Perjuangan Zulkifli Ishaq, Membudidayakan Bunga Krisan di Kota Solok

Perjuangan Zulkifli, “Sang Pencinta” Bunga Krisan di Kota Solok
Ujung Takdir di Kelopak Seruni

Perjuangan Zulkifli Ishaq, Membudidayakan Bunga Krisan di Kota Solok

Perjuangan Zulkifli Ishaq, Membudidayakan Bunga Krisan di Kota Solok

Bunga krisan pernah “divonis” tidak cocok ditanam di Kota Solok. Namun, di tangan Zulkifli Ishaq, bunga itu justru tumbuh mekar. Bagaimana ceritanya?

Laporan: Rijal Islamy — Solok

Medio Oktober 2016. Zulkifli Ishaq terduduk lesu di kantornya, Dinas Pertanian Kota Solok. Bukan karena beratnya pekerjaan seharian sebagai Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Namun, pada kenyataan dari hasil sebuah kajian yang membuat hatinya kecut. Hasil kajian itu menyebutkan “bunga krisan tidak cocok ditanam di Kota Solok”. Sejumlah indikator dari hasil kajian yang menyatakan bahwa krisan hanya bisa tumbuh pada ketinggian 700-1200 meter dari permukaan laut (mdpl). Kemudian suhu udara antara 20-26 derajat celcius untuk pertumbuhan dan 16-18 derajat celsius untuk pembungaan. Lalu, kelembaban udara antara 70-80 persen dan tingkat keasaman tanah dengan Ph 6,2-6,7 dan EC 0,8 Ms/cm-1 Ms/cm. Hampir seluruh faktor itu, tidak bisa dipenuhi Kota Solok. Termasuk kawasan Payo, di Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, yang merupakan kawasan tertinggi di Kota Solok.

Zulkifli sempat ingin menyerah. Namun cinta yang terlanjur dalam, pada keindahan krisan membuat semangatnya kembali. Pepatah “jangan pernah menyerah sebelum mencoba” membuat Zulkifli melipatgandakan optimisme. Tanpa berfikir panjang, pria kelahiran Pesisir Selatan 5 Agustus 1966 tersebut, memesan sendiri 19 varian warna bibit krisan ke Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Cipanas, Jawa Barat. Setelah bibit yang dipesan dari uang pribadi tersebut sampai ke Kota Solok, Zulkifli lalu mulai menanam bibit tersebut di kawasan Payo.

“Kebetulan, saya cukup dekat dengan Profesor Djatmika, seorang peneliti senior di Balithi Cipanas. Beliau pernah mengunjungi kawasan Payo dan menyatakan krisan cocok ditanam di sini. Makanya, saya memesan sendiri bunga itu ke Balithi Cipanas. Dan mulai menanamnya, tanpa mempedulikan hasil kajian yang menyatakan krisan tidak cocok untuk kawasan Payo. Alhamdulillah, sekarang terbukti sendiri, bahwa krisan cocok,” ujarnya.

Kecintaan Zulkifli terhadap bunga bernama latin Chrysanthemum Morifolium itu, diakuinya karena selain memiliki varian warna yang banyak dan menarik, juga disebabkan nilai ekonominya yang cukup tinggi. Dari 19 warna yang dipesan, semuanya tumbuh subur. Sejumlah warna andalan di antaranya kuning, putih, merah, orange, merah marun, putih kemerahan (pink), putih kekuningan dan kuning keemasan. Selain itu, Zulkifli menyebutkan sejumlah kelebihan dimiliki krisan dibanding bunga lainnya. Seperti memiliki tangkai kayu, sehingga tidak mudah layu. Kemudian bunga yang tahan lama dan warnanya pekat dan bernuansa sejuk.

“Krisan yang juga disebut seruni, memiliki kelebihan dibandingkan bunga lainnya. Yaitu varian warna yang sangat banyak dan menarik dan daya tahan yang cukup lama. Tangkai bunga ada kayu yang membuatnya tahan lama. Bunga ini mampu tetap mekar jika ditaruh di pot air atau water jelly selama seminggu. Jika ditancapkan di polibag, pada suhu ruangan, bisa bertahan selama sebulan. Jadi sangat cocok jadi bunga hias yang hidup di kantor-kantor. Sehingga, sebagai bunga potong, nilai ekonominya sangat tinggi,” lanjutnya.

