Pilkada Payakumbuh, Butuh Warna Baru

Oleh: Dodi Syahputra*

DODI SYAHPUTRA

DODI SYAHPUTRA

Kota Payakumbuh butuh warna baru. Masyarakat Payakumbuh butuh pemimpin kota yang mampu bekerja dengan sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh mampu dan menyuguhkan kemampuan dengan hasil kerja sesuai dengan mimpi yang diimpikannya.

Tidaklah, kita mengatakan, kalau di bawah kepemimpinan Riza Falepi-Suwandel Mukhtar Kota Payakumbuh maju. Seabrek mimpi yang dulu ditebar oleh Calon Walikota yang kini memasuki tahun keempatnya, ini seperti buyar.

Tak usahlah disebut satu per satu. Saya toh juga lupa, apa yang mau dibangun di Payakumbuh ini. Untung ada drone, alat heli kecil berbaling-baling empat ini merekam foto Kota Payakumbuh dari udara. Tak banyak yang berubah. Hanya satu-satu.

Memang berat melawan lupa. Berkali-kali saya ingat Pak Walikota H Riza Falepi berkali-kali mengatakan tak usahlah jadi walikota, bebannya jadi luar biasa. ”Kalaulah jadi masyarakat biasa, di hadapan Allah sama saja,” akunya.

Menera ulang ke depan. Akankah di 15 Februari 2017 mendatang, Sang Walikota akan kembalikah maju jadi Walikota? Ah, kita anggap maju saja dulu. Sebab, jabatan dan kekuasaan itu begitu anugerahnya.

Masih ingat saya. Ketika jadi Pimpinan Regu Pramuka, dengan anggota 10 orang saja, saya bisa memerintah dan memberikan arahan kepada anggota. Lapar, tinggal perintah ke seksi konsumsi untuk memasak. Ngantuk, tinggal perintah siapkan alat tidur.

Tapi, jangan tanya bebannya. Jadi komandan atau pimpinan itu banyak sekali ombak menghempas, harus jarang tidur, harus siap dengan keluhan dari atas dan bawah.

Saya sangat paham dengan kesusahan Riza Falepi!

Lalu, alek demokrasi yang segera muncul, kini masih di awang-awang, namun sebentar lagi tahapan berjalan. Siapakah yang akan menjadi lawan tanding Riza Falepi?

Banyak nama yang muncul. Pertama kali, muncul nama tokoh pengusaha besar di Jakarta. Pengusaha agrobisnis dan automobil, H Ekos Albar mengapung beberapa waktu lalu. Harapan publik pun menjadi terfokus pada pria bersahaja nan cerdas berpolitik ini.

Tapi, hentakan itu justru dihentikannya. Ia di grup facebook Forum Diskusi Bursa Calon Walikota dan Wakil Walikota mengatakan bahwa untuk Pilkada 2017 ini, ia tidak berambisi untuk maju. Tidak akan. Niatnya, menjalankan usaha yang sudah puluhan banyaknya. Karyawannya saja 3.000 orang lebih yang harus dikontrolnya. Tersebar dari Jawa hingga Sulawesi.

Muncul lagi, nama incumbent, sang Wakil Walikota, H Suwandel Mukhtar. Pamong yang pernah jadi Kabag Umum di Universitas Andalas Padang ini kian menguat. Meski, sampai hari ini masih meraba-raba partai usungan. Sementara, kini telah banyak, kata beberapa sumber, KTP dukungan. Tengah dikumpulkan.

Ada lagi nama, H Almaisyar Datuak Bangso Dirajo Nan Kuniang. Kalau nama ini familiar di telinga Rang Pikumbuah. Soalnya, mantan Calon Walikota Payakumbuh tahun 2012 lalu ini menang di posisi runner-up. Soal nama dan ketokohannya cukup bisa diterima. Namun, trend pemilihan menurut salah satu lembaga survey yang sedang bekerja, H Almaisyar akan cocok jika dipasangkan dengan H Syukri Bey atau H Suwandel Mukhtar.

Komposisi yang sulit. Sebab, dengan dua nama itu, sekampung. Koto Nan Ampek. Tapi, kawan lembaga survey ini meyakinkan bahwa tidak akan masalah, sebab Koto Nan Ampek itu plural tidak primordial.

Ya, lah. Lalu siapa itu H Syukri Bey? Untuk me-remind kembali memori kita, H Syukri Bey adalah tokoh rantau yang berumah gadang di Pakan Sinayan. Pernah mencalon ke kursi DPR RI namun gagal bersama calon-calon asal Luak Limopuluah lainnya, di Pileg 2014 lalu.

H Fitrial Bahri, pun disebut-sebut. Anggota DPRD Payakumbuh yang mantan Camat Kemayoran DKI ini, juga bersama nama H Basril Latief, H Maharnis Zul, Edward DF, Chandra Setipon, H Wilman Singkuan, YB Dt Parmato Alam, Hurisna Jamhur. Namun, saat ini, sebelum UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada masih digodok kembali. Jika tidak berubah, maka akan terbatasi aturan harus mundur dari jabatan sebagai anggota dewan. Apa mau?

Nah, selain H Ekos Albar, nyata-nyata teman seangkatan H Riza Falepi, Nil Maizar yang mantan pelatih Timnas, pelatih PS Semen Padang, nyata-nyata menghindar. Di pertemuan penulis di Kedai Kopi 68 di Payakumbuh, Selasa (23/2/2016) dia menyatakan dengan nyata.

”Saya memilih sepakbola, no politic,” ungkap mantan Caleg DPR RI dari Partai Nasdem tahun 2014 lalu itu. Setelah ini, penulis akan bicara soal elektabilitas, kekuatan daya dukung publik, gaya kampanye dan relawan, serta sistem lainnya. Insya Allah.

Nah, di dunia olahraga serta sosial muncul H Erizal Azhar. Pria sukses yang pernah jadi Ketua STTP Payakumbuh ini mengaku masih belum berniat. Tapi, kemungkinan tidak tertutup. Tak perlu, jadi orang nomor satu, nomor dua pun tidak apa-apa. Membangun manusia Payakumbuh seutuhnya. (*/redaktur pelaksana/wartawan www.padang-today.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas