Pentingnya Ilmu Syamsul General Affair DDS

teropong-2.jpg-1

Advertisements

PADANGTODAY.com-Ilmu merupakan penuntun hidup manusia, yang menerangi kegelapan dan kebodohan. Ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah Swt. Menuntut ilmu merupakan ibadah, dimana setiap muslim diperintahkan untuk mempelajarinya, sesuai dengan kemampuan yang diberikan Allah Swt. kepadanya. Hadits Rasulullah Saw. “Thalabul ‘ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin“ (di riwayatkan oleh : H.R Anas ibn Malik, Ibn Abbas, Ibn Umar, Ali Ibn Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudri RA). Artinya: “menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”.

Di antara perkara mulia yang hendaknya menjadi kesibukan kita adalah menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Karena ilmu yang bersumber dari keduanya adalah cahaya dan pelita bagi pemiliknya, sehingga nampak jelas baginya kegelapan kebatilan dan kesesatan. Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah.

Maka ilmu adalah perkara mulia yang hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan. Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada perkataan dan perbuatan. Menuntut ilmu tidak hanya milik pelajar atau mahasiswa tapi setiap insan manusia.

Allah Swt. menjanjikan beberapa derajat orang yang berilmu daripada yang tidak.Hal ini terdapat dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derjat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berilmu tapi mereka enggan untuk mengamalkannya? Orang tersebut diibaratkan seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah Swt dengan harta yang banyak. Setiap orang mengambil atau mencuri hartanya, akan tetapi dia tidak memperhatikannya. Harta tersebut tidak menafkahi dirinya dan anggota keluarganya, sehingga anggota keluarganya mati dalam keadaan kelaparan. Si empu harta juga dalam kesengsaraan di tempat makan dan tempat minum yang melimpah. Dia tidak mampu untuk makan sedikitpun darinya atau memberi nafkah kepada keluarganya, sehingga dia menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Dalam beramal, sesuatu yang dilakukan dengan ilmu dan tidak dengan ilmu juga berbeda ganjarannya. Untuk itu, dalam setiap pekerjaan atau amalan yang kita lakukan di dunia kita landasi dengan ilmu. Jangan hanya sekedar meniru atau ingin dianggap beramal saja. (*/as)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*