Opini: Padang Siontah yang Terlupakan, Tidak Satupun Tuan Luak Limo Puluah Peduli Sejarah Padang Siontah

Oleh Saiful Hadi AMd. Datuak Bagindo Bosa Nan Kayo

Advertisements

Kalau kita berani mengaku sebagai orang asli Luak Limo Puluah, jangan sekali-kali tidak tahu ataupun tidak pernah mendengar nama sebuah daerah “dari niniak turun ka mamak, dari mamak turun kamanakan, nan sabarih indah buliah hilang, nan saganggam indak buliah tingga.

Sebenarnya para niniak moyang kita sudah meninggalkan sejarah yang sangat fundamental bagi anak-cucu mereka di kemudian hari dan sekaligus sebagai titik tolak pengambilan dasar-dasar undang dan perundangan adat, serta pemetaan wilayah yang berdaulat dalam adat disebut Barih Balabeh, suatu dareah atau nagari, serta Barih Balabeh Luak masing-masingnya.

Padang Siontah, walau kita tidak pernah sampai di lokasi tersebut, namun bagaimana jua para tetua adat ataupun para orang tua pasti sering bertutur dengan anak kamanakan di kala waktu-waktu ada pertemuan kaum yang mengisyaratkan keberadaan Alam minang Kabau secara keseluruhan maupun kebaradaan Luah nan Bungsu atau sering kita sebut Luah Limo Puluah Koto.

Konon menurut Tutua nan Batarimo Warih nan Bajawek (tutur yang didapat, waris yang diwarisi) tentang cancang latiah niniak moyang kita sampai saat ini.

Seperti kita ketahui bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah sebagai titk tolak kebaradaan dengan perkembanagn kebudayaan di suatu bangsa itu sendiri. Seperti halnya Negara kita Republik Indonesia, berapa anggaran Negara yang diproyeksikan untuk segala bentuk kegiatan yang bernuansa mengingat perjuangan bangsa ini baik itu untuk para pelaku sejarah, maupun simbol-simbol sejarah yang berbentuk monument dan sebagainya  bahkan untuk para tokoh para palaku sejarah yang sangat menonjol, Negara memberikan berbagai bentuk kopensasi kehidupan pada mereka hingga akhir hayat.

Dan bagi Luak Limo Puluah atau Kabupaten Limapuluh Kota saat ini, pemerintah pusat sudah menampakkan perhatian yang cukup serius dalam hal pengakuan sejarah, daerah ini dijadikan salah satu daerah yang sangat penting dalam perjuangan melawan panjajah dan menegakkan NKRI. Para palakunya banyak putra yang berasal dari daerah Luak nan Bungsu ini.

Saat ini pemerintah pusat sudah menggelontorkan dana yang tidak sedikit jumlahnya untuk  membangun tugu perjuangan di Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh yang sekarang masih dikerjakan.

Dan kalau kita bertitik tolak dari hal yang serupa yang bangsa Indonesia merdeka pada tahun 1945 dan sebagai kita anak Nagari dalam Luak Limo Puluah melihat pembangunan tugu PDRI itu sangatlah kita apresiasi. Namun hal ini sangat berbanding terbalik dengan sejarah keberadaan Luak Limo Puluah, karena jauh sebelum adanya NKRI yang kita bangga-banggakan saat ini bahwa Luak Limo Puluah sudah lebih dari satu abad keberadaannya kalau dibandingkan dengan NKRI ini yang konon kebedaannya seiring dengan keberadaan Kerajaan Minangkabau yang diperkirakan oleh para ahli sejarah lebih kurang abad ke-6 Masehi dengan wilayah teritorialnya adalah Luak dan Rantau dengan sebutan Luhak Bapanghulu Rantau nan Barajo (Luak Tanah Datar, Luak Agam dan Luak Limo Puluah, serta ranataunya sampai ke daerah Malayu sana).

Pada saat ini sudah menjadi Negara yang sedang berkembang menuju negara maju yang ditopang dengan kemajuan teknologi modern.

Konon menurut Warih nan Bajawek Tutua nan Batarimo bahwa asal nama dari Luak Limo Puluah adalah semula berawal dari turunnya Niniak atau Panghulu dengan pengikutnya sebanyak Limo Puluah dari Pariangan Padang Panjang menuju arah dari utara Gunung Marapi. Mereka yang turun itu menuruni lurah dan mendaki bukit yang sangat melelahkan  sehingga sampailah mereka pada saat itu di sebuah kawasan yang cukup luas dan datar yang tidak mereka ketahui nama daerah saat itu.

