PEDAGANG RINDU TERMINAL DI PASAR RAYA

Padang,PADANG-TODAY.COM – Pedagang di Pasar Raya Padang sangat merindukan kehadiran terminal representatif di kawasan itu. Tidak ada terminal omzet penjualan mereka turun drastis.

Advertisements

“Kehadiran terminal sangat dibutuhkan, baik Baik Angkutan Umum (angkot) ataupun terminal Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP). Keduanya amat penting mendongkrak kembali perputaran uang di Pasar Raya Padang, yang lumpuh sejak disulapnya dua fasilitas umum tersebut menjadi mall oleh mantan Walikota Padang, Fauzi Bahar,”kata Wakil ketua Kesatuan Pedagang Pasar (KPP) Kota Padang, Syafrudin di Padang.

Ia menjelaskan, dulunya adanya terminal perputaran uang di Pasar Raya Padang sangat luar biasa. Bahkan bisa ratusan miliar sehari.

“Sekarang hal itu yang jauh kurang. Para pedagang dibiarkan mati perlahan, bahkan tak berjualan bertahun tahun,”ungkapnya.

Sudah banyak dilihat pedagang yang gulung tikar bahkan ada pindah ke daerah lain untuk jualan. “Dapat dilihat sejumlah toko-toko ada tutup karena besarnya biaya yang dikeluarkan sehari-hari,”tegas Syafruddin.

Ia mengatakan, dulunya Pasar Raya Padang itu memang tempat mengantungkan hidup masyarakat Padang. Dari sana kekuatan ekonomi dibangun. Namun, semua itu dirusak dengan kebijakan pemerintah kacau jadinya.

“Langkah Pemko mematikan geliat perekonomian Pasar Raya Padang sangat luar biasa. Hilangnya terminal angkot dan terminal bus AKDP salah satu kebijakan keliru dan sangat tidak berpihak pada masyarakat,”ungkapnya.

Dia menyesalkan, meskipun berganti kepemimpinan, keberadaaan pasar raya masih saja sembraut. Sampai hari ini tak ada solusi mengembalikan fungsi terminal tersebut.

“Padahal keberadaan pasar yang kondusif di jantung kota adalah sebuah icon, termasuk juga untuk mengeliatkan pariwisata. Icon tersebut jelas bakal amburadul tanpa adanya terminal,”tegasnya.

Hal sama juga dikatakan Jofi salah seorang pedagang emas menyatakan, sejak terminal tidak ada, jumlah pembeli turun drastis. Padahal dulu Padang ini kota transit, semua pengunjung pasti belanja di toko-toko seputaran pasar. Sekarang, sudah lah pembeli dari luar kota berkurang, termasuk yang dari dalam kota juga enggan ke pasar,” sesal dia.

“Saat ini transaksi emas di tokonya paling banyak 10 emas per-hari. Itupun hanya kadang-kadang. Bahkan ketika apes, malah pernah tidak ada pembeli,”katanya.

Disamping ketidakan terminal, tambah Joni sekarang ini kondisi di Pasar Raya sangat tidak kondusif. Dimana fasilitas publik seperti trotoar sudah dipenuhi pedagang kaki lima otomatis masyarakat mau ke Pasar Raya jadi berkurang. Sempitnya ruang untuk pejalan kaki membuat kunjungan pembeli berkurang.

“Akses pembeli menuju ke ratusan toko di kiri dan kanan sepanjang komplek tersebut terganggu,”tegasnya.

Joni berharap Pemerintah Kota Padang juga memikirkan nasib pedagang yang ada di Pasar Raya. Pemerintah harus membuat terminal serta melakukan penatatan pedagang kaki lima agar pemilik toko tidak terganggu.(nat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*