Januari 2017 lalu, Zulkifli mendapat mutasi menjadi Kasubag Perencanaan dan Pengembangan taman Dinas Lingkungan Hidup Kota Solok. Meski sudah pindah dari Dinas Pertanian, kecintaan Zulkifli terhadap krisan justru makin meninggi. Apalagi setelah statusnya berubah menjadi “pejabat” di Dinas Lingkungan Hidup, ia memiliki waktu luang lebih banyak. Bahkan, dengan krisan juga, dirinya banyak bernostalgia dengan teman-temannya yang sama-sama berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mahaputra Muhammad Yamin (UMMY) Solok. Terutama sejumlah alumni yang sudah sukses di bidang pertanian. Seperti misalnya Dr Liferdi Lukman yang kini menjabat Kepala Balai Peneltian Tanaman Pangan (BPTP) Jawa Barat. Liferdi merupakan teman satu kelas dan teman dekat Zulkifli saat sama-sama menuntut ilmu di UMMY Solok.

“Dari Liferdi, saya banyak belajar, bahwa tak ada yang tak mungkin. Meski lulusan UMMY, Liferdi berkat ketekunannya, kini mampu menjadi seorang doktor dan menjadi Kepala BPTP Jawa Barat. Liferdi sering menyemangati saya untuk terus mendalami bunga krisan ini dan berbakti ke Kota Solok. Sehingga, bunga krisan bisa menjadi salah satu cendera mata dari Kota Solok. Kini umur saya sudah hampir 51 tahun. Saya ingin di ujung pengabdian saya ini, saya bisa memberikan sesuatu ke Kota Solok. Yakni bunga krisan atau seruni,” lanjutnya.

Saat ini, Zulkifli secara personal sedang menggalakkan budi daya krisan ke petani dan masyarakat kawasan Payo. Di tahap ujicoba ke sejumlah kelompok agribisnis dan masyarakat ini, hampir setiap pekarangan warga di kawasan Payo, bunga krisan tumbuh subur, berbunga dan mulai di jual ke berbagai di Sumbar dan provinsi tetangga. Zulkifli menyatakan lokasi budidaya krisannya di daerah Payo memiliki ketinggian 500 hingga 600 mdpl. Kawasan ini akan disulap menjadi destinasi wisata andalan Kota Solok. Dari sini nantinya wisatawan akan dapat menikmati keindahan Danau Singkarak dan hamparan bunga krisan sambil menikmati nikmatnya kopi Payo.

“Saat ini, Pemko Solok di samping membina petani berbudidaya bunga krisan, juga membina petani kopi arabica Payo. Saat ini, petani bunga krisan sudah mulai menikmati hasil. Dengan modal bibit Rp 500 per batang, petani bisa menjual bunga krisan Rp 2 ribu pertangkai. Di samping harganya cukup mengiurkan, permintaaan terhadap bunga krisan ini juga cukup tinggi,” kata Zulkifli.

Krisan memang bukan bunga asli Indonesia. Kini, terdapat lebih dari seribu varietas krisan yang tumbuh di dunia. Beberapa varietas yang terkenal antara lain adalah daisy, indicum, coccineum, frustescens, maximum, hornorum, dan parthenium. Varietes krisan yang banyak ditanam di Indonesia umumnya diintroduksi dari luar negeri, terutama dari Belanda, Amerika Serikat dan Jepang. Bunga krisan sangat populer di masyarakat karena banyaknya jenis, bentuk dan warna bunga. Selain bentuk mahkota dan jumlah bunga dalam tangkai, warna bunga juga menjadi pilihan konsumen. Pada umumnya konsumen lebih menyukai warna merah, putih dan kuning, sebagai warna dasar krisan. Namun sekarang terdapat berbagai macam warna yang merupakan hasil persilangan di antara warna dasar tadi.

Bunga krisan masih tergolong ke dalam famili yang sama dengan bunga aster, yaitu famili asteraceae. Bunga krisan dapat berarti persahabatan, keceriaan, dan kebahagiaan. Disebut pula bahwa arti tradisional dari krisan adalah kecantikan dan kemurnian. Di Jepang, bunga krisan yang dilambangkan seperti matahari juga digunakan sebagai lambang takhta kaisar. Lambang krisan ini juga digunakan sebagai lambang paspor Jepang. Kelopak krisan juga digunakan sebagai lambang lencana yang digunakan oleh anggota parlemen Jepang. Beberapa kota di Jepang pun seringkali mengadakan festival tahunan bunga krisan. Di Cina, bunga krisan dianggap bagaikan bangsawan bunga. Di Amerika dan Indonesia, bunga krisan juga identik dengan kebahagiaan. Misalnya saja di Indonesia, bunga krisan seringkali dijadikan sebagai bunga yang biasa menghiasi pernikahan. (rzl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*