Perlunya Museum Syekh Burhanuddin di Surau Pondok Ketek


Padang-today.com__Tradisi Basapa yang di kemas dengan keraifan lokal berupa budaya masyarakat menjadikan Nagari Manggopoh Palak Gadang, Padang Pariaman, Sumbar, menjadikan Komplek Makam Syekh Burhanuddin sebagai Destinasi Wisata Religius yang memancarkan daya tarik tersendiri di daeah itu.

Setiap tanggal 10 Syafar atau pada hari Rabu Minggu kedua dan Minggu ketiga bulan Syafar, ribuan jamaah Syatariah yang di lahirkan oleh Syekh Burhanuddin membanjiri daerah setempat untuk melakukan ritual Basapa.

Terkait dengan hal ini, pemerintah berkomitmen dan menjadikan kegiatan ritaul Basapa sebagai destinasi wisata religius di Sumatera Barat. Hal itu dibuktikan dengan bergulirnya anggaran APBN sebesar 104 Milyar untuk pengembangan sebuah wisata di daerah itu.

Ritual Basapa yang berkembang selama ini menjadikan Padang Pariaman dikenal sebagai daerah wisata religius.

Namun, pihak pemerintah untuk mengembangkan wisata tersebut terfokus pada Makam Syekh Burhanuddin dengan menata Pasar Kuliner dan pengembangan lainya.

“Dengan adanya Tradisi Basapa yang dikemas dengan wisata relegius, pihak pemerintah berkomiten untuk pengembangan wisata tersebut, selain membangun pasar kuliner di kawasan makam tersebut juga akan dihadirkan Museum Syekh Burhanuddin. Untuk itu, jamaah syattariah sebagai peziarah yang datang dari berbagi daerah dengan hadirnya Museum itu dapat dijadikan rujukan dan pembelajaran,” kata Tuangku Hery Firmansyah sebagai Kalifah XV dari Syekh Burhanuddin, ketika ditemui di Pondok Surau Ketek, Nagari Sandi Ulakan Timur.

Museum yang dihadirkan itu bukan sebagai “gudang” tempat menyimpan barang-barang antik seperti anggapan masyarakat pada umumnya, tetapi Museum berusaha untuk menjadi tempat dimana pengujung dapat merasakan suatu suasana dan pengalaman yang berbeda, yang hanya akan mereka dapatkan jika mereka berkunjung ke Museum.

“Museum juga diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antar daerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

Itulah peran Museum yang dapat dihadirkan. Kenapa demikian, ini membuat peran Museum berkembang menjadi tempat reservasi, penelitian dan komunikasi, yang tujuannya untuk menyampaikan misi edukasi sekaligus rekreasi kepada masyarakat.

Namun, perencanaan pembangunan museum itu tidak mempunyai konsep yang jelas. Kenapa tidak, pengembangan wisata religius itu terfokus pada satu titik yaitu di Komplek Makam Syekh Burhanuddin. Padahal, untuk sebuah museum itu sangat tepat dibangun di kawasan Surau Pondok Ketek Syekh Burhanuddin.

Jamaah Syattariah, kata dia, untuk melakukan rangkaian ritual basapa di awali dari Surau Pondok Ketek Syekh Burhanuddin, setelah itu dilanjutkan ke Surau Gadang dan ke Makam Guru Besar jamaah Syattariah.

“Artinya, sangat penting sebuah museum Syekh Burhanuddin hadir di Surau Pondok Ketek ini,” kata dia.

Namun, pihak pengambil kebijakan tidak konfrehensip untuk menyikapi sebuah pengembangan wisata itu. Kenapa tidak, sejarah ritual Basapa diawali dengan mendatangi Surau Pondok Ketek yang dijadiakan Syekh Burhanuddin untuk menjamu sanak saudara ketika mengujungi beliau tidak tersentuh sepenuhnya untuk perencanaan pegembangan wisata tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas kebijakan pemerintah dalam pengembangan wisata religus ini. Namun, pihak pemerintah tidak memandang secara rinci dari sejarah terjadinya ritual Basapa di daerah ini,” kata dia.

Surau Pondok Ketek Syekh Burhanuddin, kata dia, selain untuk mengajar dan belajar tentang Islam oleh masyarakat setempat, juga digunakan beliau sebagai tempat persingahan bagi sanak saudara yang datang dari daerah rantau ‘darek’ ketika ia masih hidup.

Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan beliau seperti, naskah-naskah kuno, kitab-kitab (manuscribe) dan jubah serta yang di pakai kesehariannya dalam mengembangkan islam di daerah itu.

“Nah, peninggalan-peninggalan beliau itu masih tersimpan di Surau Pondok Ketek. Untuk itu, perlunya sebuah museum dibangun di surau tersebut,” kata dia.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat PUPR Padang pariaman melalui PPTK Bangunan Gedung, Rino mengatakan, untuk tahap pembangunan pengembangan kawasan tersebut anggarannya dari APBN sebesar 104 milyar.

“Untuk pelaksanan awal, pihak pemerintah dalam melaksanakan pembagunan itu secara bertahap tahap.” kata PPTK Rino.

Dalam perencanaan, kata dia, untuk pengembangan kawasan itu menjadi wisata relegius dilaksanakan di semua titik yang mempunyai Situs Cagar Budaya.

Terkait dengan pembangunan museum, jelasnya, Surau Pondok Ketek Syek Burhanuddin tersebut akan dibangun seprti Museun Pagaruyuang.

“untuk pemgembangan tersebut pemerintah akan melaksanakan secara bertahap.” kata dia menghakiri. (Herry Suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas