Merasa Tidak Puas Atas Putusan Hakim, Masaru Melalui Penasehat Hukumnya Ajukan Banding

Palu Hakim Kota Pariaman atas Masaru Kawarda.

Palu Hakim Kota Pariaman atas Masaru Kawarda.

Pariaman, PADANGTODAY.com-Rabu 27 Mei 2015 mendatang sidang banding penyelundupan sabu seberat 2,7 kilogram akan digelar di Pengadilan Negeri Pariaman. Terdakwa Masaru Kawarda ditangkap di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman pada November 2014 lalu dan di vonis seumur hidup. Masaru (73) yang merupakan warga negara Jepang ini menolak vonis penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh majelis hakim pengadilan Negeri Pariaman Sumatera Barat, dalam sidang vonis Rabu (20/5/2015) yang lalu. Merasa tidak puas dengan keputusan hakim, melalui penasehat hukumnya Masaru mengajukan banding .

Vonis majelis hakim Jon Efereddi (ketua) serta Dedi Kuswara dan Ari Kurniawan tersebut lebih tinggi dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jaksa Penuntut Umum (JPU) Amrizal dan Budi Prihalda, 16 tahun penjara.

Kuasa Hukum Mark, Syusvida Lastri mengatakan, putusan hakim lebih tinggi dibandingkan dengan tuntuttan hakim. Menyikapi putusan tersebut, dia dan kliennya mengajukan banding. “Kita akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Klien saya tidak terima dan akan segera banding,” ujarnya.

Syusvida Lastri mengatakan, sidang vonis tersebut tidak dihadiri oleh keluarga terdakwa. Meski Mark memiliki dua anak, tetapi setelah dihubungi melalui email, tidak ada respon dari keluarga.
“Yang datang hanya konsulat dari Jepang. Kami sudah berupaya menghubungi melalui email,” ujarnya.

Mark duduk di depan hakim mengenakan baju kaos biru dan didampingi seorang penerjemah. Beberapa media Jepang tampak hadir dalam persidangan tersebut. Sebelum sidang dimulai, Mark memperlihatkan tulisan selembaran dalam berbahasa Jepang dan Indonesia.

Dalam tulisan salah satu isinya adalah pernyataan dirinya akan melakukan donor organ tubuhnya.
Mark melalui kuasa hukum mengajukan banding atas putusan tersebut. Sementara JPU mengaku masih berpikir atas putusan tersebut.

Dalam dakwaan JPU, terdakwa dijerat dengan pasal 112 ayat (2), pasal 113 ayat (2), pasal 114 ayat (2) dan pasal 115 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan maksimal ancaman hukuman mati.

Dalam dakwaan terdakwa mengaku tertangkap di Bandara International Minanggkabau (BIM) dengan tuduhan melawan hukum membawa narkotika seberat 2,7 kilogram jenis shabu.

Dijelaskan, Masaru terdakwa sekitar tanggal (18/4/2014) dihubungi melalui telephone oleh Edward Mark (masuk dalam daftar pencarian orang/DPO), meminta terdakwa untuk berangkat ke Macau dengan diberi uang sebesar US $ 500 kepada terdakwa. Kemudian pada hari Rabu tanggal 19/10/2014 terdakwa berangkat dari Nagoya menuju Macau. Setibanya di Macau terdakwa menginap satu hari. Lalu terdakwa didatanggi oleh orang suruhan Edward Mark (DPO) yang mengaku bernama Sherly (DPO) yang tidak pernah ia kenal sebelumnya dikamar hotel, terjadilah saling komunikasi antara terdakwa dengan shely. Sehingga terdakwa meminta uang kepada sherly sebesar US$ 200 untuk dibawa ke Padang, setelah itu terdakwa melanjutkan perjalanannya menuju Padang.

Nah, setibanya di Bandara BIM pukul 08.00 WIB pada tanggal 22/11/2014 terdakwa dihadang oleh petugas operator X-Ray. Bahwa tas sandang bewarna hitam merk the Nort Face terlihat berbungkus plastic hitam didalamnnya yang berisikan bongkahan Kristal yang warna bening, diduga Narkotika jenis Shabu.

Setelah itu, terdakwa diamankan oleh pihak Polri. Tak beberapa lama pihak Polri Cabang Medan mengeluarkan hasil Puslabfor, bahwa barang bawaan terdakwa memang mengandung Metafetamina.

Atas perbuatan terdakwa tersebut, terdakwa dihadapan dengan majelis hakim Pariaman untuk menuntut perbuatanya yang telah melanggar hukum pidana dalam pasal 113 ayat (2) Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Tepatnya pada 20/5/2015 sidang vonis Masaru digelar di Pengadilan Negeri Pariaman. Setelah JPU membacakan vonis, Masaru yang didampinggi pengacara Syusvidalastri ini SH ini merasa keberatan dengan vonis yang diberikan kepadanya.

Masaru yang berkebangsaan Jepang ini mengaku agak frustasi dengan ancaman hukuman yang diberikan kepadanya.

“Indonesia no good, Indonesia no good” berkali kali ia ucapkan ketika meninggalkan persidangan.(eri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*