Apabila  ada di antara mereka yang bertanya di manakah dan apakah nama daerah ini, maka dengan spontan jawabannya adalah “antalah”. Di sanalah mereka beristirahat dan bermalam untuk beberapa hari sambil memikirkan ke arah mana lagi rombongan ini akan dibawa.

Namun setelah rasa penat sudah hilang, serta pemikiran untuk melanjutkan perjalan mencari daerah baru pun akan dilanjutkan, sehingga dikumpulkanlah semua rombongan supaya tidak ada yang tertinggal dan supaya semuanya tahu arah mana yang akan dituju. Akan tetapi setelah berkumpul ternyata rombongan yang jumlahnya semula sebanyak Limo Puluah, tinggal hanya 45 orang dan spontan sesama mereka saling bertanya ke mana yang lima orang lagi.

Pertanyaan itu selalu dijawab dengan kata “antalah” yang mengisyaratkan bahwa tidak satu orang pun tahu ke mana lima orang pengikut rombongan mereka itu menghilangnya.

Sedari awal kedatangan mereka di tempat beristirahat itu yang selalu mempergunakan kata-kata antalah, maka kawasan tempat beristirahatnya Niniak nan Limo Puluah itu disebut Padang Siontah yang sekarang diperkirakan terletak dalam Kenagarian Situjuah Batua, Kecamatan Situjuh Limo Nagari dan Kanagarian Koto Tangah Batu Hampa, Kecamatan Akbiluru  sekarang.

Karena lima dari mereka tidak tahu entah ke mana, maka keserluruhan mereka membagi wilayah untuk mencari teman mereka yang hilang tersebut dengan perjanjian apabila sudah ditemukan atau ada kabarnya, maka disamapaikan pesan berantai kepada sesama mereka yang 45 orang ini.

Dari penyebaran Niniak nan 45 orang ke berbagai arah dalam rangka mencari sanak mereka yang berlima itu, maka dengan sendirinya mereka telah menemukan tempat atau daerah untuk mereka masing-masing yang akan dijadikan tempat menetap yang sekarang telah menjadi Nagari-Nagari asal di Luak Limo Puluah.

Dalam perjalanan zaman kian berlalu, maka diketahui belakangan bahwa Niniak nan Balimo yang hilang pada saat di Padang Siontah ternyata sudah menetap di daerah Kuok, Bangkinang, Salo, Rumbio Aie Tirih yang terkenal dengan pantun Sasuok Indak Kanyang, Sapiriang Indak Habih. Kelima daerah ini sekarangh sudah menjadi daerah teritorial Kabupaten Kampar dalam Provinsi Riau.

Kira-kira itulah sekelumit tentang asal-usul nama dari Padang Siontah yang konon ceritanya menjadi cikal bakal nama Luak nan Bunggsu ini atau sering disebut Luak Limo Puluah. Akan tetapi sekarang daerah itu boleh dikatakan nagari antah-barantah yang belum pernah mendapatkan perhatian dari penyelenggara pemerintah, baik daerah ini maupun tingkat provinsi dan pusat.

Kalau tingkat pusat tidak ada perhatiam pada Padang Siontah sangatlah logis dan karena pusat mungkin tidak mengetahui asal-muasal ceritanya. Namun yang kita sayangkan adalah Pemerintah Propinsi Sumatera Barat yang membawahi langsung Kabupaten Lima puluh Kota dan kota Payakumbuh atau daerah Luak nan Bungsu ini.

Sesungguhnya yang paling dan harus bertanggung jawab itu adalah Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dan Pemerintah Kota Payakumbuh, serta para tokoh masyarakat dan tokoh adat, serta para petinggi lainnya ditambah dengan tokoh sejarah dan budayawan untuk membicarakan, menkaji, memperhatikan, memaparkan dan mencari tingkat kebenaran cerita ini, sehingga kita sebagai anak Nagari yang berasal dari Luak Limo Puluah ini tidak akan kehilangan suluah dikemudian harinya.

Seperti kita ketahui beberapa dekade ini ada sebagaian tokoh adat dan masyarakat budaya yang secara simultan pernah menggelambungkan persoalan ini pada Pemerintah Limapuluh Kota, baik itu disampaikan dalam forum-forum resmi ataupun pembicaraan santai di beberapa tempat pertemuan, baik itu langsung kepada Tuan Luak Limo Puluah sendiri, maupun pada para pengurus LKAAM Kabupaten Limapuluh Kota di berbagai pertemuan dan Musdanya. Memang pada saat itu respon dari para peserta sangat bersemangat untuk mengangkat persoalan ini ke permukaan, seakan-akan besok program ini akan diproses dan ditindak lanjuti.

Namun  apa yang hendak dikata, seperti kita ketahui sudah berapa kali pertukaran pemimpin Luak Limo Puluah, bupati atau wali kota berganti, tidak satupun dari para beliau-beliau tersebut terlintas dalam pemikiranya untuk mengkaji, membicarakan, jangankan membangun daerah asal-muasal niniak moyang kita ini, tak satupun program mereka mengarah pada sejarah keberadaan Luak nan Bungsu ini. Walau sekarang masih ada bangunan bekas pasar ternak di kawasan ini yang terkesan sebuah proyek gagal perencanaan. Bangunan pasar ternak di kawasan Padang Siontah ini sebenarnya adalah sebuah pelecehan sejarah terhadap Luak Limo Puluah ini.

Tanggapan Dr (HC) Syawaludin Ayub, Budayawan Minang asal Luak Limo Puluah pada penulis tentang persoalan Padang Siontah mengatakan harapan bahwa sebenarnya rakyat untuk pemimpin Luak Limo Puluah ini sedapat mungkin adalah seorang figur Datuak atau Penghulu atau sekurang-kurangnya mengetahui adat dan sejarahnya, karena masyarakat berasumsi bahwa seorang yang bergelar Datuak atau Penghulu akan sangat cepat memahami persoalan ini.

Di samping itu dengan seorang pemimpin yang memahami persoalan itu maka keinginan rakyat secara keseluruhan dapat dipahaminya dan harapan itu sangatlah logis, yakni agar terwujud kesejahteraan yang hakiki, pemantapan pemahaman agama, pelestarian adat, serta fungsinya di tengah-tengah masyarakat seiring program pelestarian sejarah. Tapi apa keinginan dan tumpuan masyarakat tak pernah terwujud, bak pepatah “jauh panggang dari api”. Kalau daerah tidak ada sejarah, bisa dikatagorikan daerah siluman, daerah yang tidak baasa-usua, sepertinya tidak ada kebanggaan atau sebagai tolok ukur bagi generasi mendatang.

Contohnya seperti yang sering dikumandangkan niniak mamak, “dima titiak palito, di baliak telong nan bantali, dari ma asa niniak kito, dari lereng gunuang marapi (Pariangan Padang Panjang). Ini membuktikan bahwa asal-muasal mulai dari keberadaan Minangkabau beserta luaknya ada rentetan sejarah yang telah kita ketahui secara umum. Namun kenapa di Luak Limo Puluah tidak ada pemimpinya untuk memproklamasikan daerahnya sendiri seperti daerah lainnya di Ranah Minang atau Sumatera Barat. Coba kita lihat Kabupaten Dharmasraya yang hasil pemekaran Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung, di mana masyarakatnya sangat antusias dan bangga dengan nama kabupatennya yang berasal dari nama kerajaan Dharmasraya tempo dulu.

Walau cukup lama masyarakatnya menantikan daerah otonom sendiri, hingga terujud juga apa yang jadi cita-cita mereka tercapai dengan sempurna. Walau sekian tahun lama terkubur ditelan waktu, akan tetapi yang namanya emas mulia tahan uji. Semoga pemimpin yang terpilih jadi Tuan Luak sekarang ada sedikit perhatian dalam hal sejarah Luak Limo Puluah.

Situjuah namo nagori, ba Luak Lareh Sago Halaban, asa-usau niniak di warisi Padang Siontah urang namokan.

Semestinya para pemimpin daerah ini, baik kabupaten/wali kota di dalam ranah Luak Limo Puluah, kalau dapat Gubernur Sumatera Barat memikirkan Minangkabau ini. Jangan hanya Sumatera Barat saja, dalam tanda petik. Apalagi daerah Minang ini sudah banyak melahirkan cendikiawan-cendikiawan ternama, semuanya itu tidak bisa lepas dari peninggalan keberadaban yang diwarisi niniak moyang kita yang mengiinginkan anak cucunya bisa berguna untuk bangsa yang berdaulat dan melestarikan sejarahnya sendiri.

Seperti mamang orang tua kita dulu, rancak Nagari dek pangulu, rancak tapian dek urang mudo,rancak alek dek tungganai, tutur pakar randai barat mengakhiri.(…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*