Muslim Kasim Gelorakan Budaya Berpantun Saat Wisuda UNP ke-101

 

Advertisements
Muslim kasim cagub berpantun.

Muslim kasim cagub berpantun.

Padang, PADANGTODAY.com-Budaya berpantun sudah hidup ratusan tahun lalu dalam tataran sosial masyarakat Minang. Namun sejak tahun 80 an, budaya berpantun secara perlahan namun pasti mulai ditinggalkan masyarakat Minang.Adat berpantun yang dahulunya menjadi payung dan tatakrama pergaulan masyarakat, kini hanya bisa dijumpai saat prosesi pernikahan saja. Itupun sudah tidak banyak lagi.

“Kita miris melihat kondisi perkembangan budaya pantun saat ini di Ranah Minang. Animo masyarakat untuk melestarikan adat berpantun ini minim sekali. Bahkan untuk prsosesi pernikahanpun tidak semua keluarga yang berhajat pernikahan memasukan adat berpantun ini dalam prosesi menyambut pengantin prianya,” ungkap Muslim Kasim, Wakil Gubernur Sumatera Barat, yang ketika menyampaikan sambutan pada Acara Wisuda UNP ke-101 di GOR UNP Sabtu, (27/9/2014) diantaranya, Pohon jati kuat kayunya, Pohon nyiur tinggi batangnya, mahasiswa rajin banyak ilmunya, mahasiswa malas banyak bohongnya.

Menurut Muslim Kasim Datuk Sinaro Basa, yang juga Ketua Umum LKAAM Kabupaten Padang Pariaman ini, Ia hampir selalu setiap memberikan sambutan membiasakan kata pembukanya dengan berpantun sebagai wujud kecintaanya terhadap Budaya Minang.

“Dengan adanya pantun saya bacakan pada sambutan saya, kita akan berusaha mengajak kembali generasi muda untuk mau belajar berpantun,” katanya.

Menurut Muslim Kasim, akibat pergaulan dan berkembangnya adat bahasa bertutur yang bebas saat ini telah membentuk karakter generasi muda menjadi liar. Para remaja tidak memiliki lagi adab sopan santun, baik terhadap sesama seusia, dengan orang yang lebih dewasa dan dengan orang yang lebih muda.

“Seenaknya saja mereka bicara, terkadang tanpa malu dan mengindahkan etika. Bahkan dengan orang tua merekapun mereka seenaknya bicara,” ungkap Muslim Kasim.

Padahal menurut Muslim Kasim, jika filosofi berpantun ini bisa ditanamkan kepada generasi muda sekarang, maka bisa diharapkan timbul etika dan estetika mereka dalam berbicara. Karena bahasa menunjukan karakter pribadi, keluarga, daerah dan bangsa.

“Pantun itu singkatan dari sopan dan santun. Orang yang memahami jiwa pantun, maka bisa kita lihat dalam pergaulanya sehari-hari. Yakni sopan dan santun,” tambahnya. (dil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*