Peran Museum dalam Ritual BASAPA

Padang-today.com__Dalam catatan sejarah saat masa keemasan Syekh Burhanudddin dalam mengembangkan Islam di Minangkabau tidak terlepas dari budaya, tatanan, dan tradisi masyarakat Ulakan Tapakis, Padang Pariaman, Sumbar yang melibatkan sahabat-sahabat dan tokoh-tokoh masyarakat yang ikut mendampingi Syekh Burhanuddin dalam mengembangkan agama Islam.

Bahkan Guru Besar Syekh Burhanuddin yang membawa Syattariah tersebut sangat produktif dalam berkarya di berbagai bidang, terkait untuk mengembangkan Islam di daerah itu. Bahkan karya literasi dari Syekh Burhanuddin dengan sahabatnya itu terus dipelajari hingga kini oleh jamaah Sattariyah.

Gerakan pemikiran itu ditandai oleh lahirnya kitab – kitab kuno atau naskah-naskah kuno (manuscribe-manuscribe). Dimulai dengan karya mereka sendiri tentang ilmu pengetahuan, filsafat, atau satra.

Peninggalan guru besar itu masih tersimpan di Surau Pondok Ketek, Koto Panjang Timur,, Nagari Sandi Ulakan. Selai itu, peninggalan lainya seperti jubah, kopiah, tasbih, alat untuk ibadah lainya masih tersimpan di surau tersebut.

Dengan adanya hal semcama itu, sangat diperlukan oleh jamaah Syattariah atau para peziarah untuk mewujudkan museum Syekh Burhanuddin.  Kenapa demikian, meingat Museum sebagai ruang transformasi nilai warisan budaya dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang.

Generasi masa kini khususnya jamaah Syattariah harus dapat memahami dan mengetahui dari pengalaman sejarah. Dengan memahami pentingnya belajar dari pengalaman sejarah, diharapkan dapat menajidikan rujukan untuk membangun  masa kini dan masa depan menjadi terarah.

“ Berdasarkan pemahaman ritual Basapa tersebut, pentingnya sebuah pembelajaran dari pengalaman sejarah diberikan kepada peziarah yang dikemas dalam wisata relegius disebut ‘Basapa’ itu, dengan adanya Museum akan menjadikan rujukan para peziarah yang akan melakukan ritual basapa pada bulan Syafar,” kata Syafruddin salah satu peziarah bersama kelompoknya yang datang dari Batu Sangkar, Selasa 22/10.

Menurutnya, belajar sejarah memberikan bagi manusia. Manfaat belajar sejarah secara besar ada dua yaitu manfaat intrinsik dan ekstrinsik. Manfaat instrinsik anatara lain, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cara mengetahui masa lalu, sejarah sebagai pernyataan pendapat dan sejarah sebagai prosesi. Sedangkan manfaat ekstrinsik terkait dengan proses penanaman nilai dan proses pendidikan.

“Untuk itu, jamaah syattariah sebagai peziarah yang datang dari berbagi daerah meinginkan sebuah Museum yang dapat dijadikan rujukan dan pembelajaran,” kata dia.

Museum yang dihadirkan itu bukan sebagai “gudang” tempat menyimpan barang-barang antik seperti anggapan masyarakat pada umumnya, tetapi Museum berusaha untuk menjadi tempat dimana pengujung dapat merasakan suatu suasana dan pengalaman yang berbeda, yang hanya akan mereka dapatkan jika mereka berkunjung ke Museum .

“Museum juga diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antar daerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

Itulah peran Museum yang dapat dihadirkan dalam ritual Basapa setiap bulan Syafar. Kenapa demikian, ini membuat peran Museum berkembang menjadi tempat reservasi, penelitian dan komunikasi, yang tujuannya untuk menyampaikan misi edukasi sekaligus rekreasi kepada masyarakat.

Sementara Tuangku Hery Firmansyah sebagai pewaris Syekh Burhanuddin yang disebut Kalifah XV mengatakan, dengan dihadirkanya sebuah Museum di Ulakan Tapakis itu menambah wawasan bagi peziarah yang akan melakukan ziarah atau dalam wisata relegius ritual Basapa.

Sebagai contoh, koleksi jubah atau baju yang dipakai oleh Syekh Burhanuddin dan beberapa peninggalan lainya yang masih tersimpan di Surau Pondok Ketek itu. Sebelumnya peziarah atau ritual Basapa, jamaah biasanya melakukan rangkaian ritual Basapa di mulai dari Suarau Pondok Ketek tersebut.

