetujui.

Kemudian kita juga membangun dan membebaskan beberapa tanah di Payakumbuh. Perencanaan dan kegiatan dijalankan sesuai aturan yang berlaku. Kemudian ada yang mengadukan kami ke KPK, katanya kami korupsi. Sampai hari ini kami bingung sebelah mana korupsinya. Bahkan untuk sekedar kami tidak memakan dan meminta apapun kepada mereka yang bekerja.

Kami melihat bahwa saat ini sudah saatnya kita untuk lebih baik dan mulai menjauhi perilaku yang masa lalu dianggap biasa saja, terutama dalam memandang kegiatan pengadaan di pemerintah. Dulu memang setiap proyek katanya ada jatah kepala daerah, jatah kawan-kawan kepala daerah dan jatah lain lain yang merasa berhak punya jatah.

Sekarang perlu bagi kita untuk menjaga setiap rupiah uang rakyat ini bisa dimaksimalkan bagi pembangunan kota kita. Kita perlu memulai sikap membangun yg lebih baik, transparan dan akuntabel.

Kami walaupun sudah mencoba demikian masih ada yang menuduh kami koruptif dan mengadukan ke KPK. Orang takut dengan KPK apabila dia korupsi, tapi kalau tidak korup tentu KPK lebih menyasar kepala daerah lain terutana yg punya mobil-mobil mewah seperti ferrari yang nggak jelas asalnya.

Setelah pengaduan itu seolah-olah yang mengadukan bangga dengan yang dikadukannya padahal dia tidak tahu apa yang dikadukannya. Kita yang di warung atau di lapau ikut pula mengejek walikota tanpa tahu apa yang diejek atau cemeeh. Kadang ditanya benar juga nggak tahu, yang penting sudah ikut memaki pak wali dulu.

Kita dengar di luar isunya karena yang bersangkutan tidak dapat proyek dari pak wali padahal udah mendukung pak wali dulu waktu Pilkada. Kalau mindset kita begini tentu hancurlah kita semua, percuma saja kita bernegara karena tujuan akhir hanya bagi-bagi “ghonimah”. Rakyat yang utama harus kita urusi, bisa bisa tidak ada yang tersisa buat mereka. Orang seperti ini kadang kami malas melayaninya, tapi kalau sudah keterlaluan bisa juga kita selesaikan secara hukum yang berlaku.

Beberapa hari yang lalu kami dapat surat yang bunyinya menolak pembangunan normalisasi sungai Batang Agam. Kami heran karena bahasa yang disampaikan sangat berbeda dengan realita di lapangan. Dia juga mengatasnamakan warga di sekitar Batang Agam, namun tidak ada surat kuasanya. Lebih lucu lagi orang ini mengaku Doktor, dan kadang dalam hati kami bertanya tanya apa sebenarnya mau orang ini. Tuntutannya, bahwa kami sudah merusak lingkungan, memberi ganti tanah tidak wajar, merusak sawah sehingga mengurangi produksi pangan, dan tidak memiliki manfaat apapun untuk wisata.

Jujur kami malas menanggapi yang begini. Yang jelas kami tentu tujuan utama pembangunan ini agar nanti orang tidak merusak sungai dan tidak menjadi kawasan kotor seperti kali ciliwung yang sangat tidak elok dilihat, tentu dengan cara membuat sungai itu ditata lebih rapi.

Kemudian sawah yang dimaksud juga sudah tidak terlalu produktif karena bukan sawah dengan irigasi teknis, itu juga hanya sebagian kecil yang terkena proyek. Kita sudah memiliki kawasan sawah yang dilindungi Perda dan tidak boleh dirobah jadi perumahan atau dibangun di atasnya. Tentu sawah tersebut kita buat dengan dukungan irigasi teknis yang baik dan dalam pengawasan Pemda agar tetap berproduksi dengan baik.

Kemudian tujuan wisata tentu kami belum berpikir apakah ke depan ini akan dijadikan pusat wisata atau tidak berhubung kawasannya begitu luas dan kami belum saatnya berpikir semuanya. Kami fokus dulu proyek ini selesai. Bahwa di sini ada jalan, jogging track, sarana olah raga, kami rasa ini kebutuhan warga kota yg perlu kita akomodir.

Semua usaha ini oleh sang Doktor dianggap tidak benar. Setengah mati kita bekerja dan mencarikan anggarannya namun ini semua dianggap tidak benar, mungkin berikanlah kami pencerahaan agak sedikit biar tahu apalagi yang harus kami perbuat demi kebaikan warga kota.
Sebentar lagi kita diminta warga kota membangun mesjid raya. Tadinya di Koto nan Gadang, namun bisik bisik beberapa anggota dewan lebih setuju dibangun di Koto nan Ampek. Bagi kami tidak masalah sepanjang itu untuk kebaikan bersama. Namun kalau kita ikuti alur berpikir Doktor ini tentu kami tidak akan membangun mesjid raya tersebut.

Pernah juga kami memberikan ijin pada seseorang untuk usahanya di Payakumbuh. Karena usahanya cukup besar maka proyek ini harus melalui proses perijinan yg agak panjang tapi tidak terlalu lama. Tapi mungkin yang punya proyek tidak sabar sehingga kirim duit ke saya segepok, dan minta ijin dipercepat.

Saya tolak uangnya dan saya sampaikan bahwa ijin anda ini akan selesai tepat waktu karena kami melayani semuanya sesuai dengan tarif, waktu dan proses yg telah ditentukan. Semua transparan dan ijin akan selesai sesuai jadwalnya.

Sekarang bisnisnya sudah berjalan dengan baik. Melihat uang yang diantarkan begitu, tidak semua orang bisa menolaknya, namun kami berusaha untuk komitmen dengan apa yang sudah digariskan dalam perijinan. Semoga kita tetap istiqomah untuk itu.

Hari ini kita sudah cukup tinggi porsi pembangunan belanja infrastruktur kita. Jumlahnya sudah jauh melebihi belanja ketika kami baru menjabat walikota. Tidak mudah untuk menaikkan porsi belanja infrastruktur kita tapi alhamdulillah kita bisa.

Bahkan kita juga masih bisa memberikan tunjangan yang besar kepada pegawai sehingga semua senang. Hal ini sebenarnya tidak mudah karena kalau belanja infrastruktur naik biasanya yang korban tunjangan pegawai jadi kecil tapi kita bisa menaikkan keduanya. Padahal kita bukan daerah kaya yg punya minyak, tambang dll.

Namun dengan pemikiran optimalisasi anggaran yang kadang rumit akhirnya bisa kita raih. Dan kita dianggap pemerintah pusat sebagai salah satu pengelola pemerintahan terbaik, dan semoga bisa kita pertahankan.

Jelas keadaan ini semua tidak mudah, namun dengan kesabaran yang tinggi tetap kita berjuang untuk mewujudkan pembangunan kebih baik. Tentu itu tidak semudah yang kita ucapkan. Semoga kota kita lebih baik dan lebih maju. Amiin.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*