(Pesan) Anggota DPRD Padang Pariaman Baru Oleh, Bagindo Yohanes Wempi.

Filosofi orang bijak berkata bahwa “harimau mati akan meninggalkan belang”, sedangkan “manusia mati akan meninggalkan budi”, ini satu ungkapan yang tepat diutarakan pada semua orang yang akan mengakhiri posisi wakil rakyat atau jabatan publik

Ungkapan diatas situasinya akan sama dengan “wakil rakyat yang sudah terpilih dari hasil pemilu 2019 akan datang kegedungan bagonjong DPRD dengan membusungkan dada, dan pergi setelah menjabat menjadi anggota DPRD juga membusungkan dada”, tapi jangan sebaliknya datang dengan membusungkan dada, serta keluar dengan badan lemas, layu atau banyak kasus yang kemungkinan terjadi.

Amannah anggota dewan memang berat, Apa lagi berkaitan dengan jabatan empuk, kekuasaan, dan lainya, sehingga semua orang bisa terjebak dalam kondisi yang dilakukan oleh S Novanto Nazaruddi, Angelina Sondang, dan lainya. Semuanya bisa meninggalkan nilai-nilai luhur yang dibawa mereka pada saat masuk menjadi wakil rakyat.

Sebelum masuk mereka membawa nilai-nilai dan idealisme untuk Padang Pariaman lebih baik, tapi akibat system, akibat ada kesempatan, akibat lemahnya iman, akibat tidak memiliki wawasan, akibat tidak memiliki ilmu, akibat iming-iming uang atau karna godan-godan lain yang pada akhirnya wakil rakyat terjerumus kelubang korupsi, lubang manipulasi, lubang salah mengambil kebijakan dan lainya.

Pada kesempatan ini penulis mencoba menggambarkan betapa beratnya menjadi wakil rakyat, penulis mencoba mengukapkan bawa jabatan wakil rakyat tidak lah jabatan yang membuat orang akan tidur nyenyak, tidur tenang, hidup nyaman, tapi malah sebaliknya, wakil rakyat merupakan jabatan yang akan berakibat fatal seperti yang dialami oleh mereka-mereka yang ditangkap KPK saat ini.

Penulis tidak mencoba menjadi orang yang suci dalam tulisan ini, tapi mengukapkan fakta-fakta yang menjelaskan bahwa itulah yang dialami di DPRD tersebut, sehebat apa kita, seidealis apa konsep kita, sesistimatis apa sistim yang kita tawarkan kemereka, semuanya bisa tidak berharga jika mayoritas tidak setuju, apalagi posisi keanggota fraksi partai sedikit, ini menjadi bulan-bulanan bagi fraksi partai yang jumlah anggotanya besar.

Pada pembahasan diDPRD saat anggota dewan, penulis pernah mengusulkan agar pejabat, atau kepala dinas jangan membeli kendaran dinas baru, tapi kendara dinas yang sudah usang/rusak dilelang dan diganti dengan mobil dinas yang pengadaanya dirental/sewa, jika ini diikuti atau dilakukan maka Pemda akan hemat anggaran 40% dari anggaran pengadaan mobil dan operasional/perbaikan kendaran dinas setiap tahunnya.

Atau disaat pembahasan penulis mencoba mengkoreksi anggaran untuk kegiatan serimonila Bupati/Wakil Bupati yang besar, maksud hati untuk mengurangi untuk kepentingan rakyat, tapi karna lobi-lobi fraksi partai besar yang sengit dalam pembahasan tersebut akhirnya penulis dikalahkan oleh voting, dan banyak kejadian lainya yang dialami.

Sehingga ketika berada dalam DPRD ini rasanya tidak banyak yang bisa dihasilkan dari ide-ide dan gagasan cemerlang yang dipunya, karna penulis minoritas akhirnya dikalahkan oleh fraksi partai yang mayoritas, tapi selaku anggota dewan yang berpegang teguh pada “harimau mati meninggalkan belang”, atau “manusia mati lebih baik meninggalkan budi” maka penulis selama menjadi wakil rakyat telah berasil meluncurkan dua buku yang berjudul “jembatan hati masyarakat sumatra barat, dan buku kedua “suara anak nagari”

Dua buku ini merupakan tulisan yang menggambarkan bagaimana kondisi kehidupan masyarakat dan pemerintah Padang Pariaman dan Sumbar pada saat ini, jika masyarakan membaca maka akan mendapat penjelasan lengkap, apa-apa yang telah diperjuangkan di rumah bagonjong, buku itu juga akan menjelaskan fenomena-fenomena masyarakat yang perlu diperhatikan dalam kebijakan pemerintah kedepan.

Buku merupakan karya seorang intelektual terbesar yang bisa dipersembahkan pada akhir jabatan wakil rakyat, melengkapi kesempurnan pada masa jabatan anggota DPRD pada priode 2009-2014, sebelum masa jabatan ini berakhir, insyallah penulis akan mengeluarkan buku ketiga yang berjudul “restropeksi minangkabau”, doakan buku ketiga ini bisa terbit pada bulan Juni 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas