Pengalihan Dana Idle di Bank Nagari = Penggerusan Reputasi?

Kepala Cabang Bank Nagari Payakumbuh H Edrizanof SE saat menyerahkan bantuan CSR Bank Nagari ke Bupati Alis Marajo

Kepala Cabang Bank Nagari Payakumbuh H Edrizanof SE saat menyerahkan bantuan CSR Bank Nagari ke Bupati Alis Marajo

Advertisements

Limapuluh Kota, PADANGTODAY.com-Kebijakan pemerintah Kota Payakumbuh soal pemindahan dana tersimpan di Bank Nagari kini diikuti oleh Kabupaten Limapuluh Kota. September tahun lalu, 2 bulan lamanya, Pemko Payakumbuh memindahkan simpanan uang tersimpan (idle money)nya ke Bank Umum Nasional. Kini sudah kembali ke Bank Nagari.

Kebijakan ini diakui Walikota Riza Falepi di depan DPRD Payakumbuh sebgai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan sistem deposito. Kemudian, disayangkan oleh banyak pihak, bahwa pengalihan dana ini menunjukkan berkurangnya kepercayaan pemerintah terhadap keberadaan milik pemerintah sendiri. Bank Nagari.

Sejak 2014 lalu, sebenarnya Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota telah memindahkan sebagian dana idle nya ke Bank Umum Nasional. Hal ini disebabkan alasan untuk mendapatkan dana bunga bank guna peningkatan PAD Daerah. Benarkah demikian? Berikut wawancara khusus dengan Kepala Cabang Bank Nagari Payakumbuh, H Edrizanof SE bersama Wakil Kepala Hamdan SE.

Pengalihan dana, benarkah itu yang terjadi kini di Kabupaten Limapuluh Kota?

Sebenarnya sudah sejak 2014 lalu. Hanya, jumlah yang tahun 2015 ini kita belum mendapat informasi. Dana yang dipindahkan itu bersifat dana idle atau idle money atau barren money sebagaimana dalam enskilopedia Bank dan dan lembaga keuangan lainnya didefinisikan sebagai uang yang belum digunakan, seperti uang tunai yang tersimpan dalam suatu bank.

Lalu, apakah secara keuangan Bank Nagari dirugikan?

Bicara rugi laba, tentu tidak semudah itu mengatakannya. Namun, ini lebih soal kepercayaan masyarakat terhadap Bank Nagari. Sudah jelas, Bank ini milik pemerintah daerah yang didukung oleh pendanaan daerah. Jika dialihkan, tentu meski tidak signifikan, telah mengurangi kepercayaan terhadap Bank Nagari.

Tentang persentase dana yang didepositokan, apakah Bank Nagari memang lebih kecil?

Pertama, saya tidak mau mengomentari tentang alasan dan sebab pengalihan dana ini. Namun, jika persoalannya soalan bunga giro bank dengan bunga deposito jelas berbeda. Jika di Bank Umum Nasional, didepositokan, jelas lebih besar bunganya. Tetapi, Bank Nagari setiap tahun menghasilkan laba. Laba ini kemudian disetorkan kepada pemilik modal, pemerintah daerah, menjadi bentuk pendapatan. Maka, jika kita total akan lebijh besar dari manfaat bunga Bank yang diperoleh dari hasil pengalihan dana idle tersebut.

Pengalihan dana, apakah hanya terjadi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota saja?

Kita tidak mau mengomentari hal ini secara langsung. Tetapi, ini adalah rentetan dari pengalihan dana dari daerah lain.

Soalan kepercayaan publik terhadap Bank Nagari, apakah selama ini Bank ini telah memberikan input yang besar bagi daerah, selain urusan bunga Bank?

Nah, ini perlu sekali saya jelaskan. Bahwa Bank Nagari Cabang Payakumbuh dengan dua daerah penyokong, Payakumbuh dan Limapuluh Kota, selama ini ternyata telah ikut mendongkrak ekonomi masyarakat. Begini, Loan Deposit Ratio Bank Nagari Cabang Payakumbuh mencapai 200 persen lebih. Normalnya, maksimal 80 persen saja. Artinya, banyak dana dari daerah lain melalui kantor pusat yang dibawa untuk membiayai pinjaman usaha dan konsumtif masyarakat di Payakumbuh dan Limapuluh Kota.

Loan Deposit Ratio atau LDR, adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber. Pengertian lainnya LDR adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas. LDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (loan requests) nasabahnya.

Lalu, artinya apa?

Artinya, aset Bank Nagari Payakumbuh, telah Rp1 trilyun lebih, hari ini. Simpanan masyarakat beserta penyertaan modal pemerintah, jumlahnya Rp400-an milyar. Lebihnya, Rp600-an milyar kita bawa dari kantor pusat. Inilah yang kami berikan bagi kredit nasabah yang meminjam ke Bank Nagari untuk beragam jenis usaha. Inilah yang berarti Bank Nagari ikut membesarkan daerah ini dari segala macam bentuk usaha dan produk masyarakat.

Soal pengalihan dana ini, bagaimana sikap Bank Nagari?

Sikap kami, tidak bisa apa-apa. Sebab tidak ada aturan yang dilanggar, untuk pengalihan dana ini. Namun, kami menyentuh hati pemerintah dan masyarakat seluruhnya. Bank Nagari adalah milik kita bersama. Mari, kembali kita sadari, bahwa sejarah dibentuknya Bank Nagari ini oleh para tokoh Sumatera Barat, digunakan bagi kemanfaatan masyarakat Sumatera Barat, pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan kesinambungan kesejahteraan publik.

Jika ini telah kita bersama sadari kembali, jelas tidak akan ada lagi tindakan-tindakan yang merugikan bagi pertumbuhan ekonomi dan perbankan daerah. Pengalihan dana, bukan dana saja yang dialihkan, juga kepercayaan. Ini kuncinya.(mnc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*