Obligasi 1946 Janji tinggal Janji

Advertisements

Padang-today.com – Obligasi adalah instrumen keuangan yang disebut sekuritie, pemegang obligasi adalah semata merupakan pemberi pinjaman atau kreditur kepada penerbit obligasi. Obligasi juga biasanya memiliki suatu jangka waktu yang ditetapkan di mana setelah jangka waktu tersebut tiba maka obligasi dapat diuangkan. Terkecuali pada obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah Inggris yang disebut gilts yang tidak memiliki jangka waktu jatuh tempo.

Obligasi adalah suatu istilah yang digunakan dalam dunia keuangan yang merupakan suatu pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi beserta janji untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya kelak pada saat tanggal jatuh tempo pembayaran.

Ketentuan lain dapat juga dicantumkan dalam obligasi tersebut seperti misalnya identitas pemegang obligasi, pembatasan-pembatasan atas tindakan hukum yang dilakukan oleh penerbit. Obligasi pada umumnya diterbitkan untuk suatu jangka waktu tetap di atas 10 tahun. Misalnya saja pada Obligasi pemerintah Ameriaka yang disebut “U.S. Treasury securities” diterbitkan untuk masa jatuh tempo 10 tahun atau lebih. Surat utang berjangka waktu 1 hingga 10 tahun disebut “surat utang” dan utang di bawah 1 tahun disebut “Surat Perbendaharaan.

Di Indonesia, Surat utang berjangka waktu 1 hingga 10 tahun yang diterbitkan oleh pemerintah disebut Surat Utang Negara (SUN) dan utang di bawah 1 tahun yang diterbitkan pemerintah disebut Surat Perbendaharan Negara (SPN).

Obligasi secara ringkasnya adalah utang tetapi dalam bentuk sekuriti. “Penerbit” obligasi adalah si peminjam atau debitur, sedangkan “pemegang” obligasi adalah pemberi pinjaman atau kreditur dan “kupon” obligasi adalah bunga pinjaman yang harus dibayar oleh debitur kepada kreditur. Dengan penerbitan obligasi ini maka dimungkinkan bagi penerbit obligasi guna memperoleh pembiayaan investasi jangka panjangnya dengan sumber dana dari luar perusahaan.

Baru baru ini, salah satu yang di percaya oleh ahliwaris pemegang obligasi dengan nomor seri 370433, 370432, 370431, 370430, 370429, 370428 atas pinjaman nasional oleh presiden RI dengan Undang-undang tertanggal 29 April 1946 pada nomor 4, bahwa negara terhutang kepada pemegang obligasi senilai Rp100.

Orang keprcayaan pemegang ahliwaris yang tidak mau menyebutkan namanya itu mengatakan kepada www.padang-today.com, Senin, (02/03) di kediamanya, bahwa obligasi itu masih tersimpan rapi dan susah untuk di uangkan. Disebabkan, tidak mempunyai jaringan untuk melakukan pencairan Obligasi tersebut.

Ia mengatakan obligasi itu tercatat di arsip nasional RI, bahkan dibubuhi dengan stempel berlogo.  Hingga kini, menurut pengakuan orang kepercayaan pemegang obligasi itu, surat utang negara tersebut sangat sulit di uangkan, bahkan tidak dapat uangkan.

Katanya, pada saat pengurusan obligasi itu ia telah memeberikan kepercayaan kepada seseorang. Namun yang ia dapati adalah harapan kosong dengan janji-janji palsu dan berbekalan segudang hayalan saja.

Tidak hanya itu, obligasi tersebut seakan akan tidak dapat diuangkan, padahal untuk pengurusan pencairan obligasi itu, pemegang obligasi telah banyak mengeluarkan uang banyak dari koceknya.

Pada beberapa negara, istilah “obligasi” dan “surat utang” dipergunakan tergantung pada jangka waktu jatuh temponya. Pelaku pasar biasanya menggunakan istilah obligasi untuk penerbitan surat utang dalam jumlah besar yang ditawarkan secara luas kepada publik dan istilah “surat utang” digunakan bagi penerbitan surat utang dalam skala kecil yang biasanya ditawarkan kepada sejumlah kecil investor.

Tidak ada pembatasan yang jelas atas penggunaan istilah ini. Ada juga dikenal istilah “surat perbendaharaan” yang digunakan bagi sekuriti berpenghasilan tetap dengan masa jatuh tempo 3 tahun atau kurang .

Obligasi memiliki risiko yang tertinggi dibandingkan dengan “surat utang” yang memiliki risiko menengah dan “surat perbendaharaan” yang memiliko risiko terendah yang mana dilihat dari sisi “durasi” surat utang di mana makin pendek durasinya memiliki risiko makin rendah. (SgR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*