Peran Serta Media Sangat Besar, Jitu Pasna Butuh Data Akurat

  Padang-today.com – Kalaksa BPBD Sumbar Erman Rahman menyatakan, Bimtek diselenggarakan untuk memberikan pemahaman kepada wartawan bagaimana cara mengkaji kebutuhan pascabencana dan penyusunan persyaratan dan dokumen rehabilitasi dan rekontruksi pascabencana secara cepat, tepat dan terpadu sehingga memenuhi persyaratan untuk mendapatkan bantuan dari BNPB.

   “Dalam penyusunan Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu Pasna) membutuhkan data yang akurat, untuk itu bantuan dari rekan wartawan sangat dibutuhkan. Inilah salah satu yang mendasari kegiatan ini diadakan,”kata dia.

   Erman Rahman menjelaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan upaya yang dilakukan dalam rangka penanggulangan bencana pada tahap pascabencana yang dalam pelaksanaannya harus selaras dengan rencana pembangunan, baik ditingkat daerah maupun nasional.

     “Apalagi dengan kondisi Sumbar yang menjadi market bencana mulai dari banjir, longsor, abrasi, gempa bumi hingga tsunami. Sementara, keuangan daerah terbatas dalam penanganan pasca bencana jika sewaktu-waktu terjadi bencana diatas. Maka perlu penyusunan yang matang dan dilengkapi data,” katanya.

   Menurut dia, Jitu Pasna adalah suatu rangkaian kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak dan perkiraan kebutuhan yang menjadi dasar bagi penyusunan renaksi rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dilanjutkan Erman, pengkajian dan penilaian meliputi identifikasi dan perhitungan kerusakan dan kerugian fisik dan non fisik yang menyangkut aspek pembangunan manusia, perumahan atau pemukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial dan lintas sektor.

    Kemudian, analisis dampak melibatkan tinjauan keterkaitan dan nilai agregat dari akibat-akibat bencana dan impilkasi umumnya terhadap aspek-aspek fisik dan lingkungan, perekonomian, psikososial, budaya, politik dan tata pemerintahan.

    Guna mendukung terwujudnya itu semua membutuhkan sumber daya manusia yang mampu melaksanakan pengkajian kebutuhan pascabencana secara cepat, tepat dan terpadu.

“Sehubungan dengan itu perlu adanya transfer pengetahuan tentang mekanisme pengkajian kebutuhan pascabencana melalui bimbingan teknis Jitu Pasna ini. Sehingga ada keselarasan dari berbagai pihak termasuk media,” ungkapnya.

  Tidak itu saja, lanjut dia media berperan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi serta mengembalikan kondisi masyarakat yang terdapak bencana kepada kondisi semula atau lebih baik dari sebelumnya.

“Kami berharap bantuan kawan-kawan wartawan. Selama ini kami sangat terbantu dengan pemberitaan, memberikan informasi kepada masyarakat terkait bencana. Semoga kedepannya kerja sama ini lebih baik lagi,” tukasnya.

   Komisioner KPI Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan, perubahan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan media membuat perusahaan media harus memiliki inovasi agar tidak ‘sunset’ (terbenam).

“karna popularitas media semakin menurun akibat semakin populernya media sosial. Termasuk dalam pemberitaan mengenai bencana” katanya.

Yuliandre berharap media mampu memberikan informasi yang akurat agar bisa mengimbangi kecepatan informasi yang tersebar di media sosial.

“Media harus bisa dan mampu memberikan informasi yang baik dan tidak membuat panik masyarakat, khususnya jika terjadi bencana alam” terangnya.(dg)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas