Penas KTNA di Banda Aceh, DPRD Saksikan Alsintan Canggih

Penas KTNA di Banda Aceh, DPRD Saksikan Alsintan Canggih

Penas KTNA di Banda Aceh, DPRD Saksikan Alsintan Canggih

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Pekan Nasional Petani dan Nelayan XV 2017 di Banda Aceh juga berisi gelaran pameran agribisnis ini, dikunjungi oleh Ketua DPRD Payakumbuh H YB Dt Parmato Alam dan Ketua Komisi B Chandra Setipon serta Kadis Ketahanan Pangan Mediar Indra dan rombongan. Penas kali ini mengusung tema “Melalui PENAS Petani dan Nelayan XV 2017 kita mantapkan kelembagaan tani nelayan dan petani hutan sebagai mitra kerja pemerintah dalam rangka kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan menuju kesejahteraan petani nelayan Indonesia”. Keduanya sejak hari pembukaan 6 Mei sampai 8 Mei 2017 masih menyaksikan Penas.

Menyaksikan langsung kemajuan pengolahan pertanian, mekanisasi pertanian, serta alat mesin pertanian (alsintan) membuat decak kagum kedua petinggi DPRD Kota Payakumbuh ini. Menurut keduanya kegiatan ini merupakan forum pertemuan yang telah berlangsung sejak tahun 1971 serta menjadi bagian yang sangat strategis dalam upaya membangun kesepaham diantara berbagai stakeholder sektor pertanian maupun perikanan.

“Kegiatan ini adalah wadah kegiatan belajar mengajar, tukar menukar informasi serta pengembangan kemitraan dan jejaring kerjasama antarapetani, nelayan, petani hutan, peneliti, penyuluh, pihak swasta dan pemerintah,” YB Dt Parmato Alam. Diharapkan, dari kegiatan PENAS XV 2017 ini, gairah sektor pertanian mampu semakin membangkitkan semangat menuju kemandirian, ketahanan serta kedaulatan pangan Indonesia.

Khusus berbicara tentang kemajuan pertanian di Payakumbuh, Ketua DPRD Payakumbuh H YB Dt Parmato Alam dan Ketua Komisi B Chandra Setipon bersama rombongan menyaksikan kemajuan pertanian dari berbagai stand yang ada. Salah satu stand di Penas KTNA XV Banda Aceh 2017 yang diminati peserta dan pengunjung adalah Stand Teknologi Pertanian.

2 alat pertanian ini contohnya. Traktor bajak sawah dan alat perontok gabah yang langsung masuk ke dalam karung. Harganya cukup mahal Rp250 juta dan Rp450 juta. Tetapi, kedua alat ini efektif bekerja dan berbiaya lebih hemat 3 kali dari kerja manual petani selama ini.

“Kita inginkan di masa depan Pemko Payakumbuh sudah bisa memiliki alat pertanian ini. Jalannya, salah satunya mengejar hibah dari pemerintah pusat dan provinsi atau dibeli dengan dana APBD Kota Payakumbuh,” ujar Ketua DPRD Payakumbuh H YB Dt Parmato Alam dan Ketua Komisi B Chandra Setipon, kompak.(Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*