Pendidikan dan Kemiskinan Syamsul General Affair DDS

teropong-1
PADANGTODAY.com-Menurut Ibunda Kartini, pendidikan merupakan upaya yang disengaja dan sistematik untuk membentuk individu atau generasi muda agar mampu menjadi pertisipan yang bertanggung jawab secara etis dan moral dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Begitu penting. Tidak ada satupun yang menyangsikan pentingnya pendidikan, baik pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Karena dengan pendidikanlan suatu bangsa bisa mencetak generasi yang berkualitas.

Advertisements

Generasi muda merupakan generasi yang diharapkan mampu berfikir kritis,inovatif, dan kreatif dalam menghadapi tantangan dunia globalisasi dan persoalan bangsa. Semangat yang besar dari jiwa muda mereka diharapkan mampu menjadi bara bagi gerakan mereka melanjutkan perjuangan bangsa.

Generasi muda menjadi ujung tombak perjuangan merubah kondisi bangsa ke arah yang lebih baik. Mereka dikategorikan sebagai “Agen of Social Change”, yaitu pelopor perubahan bangsa. Namun semua itu tidak akan pernah terealisasi karena banyaknya
faktor yang menjadikan mental generasi muda hancur. Mereka kehilangan jati diri, menjadi generasi yang tidak berkarakter. Karena tuntutan hidup sehingga tidak mendapatkan pendidikan atau malah tergerus oleh arus globalisasi.

Masih tidak semua anak bangsa yang mendapatkan pendidikan yang semestinya. Di jalanan kota-kota besar, anak-anak usia sekolah atau bahkan pra-sekolah bekerja demi bertahan hidup. Ada yang jadi tukang parkir, ada yang jadi buruh angkat di pasar, menjadi pekerja di depot air isi ulang. Tidak sedikit di antara mereka yang putus sekolah. Faktor utama yang menyebabkan fenomena tersbut tidak lain tidak bukan adalah masalah ekonomi .

Tingkat putus sekolah masih tinggi. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tetap sulit menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Meski sudah ada pencanangan sekolah gratis, spp saja yang tidak bayar sedangkan ongkos dan jajan sehari-hari tetap saja harus dikeluarkan oleh para orangtua. Belum lagi buku ini itu atau sumber-sumber yang masih saja harus dibeli, walau sudah ada buku langsung dari pemerintah.

Tim surveyor Dompet Dhuafa Singgalang sering kali menyaksikan, mereka yang untuk makan satu kali sehari saja sulit. Ini nyata, masih nyata di depan mata. Usaha pemerintah saja tidak cukup untuk merangkul mereka. Butuh kerja sama semua pihak. Kita.

Lahir dan hidup menjadi miskin pasti bukan mimpi atau keinginan siapapun. Kebutuhan yang semakin banyak, harga-harga yang semakin melambung tinggi serta sulitnya mendapat pekerjaan dan upah yang tidak sesuai dengan pekerjaan menjelma menjadi permasalahan utama yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi yang sulit akan lebih mencekik mereka yang tidak memiliki
kemampuan untuk berkembang dikarenakan tidak adanya dukungan keahlian.

Para orangtua yang miskin juga akan menghambat bagi masa depan anak-anaknya. Mereka yang seharusnya mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak serta masa kecil yang bahagia, terpaksa harus berkorban demi satu alasan, yaitu ekonomi. Lantas kapan generasi bangsa itu mendapatkan pendidikannya?

Ayo, demi generasi penerus bangsa kita. Bergabunglah, bersama gerakan peduli pendidikan. Apapun itu, meski kecil, berbuatlah. (dil/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*