Mukhlis R : Pariaman dan Sejarah Masa Lampau

Walikota Pariaman, Mukhlis R berfoto bersama usai pembukaan seminar sejarah Pariaman dan kepahlawan H.Bgd Dahlan Abdullah

Walikota Pariaman, Mukhlis R berfoto bersama usai pembukaan seminar sejarah Pariaman dan kepahlawan H.Bgd Dahlan Abdullah

Advertisements

Pariaman, PADANGTODAY.com – Walikota Pariaman H Mukhlis R menyatakan, sejarah adalah catatan peristiwa masa lampau tentang kehidupan manusia sebagai mahluk sosial. Catatan masa lampau tersebut biasanya berisi peristiwa, tindakan dan pelaku sejarah atau orang yang membuat sejarah (man makes history).

“Jika peristiwa masa lampau atau peristiwa sejarah hanya berupa catatan atau hanya berupa cerita lisan (tradisi lisan), maka sejarah akan kehilangan arti makna dan fungsinya,” kata Mukhlis R saat sarasehan sejarah Pariaman dan kepahlawanan H Bgd Dahlan Abdulah, di Aula Balaikota Pariaman, Selasa (26/08).

Katanya, peristiwa masa lampau biasanya berupa catatan bisu tentang kronologis kejadian atau peristiwa, sebab peristiwa sejarah harus di pelajari dengan benar, sehingga bermakna dan berfungsi, sehingga peristiwa sejarah akan menjadi guru bagi generasi selanjutnya.

Tentang sejarah Pariaman, dari literatur yang ada, catatan tertua Pariaman pertama kali ditemukan oleh Tome Pires pada abad ke 16. Tome Pires yang hidup antara tahun 1446-1524, adalah seorang pelaut yang bekerja di kawasan Asia untuk kerajaan Portugis, pada awal abad ke 16.

Pada tahun 1512, dalam bukunya yang berjudul suma oriental, Tome Pires mencatat bahwa telah ada lalu-lintas perdagangan antara India dengan beberapa kota pelabuhan di sepanjang pantai barat pulau Sumatera, seperti Pariaman, Tiku dan Barus.

Di dalam literatur tersebut, disebutkan dua sampai tiga kapal dari Gujarat mengunjungi pelabuhan Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli yang dibarter dengan emas (dalam jumlah banyak), gaharu, kapur barus, sutera, lilin, dan madu. Tome Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman juga melakukan perdagangan kuda yang dibawa dari daerah Batak secara besar-besaran dengan Tanah Sunda.

Namun, Kota Pariaman yang pada awalnya merupakan Ibukota Kabupaten Padangpariaman, kala itu, merupakan sebuah kecamatan, dengan nama Kecamatan Pariaman. Pada tanggal 29 Oktober 1987 Pariaman resmi menjadi Kota Administratif. Peresmian dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam.

Sekaligus melantik Bapak Adlis Legan sebagai Walikota Administratif Pariaman yang pertama. Selama 15 tahun perjalanan Pariaman sebagai Kota Administratif, telah dipimpin oleh 4 orang walikota administratif, yakni Adlis Legan, Martias Mahyuddin dan Firdaus Amin.

Tanggal 2 Juli 2002 Kota Pariaman resmi terbentuk sebagai kota otonom berdasarkan Undang-Undang nomor 12 tahun 2002 tanggal 10 April 2002 tentang pembentukan Kota Pariaman di Propinsi Sumatera Barat.

Peresmian pembentukan Kota Pariaman dilakukan bersamaan dengan pembentukan kota dan kabupaten baru hasil pemekaran oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno atas nama Presiden RI, yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 2 Juli 2002.

Mukhlis menambahkan, diskusi penggalian sejarah Pariaman ini sangat penting dilaksanakan karena dapat menumbuhkan dan meningkatkan pemahaman kesadaran sejarah yang bermuara pada tumbuhnya sikap rasa memiliki terhadap daerah.

“Pembangunan yang kita laksanakan di Kota Pariaman memerlukan semangat kecintaan kepada daerah serta semangat kebersamaan dan persaudaraan yang dapat menumbuhkan harapan-harapan pencerahan bagi daerah, untuk membangun Kota Pariaman yang lebih baik,” ujarnya.

Dari pengalaman banyak daerah-daerah selama ini, semakin tua usia daerah maka menjadi suatu daya tarik bagi orang untuk berkunjung ke daerah tersebut, terutama terkait dengan warisan kekayaan budaya yang berada di daerah serta peninggalan masa lalu yang bermanfaat untuk aspek penelitian sejarah.

Hal ini sejalan dengan visi pembangunan Kota Pariaman periode 2013-2018 mewujudkan kota ini sebagai daerah tujuan wisata dan ekonomi kreatif berbasis lingkungan, budaya dan agama.

Apalagi jika sejarah Pariaman dimundurkan ke belakang, maka pada zaman dahulu Pariaman telah dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan (entreport) di Pantai Barat Sumatera sejak abad ke-16.

Relevansi sejarah masa lampau Pariaman dengan visi pembangunan jangka panjang daerah yang akan dicapai pada tahun 2023, yaitu mewujudkan Kota Pariaman sebagai pusat perdagangan dan jasa di pesisir barat Pulau Sumatera, kiranya memiliki relevansi yang sangat tepat.

“Mampu kah kita mambangkik kembali batang tarandam itu pada tahun 2023 mendatang, jawabannya tentu bergantung dari apa yang kita lakukan pada saat ini dan apa yang akan kita wariskan pada generasi Pariaman di masa yang akan datang,” ujarnya.

Kupas Sejarah H Dahlan Abdullah

Sejarah H Bgd Dahlan Abdullah perlu digali untuk generasi muda dan kenang-kenangan bagi Kota Pariaman. Apalagi dari kiprah perjuangan yang telah didharma bhaktikan seorang H. Bgd Dahlan Abdullah semasa hidupnya untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta, kiranya layak untuk beliau dianugerahkan gelar kepahlawanan oleh negara.

Pemerintah Kota Pariaman siap memberikan fasilitasi dan dorongan untuk pengusulan alm H Bgd Dahlan Abdullah, seorang putra Pariaman, sebagai pahlawan nasional. Sebagai penghormatan atas jasa-jasa beliau, Pemerintah Kota Pariaman siap memfasilitasi untuk pengusulan nama salah satu jalan utama di Kota Pariaman dengan nama H Bgd Dahlan Abdullah.

“Dengan pemberian nama jalan, nama beliau, seluruh komponen bangsa, khususnya warga Pariaman, senantiasa mengenang dan merenungkan semangat juang yang telah ditunjukkan oleh beliau dalam menegakkan NKRI,” akhirnya. (nur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*