Selain untuk melakukan wirid, tahlilan, tahmid dan sebagainya, di Pondok Ketek itu juga akan diberikan edukasi kepada jamaah terkait sejarah Guru Bear beliau itu, sembari memperlihatkan pakaian Syekh Burhanuddin yang di paparkan oleh Kalifah dari keturunan Syekh Burhanuddin.

Perhatian peninggalan-peninggalan Syekh Burhanudddin bagi jamaah Syattariah sangatlah penting. Syekh Burhanuddin, dalam pengembangan agama islam yang dilakoninya berakhir dengan hasil karya mereka misalnya, buku, naskah (manuscribe) dan lainya, itu adalah salah satu point yang perlu diketahui oleh jamaah Syattariah dalam melakukan ziarah atau ritual Basapa ke Ulakan, Padang Pariaman, Sumbar itu.

Karena itulah, penting bagi jamaah Syattariah saat ini untuk kembali mengedepankan kekuatan literasi untuk kembali mengenang guru besar beliau yaitu Syekh Burhanuddin ketika mendapatkan ijazah dari guru beliau.

“seperti kitab, kupiah, jubah sebagai ijazah dari beliau yang diberikan kepada Syekh Burhanuddin dan puluhan manuscribe yang dilahirkan beliau masih tersimpan rapi di Surau Pondok Ketek ini,” ujarnya.

Dengan bermulanya Islam berkembang di daerah itu, sangat diperlukan hadirnya sebuah Museum di kalangan jamaah Syattariah. Selain itu, museum tersebut juga bukan untuk jamaah saja. Hadirnya museum untuk semua umat dan kalangan masyarakat Padang Pariaman pada khususnya. Sebab, belum ada museum atau literasi Islam yang dihadapkan kepada masyarakat Padang pariaman.

“Untuk itu kami dari jamaah Sayatariah mengharapkan keseriusan pihak pemerintah dalam menghadirkan Museum tersebut. Selain infrastruktur-infrastrutur yang perlu dibenahi dan sarana prasarana lainya agar ritual basapa dan para peziarah akan nyaman dan aman dalam melakukan kegiatan itu,” kata dia.

Dinas Pariwisata dan Budaya Padang Pariaman, Jhon Kenedy mengatakan, terkait dengan pengembangan kawasan wisata religius makam Syekh Burhanuddin, pihak pemerintah pusat telah menggulirkan anggaran sebesar Rp 105 Milyar untuk pegembangan makam tersebut.

Artinya, pihak pemerintah hingga saat ini keseriusanya pada pegembangan kawasan tersebut terfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, agar ekonomi masyarakat setempat meningkat. Dalam hal ini ditandai dengan pembangunan kios-kios kuliner di pasar nagari Manggopoh Palak Gadang, Kecamatan Ulakan Tapkis.

Menurutnya, pertumbuhan dan perkembangan daerah selalu diiringi dengan dinamika perkembangan kegiatan masyarakatnya. Konsekuensi dari perkembanagan tersebut akan memberikan dampak terhadap perkembangan dibidang lainya anatara lain dibidang ekonomi, transportasi, dan perkembanagan fisik dari daerah itu sendiri.

“Untuk itu perlunya pasar atau wadah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat,” ujarnmya.

Terkait dengan Museum, pihak pemerintah sangat mendukung dengan dihadirkannya museum Syekh Burhanuddin untuk kegiatan ritual basapa. Selain itu, dengan adanya museum akan dibarengi dengan hadirnya literasi islam di daerah itu.

“Untuk itu, pihak pmerintah dalam hal ini sangat mendukung sekali untuk mewujudkan museum tersebut. Saat pemerintah pusat terfokus dalam pengembangan kawasan makam syekh burhanuddin dengan membangun kios-kios kuliner yang notabenenya untuk peziarah dan lainnya,” ujarnya.

Perlunya museum, disebabkan Padang Pariaman memiliki Situs Cagar Budaya yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi. Selain itu, juga masih adanya peninggalan Guru Besar jamaah Syattariah yang tersimpan di Surau Pondok Ketek nagari Sandi Ulatakan  Timur.

“Nuansa relegius pada ritual basapa yang dikemas dengan keraifan lokal berupa budaya masyarakat menjadikan Padang Pariaman, Kecamatan Ulakan Tapakis menjadikan destinasi wisata relegius yang memancarkan daya tarik tersendiri,” kata dia.

Sebab, kata dia, setiap pada bulan Syafar jamaah di berbagai penjuru daerah membanjiri Ulakan Tapakis untuk dijadikan ritual basapa dalam bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya yaitu Guru Besar jamaah Syattaraiah Syekh Burhanuddin.

Terkait dengan hal itu, maka sangat diperlukan sebuah Museum atau literasi Islam di daerah tersebut. (herry suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas