Piaman Laweh, Pusat Pengembangan Islam Tertua di Pantai Sumbar

 

Padang-today.com__Kota Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman, yang terbentuk dengan berlakunya Undang-undang No.12 Tahun 2002.

Secara geografis, Kota Pariaman terletak di pantai barat pulau Sumatera dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia.

Pada sisi Utara, Selatan dan Timur berbatasan langsung Kabupaten Padang Pariaman dan disebelah barat dengan samudera Indonesia.

Secara astronomis, Kota Pariaman terletak antara 00° 33‘ 00 “ – 00° 40‘ 43“ Lintang Selatan dan 100° 04‘ 46“ – 100° 10‘ 55“ Bujur Timur.

Tercatat memiliki luas wilayah 73,36 km2, dengan panjang garis panatai 12,00 km. Luas daratan kota ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Provinsi Sumatera Barat, dengan 6 buah pulau-pulau kecil.

Pulau Bando, Pulau Gosong, Palau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso Duo dan Pulau Kasiak. Panjang pantai lebih kurang 12,7 km.

Letak geografis Kota Pariaman di daerah perlintasan antara beberapa kota di Sumatera Barat khususnya dan regional umumnya, merupakan jalan negara yang penting bagi pemerintah, karena itu kondisinya selalu terjaga dengan baik.

“ Kota Pariaman merupakan pemekaran dari Kabupaten Padang Apriaman. Dengan liku-liku perjuangan yang amat panajang menuju Kota yang difinitif, Kota apriaman akhirnya resmi terbentuk sebagai Kota Otonom pada tanggal 2 Juli 2002, berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota pariaman sebagai Kota Otonom,” Kata Nasrunjhon salah satu pengurus LKAM Kota Pariaman, Jumat, 8-3-2019 di Pariaman.

Sebelumnya, Kota Pariaman berstatus Kota Administratif (Kotif), berdasarkan Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 1986. Kotif Pariaman diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Menteri Dalam Negeri, Soeparjo Roestam.

“ Kotif Pariaman diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Menteri Dalam Negeri Soeparjo Roestam dengan Walikota Administratifnya Drs. Adli Legan,” Ujarnya.

Secara historis, lanjutnya, sebagai pusat pengembangan ajaran Islam yang tertua di Pantai Sumbar, masyarakat pariaman sangat agamis, tercermin dalam sikap dan prilaku yang memegang teguh ajaran islam dan rasa tanggung jawab untuk mensyiarkan ajaran agama Islam.

Pariaman di zaman tempoe doloe ‘era zaman lampau’ merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500 an.

“Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524) Seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan anatara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus,” jelasnya.

Sebagai pusat penyebaran Islam di Minangkabau, Pariaman memilih ulama terkenal seperti Syekh Burhanuddin, salah seorang gurunya bernama Khatib Sangko bermakam di Pulau Anso Duo. Hingga saat ini dikenal dengan Kuburan Panjang.

Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai. Pariaman sudah menjadi tujuan perdaganag dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju.

Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.

Abdul Gani Arif, (82) salah satu mantan pengurus LKAM Padang Pariaman mengatakan, Sebelumnya Kota Pariaman adalah Ibu Kota Kabupaten Padang Pariaman. Konon dulunya, Pariaman dijuluki sebagai piaman laweh yang bernama Kabupaten Samudera.

“ Sebelum di mekarkannya dua wilayah oleh Padang Pariaman, yaitu Kota Pariaman, Mentawai. Padang Pariaman dekenal sebagai Kabupaten Samudera terletak dalam Provinsi Sumatera Tengah. Hal ini adanya sebelum ada Provinsi Sumatera Barat pada saat itu,” terangnya.

Sumatera Tengah ini ada 11 Kabupaten, salah satunya itu adalah Kabupaten Samudera dengan Ibu Kota Pariaman.

Wilayah Kabupaten Samudera itu sangat luas, yang meliputi Nagari-nagari Tiku, Sasak dan Katiagan, bahkan sampai Air Bangis.

Bahkan, kampung-kampung Ulak karang, Gunung Pangilun, Marapalam, Teluk Bayur, Seberang Padang dan Air Manis masih termasuk wilayah Kabupaten Samudera itu.

Jadi, tidak herang ungkapan “Piaman Laweh” (Paariaman Luas) yang sering disebut orang-orang. Kondisi ini menguntungkan bagi Kota Pariaman, sebagai daerah perdagangan, jasa dan wisata.

Kota Pariaman juga memiliki kawasan pesisir yang terbentang dengan potensi perikanan dan pariwisata yang bernilai tinggi. Dengan berkembangnya kegiatan perdagangan dan pariwisata.

“ Maka posisi kota sebagai pusat perdagangan, jasa dan pariwisata yang relegius, akan menjadi semakin penting dalam momentum berkembangnya Kota Pariaman pada saat ini,” tandasnya menghakiri. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas