Padang Pariaman, Masih Ada Daerah Dalam Kondisi Keterisolasian

Padang-today.com__Warga korong Air Songsang Durian Angik (Asda) nagari Sukucua Barat, Padang Pariaman, Sumbar, hidup dalam keterisolasian. Saat ini, tak ada jalan darat yang layak untuk menghubungkan daerah itu dengan wilayah luar.

Orang sakit atau perempuan yang hendak melahirkan harus dibawa dengan kain sarung menuju puskesmas terdekat.

Air Songsang Durian Angik daerah yang indah dan asri dengan pemandangan alam yang esoktik dengan didiami oleh warga sekitar 100 Kepala Keluarga di korong itu.

Bertahun-tahun mereka hidup dengan segala keterbatasan. Keterisolasian membuat segalanya serba sulit, mulai dari sisi ekonomi, kesehatan hingga pendidikan.

Walikorong ASDA Syafrinal bercerita, sebelum tahun 2007 daerah itu sama sekali tak terhubung akses jalan. Akses utama warga adalah melalui jalur darat dengan menunggangi kuda sebagai kendaraan warga.

Hingga kini, akses jalan untuk menghubungkan daerah itu dengan wilayah luar mengunakan jalan darat yang belum layak ditempuh kendaraan.

Tidak adanya akses jalan itulah yang membuat kehidupan warga begitu terpuruk. Harga barang begitu mahal karena sulit didatangkan.

“Pada musim hujan, daerah kami sangat sulit ditempuh oleh kendaraan. Warga terpaksa mengunakan kuda sebagai kendaraan masyarakat, kalau ada orang sakit warga disekitar itu membawa pakai kain sarung,” kata Walikorong ASDA Syafrinal saat dikonfirmasi, Selasa (03/12/2019).

Sementara itu, hasil tani warga seperti kelapa, sayur mayur, dan lada sulit dijual. Akibatnya, hasil pertanian warga harganya jatuh.

“Hasil pertanian warga sangat sulilt untuk dijual kedarah lain, sehingga hargnya jatuh. Sipa yang mau beli ? Dibawa keluar tidak bisa. Dijual di kampung sudah kelebihan,” ujarnya.

Untuk skses jalan lain, kata dia, belum ada yang bisa membantu. Dimusim penghujan ini, jarang ada warga berani bepergian sendiri. Mereka khawatir, bila terjadi sesuatu di jalan pasti tidak ada yang membantu.

“Saat hujan datang, jalan-jalan tanah itu berlumpur. Jadi, sepeda motor terpaksa harus digotong untuk melewati jalan tersebut,” ujarnya.

Kenapa demikian, hanya satu jalan akses penghubung yang dapat dilalui warga di Korong tersebut. Kondisi inilah yang membuat Korong ASDA itu sangat terisolir.

Untuk mengatasipasi musim hujan tersebut, warga ASDA harus memiliki stok kebutuhan yang mencukupi. Jika tidak, mereka bisa serba kekurangan.

Ironisnya, orang sakit paling menderita dengan keterisolasian daerah itu. Tidak hanya berimbas pada sisi ekonomi tetapi juga kesehatan.

“Orang tua saya, Zainab (57) tak akan lupa merasakan ketika ia ditandu dari rumah ke Puskesmas terdekat dengan penyakit yang ia derita,” kata dia.

Pada tahun 2007 lalu, warga cukup kesulitan dengan kesehatan mereka. Warga yang menderita sakit, harus dibawa ke puskesma terdekat dengan mengunakan kain sarung.

“Saya cukup panik dengan kondisi orang tua saya ketika itu, tak ada kendaraan. Orantua saya Zainab harus segera dibawa ke puskesmas yang jaraknya sekitar 10 kilometer,” ujarnya, mengingat kejadian beberapa beberapa bulan lalu.

Begitulah kondisi warga di korong ASDA. Betapa sulitnya saat kondisi gawat darurat. Tidak sedikit pasien yang meninggal saat dibawa dalam perjalanan kerumah sakit.

“Pernah juga ada warga yang sakit parah, belum sampai ke rumah sakit sudah meninggal,” ujarnya.

Kini situasi korong ASDA jauh lebih baik dari sebelumnya. Dengan adanya program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri masyarakat PNPM akses jalan di daerah itu sudah dapat dilalui warga.

Namun, akses jalan masih jalan tanah untuk menghubungkan daerah itu dengan wilayah luar, ketika hujan cukup sulit ditempuh oleh kendaraan.

“Buka sepatu para pelajar, berkaki ayam mereka menuju sekolah. Akses jalan yang ditempuh penuh dengan lumpur sepanjang 6 kilo meter,” ujar syfrinal.

Selain itu, kondusi daerah itu juga berbukit dan jalan tanah. Jadi artinya, kalau hujan menguyur daerah itu warga cukup kewalahan melewati jalan tersebut.

Di tempat terpisah, salah satu petani di korong tersebut Ajo Anaih, hal senada juga dikatakan. Ia sangat sulit untuk membawa hasil taninya ke daerah lainya.

“Saya membawa hasil tani ini dengan mengunakan tandu dari karung dan kuda untuk dibwa keluar,” kata dia.

Dengan kondisi itu, jelasnya, hasil pertanian warga di korong itu untuk dijula di pasar dihargai cukup rendah. Sehingga warga petani merugi.

“Dengan keterlambatan sampainya hasil panen warga di pasar itu. Sehingga hasil taninya dihargai cukup rendah,” tandasnya menghakiri. (herry suger)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas