Pasaraya Solok Semrawut

* Parkir dan Sampah Tak Tertata

SOLOK (www.padang-today.com)
Penataan Pasaraya Solok hingga kini masih dinilai semrawut. Akibatnya, sejumlah pedagang mengaku sepi pembeli. Kesemrawutan tersebut terlihat dari banyaknya sampah dan penataan pedagang dadakan yang tak terurus. Ditambah lagi, parkir kendaraan yang semrawut juga membuat para pengunjung pasar tidak leluasa berbelanja.

Salah seorang pedagang pakaian, Ahmad (50), menyebutkan buruknya penataan Pasaraya solok membuat pelanggan di kiosnya menurun. “Bulan puasa tahun ini berbeda dengan bulan puasa tahun lalu. Kalau bulan puasa tahun lalu omsetnya sesuai dengan harapan, namun sampai hari ini omset saya jauh melorot,” katanya.

Selain buruknya penataan pasar, menurut dia, penurunan pelanggan terjadi karena minimnya fasilitas umum seperti tempat parkir. Menurutnya, masyarakat yang datang dari luar daerah ingin belanja jadi ragu, karena minimnya lokasi parkir.

Pedagang lainnya, Lilis (36) menyatakan banyaknya pengendara motor, mobil yang parkir di sembarang tempat membuat pengunjung pasar stres karena susah masuk ke sejumlah kios. Ditambah lagi maraknya kendaraan roda empat memakir kendaraan di badan jalan, membuat jalan sepanjang Pasaraya Solok sering terjebak macet.

“Kita berharap Pemko Solok menerapkan pengelolaan kebersihan yang baik di areal pasar. Sehingga, kondisi pasar tidak lagi semrawut,” harapnya.

Sementara itu, Anton, salah seorang pengujung Pasaraya Solok mengaku ingin berbelanja, tidak jadi karena melihat situasi tersebut. Dia urung untuk masuk Pasaraya Solok. Hal yang senada dialami Dedi (27), yang mengeluhkan lahan parkir yang terbatas sehingga saat ia hendak mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran, ia harus menggeser-geser motor orang lain untuk membuka jalan.

“Mengeluarkan motor saja susah. Petugas keamanan juga tidak membantu,” ujarnya.

Selain minimnya lokasi parkir, masyarakat juga mengeluhkan pengelola parkir menaikkan tarif parkir dari yang biasanya hanya Rp 1.000, sekarang menjadi Rp 2.000 hingga Rp 3.000 untuk kendaraan roda dua di lokasi parkir tersebut.

“Saat kami coba protes kenapa tarif parkir naik, malah di jawab oleh petugas parkir kepada saya seperti ini , ‘kalau tidak mau bayar tarif sebanyak Rp 2000, silahkan cari lokasi parkiran lain’, jadi terpaksalah saya bayar saja sebanyak Rp 2.000, daripada jadi ribut,” ujar Fitria (35).

Sebelumnya, Wakil Walikota Solok Reinier menyadari penataan Pasar Raya Solok memang belum maksimal. Pasar ini rencananya akan diarahkan menjadi pasar moderen dengan konsep pasar tradisional. Untuk penataan pasar Raya Solok itu, Pemko Solok mengaku sudah berupaya untuk menanta situasi dan kondisi untuk mejadi lebih kondusif. Di sisi lain, dia mengaku Kota Solok memang keterbatasan lahan parkir. Namun, dia membantah kondisi ini membuat konsumen di pasar tersebut menurun. Soal sampah, dia juga menuding warga bertanggung jawab membersihkannya.

“Warga dan pengunjung pasar banyak juga yang buang sampah sembarangan. Itu tanggung jawab kita bersama bukan tangung jawab pemerintah saja,” jelasnya.

Pantauan padang-today.com di sejumlah ruas jalan di Kota Solok dipenuhi dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, yang diparkir di badan jalan. Seperti Jalan depan Pasaraya, Jalan Pandan Ujung, jalan depan pasar semi modern dan Jalan Cengkeh depan Rumah Sakit Klinik Anak.

Kemudian puluhan kendaraan roda dua yang terparkir di depan pasar semi modern. Kendaraan tersebut juga parkir dan mengambil badan jalan. Banyaknya pengguna kendaraan yang ingin mengambil motornya, membuat antrian makin mengganggu lalu lintas. (rzl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*