Pernikahan Dini dan Keteledoran Memilih Menantu Penyebab Terbesar Kasus Perceraian di Tanah Datar

Pengadilan Agama Batusangkar  Kelas B.

Pengadilan Agama Batusangkar Kelas B.

Advertisements

Batusangkar, PADANGTODAY.com-Dari data yang di keluarkan oleh Pengadilan Agama Batusangkar, jalan sudirman kec lima kaum tercatat jumlah perkara yang masuk sampai tahun ini sampai oktober 2014 adalah sebanyak 533 perkara. Dari 533 perkara tersebut, 85% adalah masalah perceraian. Dan 15 % adalah perkara-perkara lain yang masih merupakan kewenangan Pengadilan Agama untuk menyelesaikannya.

Untuk tahun 2014 sampai bulan oktober, jenis perkara yang masuk ke pengadilan agama Batusangkar adalah, cerai talak, cerai gugat, penunjukan orang lain sebagai wali adopsi, isbat nikah, dispensasi kawin, dan masalah kewarisan.

Ratna Yunita, Sag, panitera muda Gugatan di Pengadilan Agama Batusangkar menyatakan, dari gugatan perkara perceraian untuk tahun ini di tanah datar banyak terjadi di sebabkan karena wanita atau istri mempunyai suami yang tidak bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, ada yang mengabaikannya selama berbulan-bulan tanpa ada kabar berita, dan ada juga yang tidak menafkahi istrinya dan anak2 nya selama bertahun-tahun, hal ini salah satu pemicu yang paling banyak untuk perkara gugat cerai di tanah datar. Hal ini sekiranya dapat menjadi perhatian kita bersama terutama terhadap orang tua wanita, agar berhati-hati untuk memilih calon menantu, karena sekitar 40 persen dari kasus perceraian di tanah datar di sebabkan oleh hal ini.

Lanjutnya, Pernikahan di usia dini suatu pasangan juga merupakan penyebab yang banyak memicu perceraian terjadi, Kematangan usia serta kemapanan suatu pasangan dalam berumah tangga adalah hal yang juga selayaknya menjadi dasar untuk seseorang memutuskan melangsungkan pernikahan, karena dari sample beberapa perkara di sini, pernikahan yang sangat sakral seringkali oleh pasangan yang nikah di usia dini di anggap sebagai hal yang tidak terlalu mereka pikirkan, pasangan muda ini sering kali masih mendahulukan emosi-emosi sesaat tapi memikirkan dampak yang akan terjadi nanti, baik itu terhadap diri mereka, orang tua mereka, lingkungan dimana mereka bersosialisasi atau pun mental dan perkembangan jiwa anak mereka,” terang ratna.

Malias, Sag, panitera muda hukum pengadilan agama Batusangkar mengatakan, untuk daerah Tanah Datar untuk tahun 2014 sampai Oktober ini ada sekitar 12 perkara yang masuk sehubungan dengan syarat umur suatu pasangan yang ingin menikah, mereka mengajukan yang namanya dispensasi nikah.

Menurut UU no 1 tahun 74, usia yang di legalkan untuk menikah adalah usia 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria, jika usia suatu pasangan yang ingin menikah resmi secara administrasi negara masih kurang dari syarat di atas, maka yang bersangkutan harus mengajukan dispensasi nikah terlebih dahulu ke pengadilan agama sebelum bisa di dinikahkan oleh KUA.

Beberapa kasus dalam permintaan pengajuan dispensasi nikah di tanah datar, di sebabkan hubungan yang dalam masyarakat kita di sebut “pacaran”, dari beberapa kasus untuk tahun 2014 ini, pasangan yang masih belia dan belum cukup umur ini, di dalam persidangan dispensasi nikah terbukti mereka berpacaran telah melampaui batas-batas kewajaran ketimuran, ada juga yang telah terlanjur melakukan hubungan suami istri, sehingga mau tidak mau orang tua mereka harus menikahkan mereka, padahal secara legalitas anak mereka belum boleh menikah, kondisi seperti inilah yang sering terjadi sehingga Pengadilan Agama mengeluarkan dispensasi nikah kepada muda mudi yang belum cukup usia ini.

Di tambahkan Malias, Sag, Pengawasan terhadap anak dan bentuk perhatian yang maksimal dari orang tua akan menghindari ataupun mengurangi kejadian seperti ini, dan pendidikan agama islam untuk anak-anak kita di ranah minang ini harus di tanamkan sejak anak di usia dini, agar dalam keseharian mereka dapat bertingkah laku, hidup, bersosialisasi, dan bertindak bertanduk sesuai norma-norma dan kaidah-kaidah yang sesuai dengan ajaran agama islam, hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, karena di zaman era globalisasi saat ini banyak faktor pendorong anak-anak yang sebenarnya masih memerlukan bimbingan terjebak dengan hubungan-hubungan bebas ala barat, peran, fungsi, serta pengawasan ninik Mamak di ranah minang ini harus di kembalikan seperti dulu lagi, dengan menjunjung pepatah “anak di pangku kamanakan di bimbiang”, jika hal ini di terapkan bersama sama kita sebagai orang tua. Alim ulama, caliak pandai, niniak Mamak, dan masyarakat memberikan pengawasan kepada anak-anak kita di era yang semakin berkembang dengan segala teknologi yang semakin maju pesat, setidaknya dapat meminimalisir kejadian seperti ini terjadi di tanah datar, tuturnya (romi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*