Peran Media Bagi Masyarakat Rentan, oleh Parni Hadi Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa

Ketua Dewan pimbina Dompet Dhuafa.

Ketua Dewan pimbina Dompet Dhuafa.

PADANGTODAY.com-Sesungguhnya para wartawan dan media adalah pengemban tugas mulia, pewaris tugas para rasul. Ini didukung dengan beberapa penjelasan dalam ayat pada kitab suci Alquran, diantaranya “Dan kami tidak mengutus para Rasul kecuali untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan” (Al Kahfi, 18:56).“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai peringatan” (Al Fathir, 35:24).

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.(An Nur, 24:11). Ayat-ayat itu sama dengan fungsi pers yang tercantum dalam kode etik jurnalistik secara universal.

Media, menampung segala aktivitas dunia jurnalistik. Jurnalistik pada hakikatnya mengemban tugas kenabian untuk menyampaikan segala sesuatu secara amanah dan benar, namun juga mendidik secara sukarela, mencerahkan, serta menginspirasi umat, sehingga media mampu menyalurkan kekuatan dalam masyarakat agar berdaya dalam bersikap dan penuh cinta.

Media memiliki bergama jenis. Ada konvensional, berupa media cetak, radio, dan TV, yang peraturan pers dan penyiarannya jelas diatur UU.

Ada juga media baru yang berbasis internet/jaringan. Misalnya sms, media sosial seperti facebook, twitter, youtube dan sejenisnya, bersifat terbuka dan instan, masih tanpa kode etik dan UU yang jelas, sehingga ini rentan terhadap penyalahgunaan.

Menyadari keunggulan media baru, yang memiliki kecepatan informasi, para pemilik media konvensional juga menyelenggarakan layanan media baru (on-line). Dalam hal ini, penerapan prinsip jurnalisme profetik sangat penting diberlakukan untuk segala jenis media tersebut.

Perlu diselenggarakan pendidikan dan kampanye “media literacy” bagi masyarakat sebagai “produsen dan sekaligus konsumen” informasi tentang peranan media, dampak penyebaran informasi dan kemampuan memilih dan memilah informasi yang untuk disebarluaskan dan dikonsumsi sendiri.

Masyarakat rentan adalah kelompok orang yang mengalami gangguan dalam menjalankan aktivitas maupun dalam memberi respons terhadap kondisi tertentu (misalnya terjadi bencana), karena usia, cacat bawaan atau akibat kecelakaan (disabilitas) dan kondisi tertentu (ibu hamil). Termasuk dalam kelompok ini adalah orang tua, penyandang disabilitas, ibu hamil dan anak-anak.

Sedangkan keterkaitannya dalam mengadvokasi masyarakat rentan, berarti kita bertindak lewat suara/ucapan, tulisan dan gambar serta tindakan nyata atas nama dan untuk membela kepentingan orang-orang rentan.

Mengedukasi masyarakat rentan berarti menyampaikan pengetahuan, ketrampilan dan keahlian dalam bentuk informasi. Tujuan akhirnya adalah memberdayakan dan mensejahterakan mereka.

Dompet Dhuafa Republikan yang dilahirkan koran Republika dengan segala aktivitas sosialnya untuk menolong kaum dhuafa, yang umumnya rentan, adalah salah satu contoh pengamalan Jurnalisme Kenabian. Kehadiran Dompet Dhuafa di Sumatera Barat, merupakan sinergisitas dengan media Singgalang, kemudian didukung oleh media lain; Koran Padang, RRI, media online, cetak dan radio lainnya.

Bentuk peduli masyarakat terhadap masyarakat rentan, berbuah bukti nyata. Pada Minggu (20/4), dalam acara penutupan Konferensi Nasional kesejahteraan Nasional ke VIII di Padang, dilaksanakan deklarasi Permindo Kawasan Ramah Disabilitas. Inisiatif publik untuk menggagas sebuah kawasan yang akses untuk penyandang cacat. Ini sebuah langkah konkrit yang dilakukan oleh Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padang, Komunitas Masyarakat Peduli Disabilitas (KMPD) dan LPM Kampung Jao Padang, Dompet Dhuafa Singgalang, PKPU dan lembaga lainnya.

Hebatnya, deklarasi ini melibatkan langsung Ketua DNIKS Prof. Haryono Suyono, Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi, Kepala Cabang Dompet Dhuafa Singgalang, Musfi Yendra, Walikota Padang, Mahyeldi, Ketua LKKS Sumbar, Nevi Irwan Prayitno, Ketua PPDI Pusat, Gufron Sakaril, Ketua PPDI Sumbar, Joni Aulia, dan tokoh masyarakat lainnya di hadapan utusan konferensi dari seluruh Indonesia.

Langkah ini mestinya didukung oleh berbagai media dalam rangka mendorong pemerintah atau masyarakat terlibat merealisasikan program tersebut. Selama ini isu disabilitas cenderung tidak terekspos dengan baik. Salah satu penyebab lemah dan tertinggalnya pelayanan disabilitas di Indonesia karena minimnya informasi. Selama ini dunia disabilitas di Indonesia masih mengalami diskriminasi dalam banyak hal, termasuk dalam pemberitaan media massa.

Persentase pemberitaan mengenai dunia disabilitas di media massa Indonesia masih sangat kecil. Persentase pemberitaan yang minim ini membuat ruang informasi, wawasan, dan intelektual masyarakat mengenai dunia disabilitas secara substansial sangat tidak memadai. Harusnya media mampu menajamkan sense of humanity (rasa kemanusiaan). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*