Permainan Tebak Gambar Solusi LHO Bencana

Oleh Ernawati, S.S
(Guru MAN Lima Puluh Kota)

Hal yang perlu diperhatikan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas adalah bagaimana guru dapat mengelola pembelajaran tersebut dengan baik sehingga siswa mampu memahami dan dapat memperoleh prestasi yang maksimal. Oleh karena itu guru dituntut dapat menangani kesulitan belajar yang dialami oleh siswa itu sendiri. Selain itu tenaga pendidikan dituntut mengenali kondisi belajar.

Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia akan tercapai jika proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sesuai dengan karakteristik siswa. Guru mempunyai peranan sangat penting. Selain sebagai pengajar, juga sebagai pembimbing dan pendidik. Namun kenyataannya peran itu sering dilupakan. Pendidikan dan pengajaran dilakukan hanya sekedar pemberian informasi. Hal itulah yang membuat siswa merasa bosan, sehingga pembelajaran tidak menarik minat siswa, dan akhirnya berdampak pada rendahnya prestasi belajar.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan untuk menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakekatnya pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan pikiran, penalaran, dan perasaan siswa seperti dalam menulis teks laporan hasil observasi (LHO) tentang cara penanggulangan bencana alam.

Mengapa kemampuan siswa masih terbatas dalam menulis teks LHO tersebut ada beberapa faktor penyebabnya. Penerapan model, metode dan strategi yang tepat oleh guru sangat menentukan. Selain itu siswa belum berani melahirkan ide-idenya sendiri, karena takut salah dan malu diketawakan teman. Serta siswa kurang latihan menulis teks laporan hasil observasi. Guru juga masih menggunakan teknik mengajar yang menoton dan membosankan bagi siswa sehingga belum optimal memberi kesempatan bagi siswa yang kurang aktif untuk menulis teks LHO dengan bahasa atau kata-katanya sendiri.

Hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk memperbaikinya. Berdasarkan uraian di atas sudah sewajarnya Guru berusaha meningkatkan keterampilan siswa pada materi tersebut melalui media yang sesuai. Misalnya guru merangkai sebuah alat peraga sederhana berupa media pembelajaran yang berasal dari bahan bekas seperti kardus dan gambar kalender bekas. Media tersebut dapat diberi nama Tebak gambar.

Penulis membuat media tersebut sengaja memilih bahan-bahan utama pembuatan media berasal dari bahan bekas sebab penulis terinspirasi dari banyaknya sampah berbagai produk berserakan di sekitar Madrasah. Jadi penulis juga ingin memanfaatkan sampah sebagai media pembelajaran yang mendatangkan manfaat bagi semua kalangan sehingga sekolah pun terbebas dari sampah.

Media tersebut diberi nama Tebak gambar. Media Peraga Tebak gambar ini digunakan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia dengan kompetensi menulis Teks LHO tentang penanggulangan bencana di kelas X IPK MAN Padang Japang. Bedasarkan hasil pelaksanaan penggunaan karya inovatif tersebut dapat disimpulkan bahwa media peraga tebak Gambar tersebut sangat membantu meningkatkan hasil kemampuan menulis Teks LHO tentang mengatasi bencana gempa. Membantu siswa dalam melahirkan ide-ide kreatif dan penalaran guna mengembangkan dan merangkai kalimat demi kalimat.

Media gambar adalah media yang disajikan secara visual, yaitu menekankan pada kekuatan indera penglihatan yang bertujuan untuk memvisualisasikan objek yang ingin disampaikan kepada siswa. Media gambar atau foto mampu memberikan detail dalam bentuk gambar apa adanya, sehingga anak didik mampu untuk mengingatnya dengan lebih baik dibandingkan dengan metode verbal (Indriana, 2011:64-65). Munadi (2008:89) menambahkan, gambar merupakan media visual yang penting dan mudah didapat. Dikatakan penting sebab ia dapat mengganti kata verbal, mengkonkritkan yang abstrak, dan mengatasi pengamatan manusia. Jadi, dengan adanya impresi atau tekanan pada satu gagasan pokok nilai gambar menjadi sangat berfaedah dalam pengajaran.

Siswa lebih suka menerima pembelajaran melalui teknik bermain sebab kegiatan tersebut sangat penting bagi siswa seperti halnya kebutuhan terhadap makanan bergizi dan kesehatan untuk pertumbuhannya bermain juga merupakan pengalaman belajar (Soeparno:1980). Permainan dapat menghubungkan pengalaman-pengalaman menyenangkan atau mengasyikan, bahkan ketika siswa terlibat dalam permainan secara serius dan menegangkan, sikap sukarela dan motivasi datang dari dalam diri siswa sendiri secara spontan. Jadi bagi siswa Madrasah Aliyah permainan juga masih dibutuhkan atau dengan artian dapat dikatakan belajar sambil bermain. Salah satu bentuk permainan yaitu Permainan puzzle gambar penanggualangan bencana gempa.

Saat bermain ini, para siswa akan mulai mengenal ukuran, warna, serta bentuk yang berbeda pada setiap bagian-bagian dari objek puzzle tersebut. Siswa akan terus belajar untuk meletakkan bagian-bagiannya secara harmonis dan bersama-sama yang tentu secara alamiah akan mengasah keterampilan kognitif mereka. Atas dasar inilah penulis memilih permainan tebak gambar dengan menggunakan permainan puzzle dalam menanamkan konsep dan melatih siswa agar pandai menulis teks laporan hasil observasi.

Media tebak gambar merupakan sebuah alat peraga pembelajaran Bahasa Indonesia untuk membantu siswa menemukan ide atau konsep dalam menulis teks laporan hasil observasi sesuai struktur dan kaidah bahasanya. Media ini akan berfungsi ketika siswa memainkannya agar memperoleh kesenangan untuk mempermudah berpikir dalam melahirkan kata-kata atau kalimat guna melatih dan meningkatkan keterampilan menulis teks laporan hasil observasi.

Prosedur pelaksanaan permainan tebak gambar ini adalah diawali seorang siswa diminta ke depan. Siswa tersebut diberikan gambar puzzle dari bahan kalender dan kardus bekas kemudian diminta untuk menyusunnya di papan tebak gambar. Siswa yang lain menghitung waktu yang dibutuhkan temannya untuk menyusun puzzle dan memperhatikan gambar yang berhasil disusun temannya. Semua siswa melakukan pengamatan gambar yang ada pada papan tebak gambar. Siswa diberi kesempatan sekitar lima menit untuk menuliskan pengamatannya di papan tulis juga di buku tulisnya masing-masing. Siswa yang telah selesai menulis boleh ke depan melaporkan apa yang sudah dia amati pada gambar yang sudah ditebaknya tadi.

Permainan tebak gambar bisa diulangi dengan puzzle gambar yang berbeda. Jadi siswa yang lain dapat mencoba bermain tebak gambar. secara bergantian sampai semua siswa mengalami atau mencoba sendiri melakukan permaian tebak gambar tersebut. Selanjutnya dengan mengalami langsung mereka dapat menuliskan laporan observasi gambar yang sudah mereka susun tersebut.

Penggunaan media tebak gambar tersebut juga mampu mengurangi sampah organik dan non organik seperti kardus dan storoform. Jadi dengan keberhasilan penggunaan alat peraga media tebak gambar, hendaknya guru tidak berhenti berinovasi dalam pembelajaran. Guru seharusnya menciptakan inovasi-inovasi baru untuk menunjang pembelajaran terutama di kelasnya.

Biodata penulis: Perempuan berjilbab ini bernama Lengkap Ernawati, S.S. Lahir di Kubang / 07 Juni 1978. Sudah 4 tahun beturut-turut dianugerahi sebagai guru berprestasi MA Tk-Sumbar sejak tahun 2014 hingga 2018. Saat ini berpangkat dan golongan Pembina/ IV a. Bertindak sebagi Tenaga pengajar Bahasa Indonesia di MAN Limapuluh Kota. Ia sekarang tinggal di Kubang Kec. Guguak Kab. Limapuluh Kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas