Pemprov Sumbar Dirikan Minang Mart, Cegah Swalayan Waralaba

Gubernur Irwan Prayitno bersama Walikota Riza Falepi dan Bupati Irfendi Arbi melihat seeokar simental yang akan dikembangkan lewat program Tri Arga Model, kepada petani Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Gubernur Irwan Prayitno bersama Walikota Riza Falepi dan Bupati Irfendi Arbi melihat seeokar simental yang akan dikembangkan lewat program Tri Arga Model, kepada petani Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Padang, PADANG-TODAY.com-Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjalankan rencana gerakan 1000 Minang Mart di Sumbar. Rencana Pemprov ini mengkolaborasikan 3 kekuatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), masing-masing PT. Grafika, Bank Nagari dan Jamkrida.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart merupakan program untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dengan jalan Pemprov melalui BUMD membeli hasil pertanian, perkebunan, perikanan, serta kerajinan masyarakat untuk dipasok pada pedagang yang dijual kembali ke konsumen dengan harga wajar.

“Keuntungannya ekonomi kerakyatan hidup. Kita beli dari masyarakat produsen dengan harga wajar, kita jual ke masyarakat dengan harga lebih murah. PT. Grafika bertugas mengelola atau membeli barang sekaligus memasok ke pedagang. Bank Nagari ditugaskan memberikan suntikan pinjaman dana bagi pedagang yang membutuhkan perkuatan modal dengan bunga rendah hanya 7 persen, sedangkan Jamkrida berfungsi untuk menjamin pedagang mendapatkan kredit jika tidak memiliki agunan,” ungkapnya usai rapat persiapan peluncuran Minang Mart di Gubernuran, Senin (23/05).

Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart bukan mendirikan bangunan baru, melainkan bekerjasama dengan pedagang yang telah memiliki toko untuk diberi branding Minang Mart, sekaligus mendapat pasokan dengan harga murah.

Terdapat empat kelompok Minang Mart yang direncanakan, di antaranya kelas A yakni toko yang memiliki bangunan besar dan buka selama 24 jam. Kemudian kelas B, dengan kapasitas di bawah kelas A. Sementara untuk kelas C untuk warung, serta kelas D yakni pedagang gerobak yang diberikan modal dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) senilai 2 juta rupiah.

“Kita bukan membangun, tapi merangkul pedagang untuk ikut bergabung, kita pastikan kita akan memasok barang dengan harga murah dibanding distributor lainnya. Kalau mereka kurang modal, kita sediakan bantuan kredit berbunga rendah. Tapi ini bukan bisnis waralaba, ini semacam konsolidasi. Kalau pedagang itu hanya ambil pasokan dari kita sebagian saja tidak apa-apa,” jelasnya.

Di tahap awal, Minang Mart dimaksud merupakan toko-toko yang menjadi bagian unit usaha yang sudah ada di setiap koperasi di masing-masing dinas di lingkungan Pemprov Sumbar.

“Kita manfaatkan potensi yang sudah ada di Dinas dulu, baru sosialisasi ke pedagang-pedangang,” bebernya.

Irwan Prayitno menegaskan, untuk menjalankan Minang Mart pada tahap awal, sedikitnya dibutuhkan anggaran 5 miliar rupiah sebagai modal membeli barang dari produsen. Dana dimaksud tidak didapat melalui APBD, melainkan kucuran dari penanam modal asal Sumatera Barat.

“Modal awal kita dari investor lokal, kalau dari luar Sumatera Barat susah untuk mengajaknya karena ini tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat, bukan sekedar mencari untung. Saya yakin kalau ini berjalan mulus, banyak manfaat yang didapat. Ekonomi kerakyatan hidup, inflasi dapat ditekan karena rantai distribusi diperpendek,” ujarnya menerangkan.(rel/dsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas