Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh: Devianike, S.Pd

Alumni 2017, Jurusan PIAUD, IAIN Batusangkar, Sumatera Barat

Suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian terhadap pendidikan anak usia dini di Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama negara maju. Padahal belajar dari pengalaman negara maju, konsep pembangunan sumber daya manuia (SDM) justru dimulai sejak masa usia dini yang mencangkup aspek gizi, kesehatan, dan pendidikan dilakukan secara intensif sejak anak dilahirkan.

Setiap anak yang lahir telah memiliki potensi pada dirinya, potensi yang dimiliki oleh anak akan berkembang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan serta dorongan yang baik, salah satu cara yang dapat diberikan agar anak dapat mengembangkan potensinya adalah dengan memberikan pendidikan sejak usia dini atau yang disingkat dengan istilah PAUD.

PAUD merupakan pelayanan pada anak mulai dari lahir sampai umur enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Banyak aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada anak usia dini diantaranya: aspek kognitif, aspek emosi, moral, aspek bahasa, sosial, dan daya imajinasi atau fantasi. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal (TK, RA), nonformal (KB, TPA) ataupun informal (Pendidikan keluarga/ pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan).

Dengan banyaknya aspek perkembangan yang harus di stimulasi pada anak sejak usia dini, maka alangkah baiknya ada kesadaran yang lebih bagi orang tua untuk menyekolahkan anak sejak usia dini, karena pendidikan di dalam keluarga belum mencukupi untuk menambah dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, mengingat ada sebagian orang tua yang pendidikan nya juga belum tinggi, ekonomi kelurga yang tidak mendudkung, tidak hanya itu, pemerintah juga harus mendukung penyelenggaraan PAUD yang bermutu, karena banyak dilihat pada lingkungan masyarakat sekarang terkhusus nya anak yang tinggal diperdesaan, PAUD yang didirikan banyak asal asal saja, sehingga banyak orang tua yang enggan menyekolahka anaknya.

Ada beberapa problematika yang sering terlihat pada PAUD yang ada di Indonesia:

Profesionalisme pendidik PAUD

Lahirnya Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan dosen benar-benar membawa implikasi yang begitu banyak bagi para pendidik, termasuk pendidik PAUD. Pada undang-undang tersebut dinyatakan bahwa guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan meevaluasi peserta didik pada PAUD pada jalur pendidikan forml, non formal, dan informal.

Menjadi pendidik PAUD merupakan pekerjaan profesional yang memerlukan keahlian, kemahiran, dan khusus yang memenuhi suatu standar. Saat ini standar tersebut mengacu pada peraturan menteri pendidikan nasional nomor 58 tahun 2009 entang standar pendidikan anak udia dini.

Pada peraturan menteri nasional nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru disebutkan bahwa kualifikasi akademik guru PAUD adalah minimum diploma empat     (D-IV) atau sarjana S1 dalam bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari prograam studi pada perguruan yang terakreditasi. Sementara itu kualifikasi akdemik guru pendamping PAUD adalah memiliki ijazah D-II PGTK  atau memiliki ijazah minimal SMA. Sedangkan kualifikasi akademik pengasuh PAUD adalah memiliki kualifikasi minimum SMA sederajat.

Kementrian pendidikan RI mencatat saat ini terdapat 252 ribu guru PAUD di Indonesia. Dari jmlah ini hanya 15,7 persen yang berkulifikasi S1 baik dari jurusan PGPAUD maupun jurusan lain yang tidak relevan dengan PAUD. Sementara 24 persen lainya merupakan tamatan diploma II dan diploma III. Sedangkan sisanya, yaitu 60,6 persen memiliki kualifikasi pendidikan kurang dari D2.

Penyebab utama dari hal itu adalah karena penyelenggaraan PAUD kebanyakan adalah masyarakat pihak swasta , dimana mereka mengabaikan atau kurang perhatian dalam hal pemenuhan kualifikasi akademik serta kompetensi guru PAUD. Hal ini harus menjadi  perhatian pemerintah  maupun masyarakat di tengah-tengah munculnya penyelenggaraan PAUD yang dilakukan oleh masyarakat.

Rendahnya mutu PAUD

Setidaknya ada beberapa indikator yang dapat menunjukan bahwa mutu PAUD di Indonesia masih rendah:

  1. Proses pengajaran di PAUD di warnai dengan dengan pengajaran baca-tulis-hitung dan belum sepenuhnya melalui kegiatan bermain
  2. Kualifikasi PAUD belum memadai
  3. Kompetensi pendidik PAUD masih rendah
  4. Kondisi sarana dan prasarana sebagian besar PAUD masih terbatas
  5. Gaji pendidik PAUD masih minim
  6. Jumlah lembaga PAUD rujukan/imbas mutu masih sangat tebatas, yaitu baru sekitar 346 lembaga, (0,3%) dari 114,888 lembaga PAUD.

Melihat keenam indikator tersebut, maka sangatlah wajar jika kita mempertanyakan mutu PAUD saat ini. Kegiatan akreditasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan mutu PAUD pun belum masih secara signifikan. Hal itu dikarenakan penilaian dalam akreditasi lebih banyak dilakukan melalui penilaian dokumen tertulis yang keberadaan nya dapat di ada-adakan oleh penyelenggara PAUD sebagai bukti seakan lembaga PAUD telah menyelenggarakan PAUD seperti yang telah ditentukan.

Dari beberapa paparan di atas terlihat jelas bagaimana pentingnya pendidikan yang dilakukan sejak usia dini (PAUD), tidak hanya terlepas dari perhatian orang tua, pemerintah pun harus mendukung dengan baik penyelenggaraan PAUD yang bermutu, PAUD yang didirikan haruslah yang memiliki pendidik-pendidik yang profesional, yaitu yang memiliki kulifikasI pendidik PAUD, sehingga melahirkan anak-anak yang cerdas, kreatif, dan bermutu di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*