Pemerintah Tengah Putar Otak Mencari Lokasi Pengganti Setelah Proyek Cilamaya Gagal

Ilustrasi pelabuhan

Ilustrasi pelabuhan

Advertisements

PADANGTODAY.COM– Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Indroyono Soesilo menyebut pemerintah tengah putar otak mencari lokasi pengganti setelah proyek Cilamaya gagal. Pasalnya, pemerintah harus memastikan lokasi baru sesuai ukuran.

“Sekarang sedang dicari tempat yang lebar koridornya 10 km. Koridor itu supaya kapal kontainer ukuran 200 ribu ton bisa masuk bisa lewat, dicari ke sebelah timur yang koridornya lebarnya 10 km,” kata Indroyono di Jakarta, Kamis (2/4).

Dia menuturkan, pembangunan itu guna mencegah jika Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kelebihan muatan. Pemerintah bahkan rencananya segera melakukan uji kelayakan (feasibility study) mengenai lokasi baru tersebut.

Nantinya hal itu bakal dikoordinasikan dengan Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT. Juga berkoordinasi di bawah wewenang Menko bidang Kemaritiman dan Menko bidang Perekonomian.

Polemik pembangunan Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat kini menemui titik terang. Pemerintah memutuskan untuk memindahkan lokasi proyek ke arah Timur.

Meski demikian, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menolak jika hal tersebut disamakan dengan batalnya proyek pembangunan.

“Bukan dibatalkan tapi dipindahkan lebih ke timur,” tegas JK di Ritz Carlton Hotel, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Selama ini, PT Pertamina merupakan pihak yang menolak tegas akan pembangunan pelabuhan itu lantaran mengganggu proses pengeboran minyak. Hal tersebut pun diamini oleh JK.

“Karena di depan Cilamaya itu banyak rig, banyak pipa, yang kalau di situ mengganggu produksi dan berbahaya dari sisi lalu lintas laut,” ucapnya.

Dengan dipindahkannya lokasi proyek tersebut, JK menilai Pemerintah tidak akan menanggung rugi lantaran anggaran yang digelontorkan baru sampai tahap uji kelayakan atau feasibility study.

“Cilamaya itu belum ada detail enginnering-nya, baru study-nya saja,” tuturnya.

Pria asal Makassar tersebut menyebut Pemerintah justru akan menanggung kerugian apabila proyek tersebut dipaksakan terealisasi.

“Tapi lebih berbahaya kalau dilanjutkan, kerugiannya lebih besar kalau dilanjutkan. Kerugiannya banyak karena mengganggu produksi minyak gas di daerah itu,” tambahnya.

Sementara itu, terkait lokasi baru proyek tersebut, lanjut JK, anggaran dan investornya bakal ditujukan guna mendorong industri di sektor tersebut dan akan ditentukan setelah proses desain selesai dilakukan.

“(Nilai investasi) Hampir sama. Investor nanti setelah selesai desain dibuka tender,” tandasnya.

(bim/uil)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*