Pemerintah Diminta Untuk Tidak Lagi Mengandalkan Hasil Kajian Proyek Pelabuhan Cilamaya

ILUSTRASI PELABUHAN CILAMAYA

ILUSTRASI PELABUHAN CILAMAYA

Advertisements

PADANGTODAY.COM – Pemerintah diminta untuk tidak lagi mengandalkan hasil kajian proyek Pelabuhan Cilamaya, Karawang, dibuat oleh institusi asing. Ini demi menekan kontroversi proyek digadang-gadang menjadi penyangga Pelabuhan Tanjung Priok tersebut.

Awalnya, Pelabuhan Cilamaya direkomendasikan sebagai peyangga Tanjung Priok berdasarkan hasil studi Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2013.

Kajian itu kemudian dilanjutkan oleh konsultan independen–Booz & Co, Mott McDonald dan DNV-GL–disinyalir dibiayai JICA. Ini lantaran kajian terdahulu berpotensi menghambat eksplorasi blok migas milik PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Konsultan independen itu merekomendasikan pembangunan pelabuhan digeser sekitar 3 kilometer ke barat dari lokasi semula. Itu dinilai tak akan mengganggu eksplorasi ladang migas lepas pantai diperkirakan masih berlangsung hingga 30 tahun mendatang.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara menyarankan agar Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengambil alih kajian pembangunan Pelabuhan Cilamaya.

“Untuk pindah ini perlu ada peran pemerintah yang dominan, perlu ada peran pemerintah yang dominan, tidak hanya menyerahkan ke JICA. Karena kepentingannya hanya bisnis Jepang dan industri otomotif produk Jepang yang membonceng disana,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (28/3).

Selain itu, dia melihat koordinasi antarlembaga pemerintah dalam merancang proyek tersebut tak optimal.

“Kalau itu (koordinasi) sudah dilakukan tidak akan ada bicara safety. Harus review, batalkan itu dilakukan oleh JICA Gunakan Bappenas untuk leader koordinasi semua pihak,” ungkapnya.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan alur pelayaran Cilamaya berdekatan dengan pipa gas Pertamina.

“Kalau pelabuhan ini dibangun, disini betul-betul kajian risikonya harus dilakukan dengan teliti,” jelas dia dalam kesempatan sama.

(yud/**)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*