Politikus PDIP Effendi Simbolon Mengkritik Pemerintahan Jokowi- JK

Politikus PDIP Effendi Simbolon

Politikus PDIP Effendi Simbolon

PADANGTODAY.COM-Politikus PDIP Effendi Simbolon menjadi orang yang paling lantang mengkritik pemerintahan Jokowi- JK dari kalangan internal. Dia menuding pemerintahan Jokowi dikuasai oleh orang-orang neo liberal yang bertentangan dengan ideologi PDIP.

Serangan-serangan Effendi ke orang-orang pemerintahan tentu mengagetkan. Sebab Effendi bukan orang sembarangan di PDIP, dia dikenal dekat dengan keluarga Megawati Soekarnoputri khususnya dengan almarhum suami Mega, Taufiq Kiemas.

Entah apa maksud dan tujuan Effendi mengkritik begitu kencang orang-orang Istana. Padahal saat pilpres lalu, Effendi diketahui masuk sebagai tim kampanye Jokowi- JK dalam pilpres lalu. Effendi juga dikabarkan sempat menolak PDIP mengusung Jokowi saat Pilgub lalu sama halnya dengan Taufiq Kiemas.

Kemudian setelah menjadi Jokowi menjadi presiden, Effendi pun mengkritik keras kabinetnya. Menteri ESMD Sudirman Said, Menteri BUMN Rini Soemarno yang disebutnya menganut garis neoliberal. Teranyar, dia menyebut Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto sebagai pengkhianat. Menurut dia, Andi anak baru kemarin sore sudah mengurus negara.

“Andi (Widjajanto) pengkhianat, anak baru kemarin tapi ngatur-ngatur negeri ini,” kata Effendi dalam diskusi bertajuk ‘Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK’ di kawasan SCBD beberapa waktu lalu.

Berikut cerita Effendi Simbolon yang dulu puja-puji, namun kini gencar menyerang Jokowi.

1. Pilgub Sumut ajak Jokowi jadi jurkam

Effendi Simbolo maju sebagai calon gubernur Sumatera Utara pada 2013 lalu. Saat itu, Effendi menunjuk langsung Jokowi sebagai juru kampanyenya.

Bahkan saat itu, untuk membantu Effendi, Jokowi rela meninggalkan Jakarta dengan mengajukan cuti untuk jadi juru kampanye di Medan. Jokowi terjun ke zona V, yakni Sibolga, Taput, Nias, Gunung Sitoli, Humbahas, dan lainnya. Pada Minggu, 24 Februari 2013, mantan walikota Solo itu terjun di panggung kampanye di zona I, sekitar Medan.

Namun sayang, meski Jokowi sudah turun langsung membantu, tetap tak bisa mendongkrak suara Effendi yang akhirnya kalah. Pilgub Sumut dimenangkan oleh Politisi PKS Gatot Pujo Nugroho.

2. Nangis saat Mega tunjuk Jokowi jadi capres

 Effendi Simbolon ngaku sempat menangis terharu ketika Megawati menunjuk Jokowi sebagai capres. Kala itu, dia yakin Jokowi mampu memenangkan pilpres dan mengemban amanah menjadi presiden.

“Saya menangis waktu Ibu Mega mendeklarasikan Pak Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan. Sosok wong ndeso ini sangat layak ditunjuk sebagai capres,” kata Effendi pada 10 April 2014 lalu.

Effendi bahkan memuji sikap Megawati yang menunjuk Jokowi. “Saya sangat memuji sikap dan keputusan Bu Mega, yang telah memutuskan Jokowi sebagai capres PDIP 2014,” lanjutnya.

3. Tolak kebijakan Jokowi naikan BBM

Lain dulu lain sekarang. Kalimat itu cocok disematkan untuk seorang Effendi Simbolon. Ketika sudah menjadi presiden, Jokowi dikritik habis-habisan oleh Effendi.

Awal mulanya ketika Jokowi menaikkan harga BBM bersubsidi. Dia menyebut, menaikkan BBM justru menyengsarakan rakyat, bukan jadi solusi pembenahan negara. Dia bahkan siap dipecat dari PDIP karena menolak kebijakan ini.

“Saya kan cuma outsourcing di PDIP. Kapan di hire kapan dipecat. Anytime, bisa putus hubungan kerja. Bagi saya, yang penting anak-anak saya tidak akan dipermalukan oleh ayahnya,” kata dia.

Menurut Effendi, pihaknya sebagai legislator yang dua periode bertugas di komisi energi telah berulang kali mengingatkan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam menyikapi persoalan BBM, tetapi suaranya justru tidak didengar. Alhasil, dia pun menyesalkan kebijakan yang dikeluarkan Presiden dengan menaikkan harga BBM.

“Saya tentu sebagai anggota DPR sangat menyesalkan dan minta maaf kepada konstituen saya telah melukai hati mereka. Saya doakan agar Tuhan mengampuni mereka,” tuturnya.

“Saya menangis. Begitu sombongnya pemerintah tidak berempati kepada nasib rakyat Indonesia. Jadi sangat liberal negeri kita. Jauh panggang dari api. Kalau kabinet ini bukan presidennya dari PDIP, bagi saya mungkin biasa aja ya. Tapi ternyata… Saya kecewa,” imbuhnya.

4. Sebut Jokowi Presiden Prematur

Sehari jelang seratus hari kepemimpinannya, Presiden Jokowi dihadapkan sejumlah masalah. Tantangan terbesar Jokowi, saat melihat dua institusi penegak hukum Polri dan KPK bersitegang.

Politikus Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia ( PDIP), Effendi Simbolon, sedih melihat kondisi negara saat ini. Dia melihat Jokowi tak ubahnya seperti pemimpin setengah matang namun dilahirkan alias prematur.

“Presidennya prematur,” kata Effendi dalam diskusi bertajuk ‘Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi- JK’ di kawasan SCBD, di Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (26/1).

Lebih lanjut, tambahnya, Jokowi kini selalu diatur dalam bertindak dan itu sangat disayangkan. Dia menuding Seskab Andi Widjajanto yang selama ini mengatur-atur Jokowi. Efendi menyebut Andi seperti anak kecil yang baru terjun di politik tapi sudah mengatur presiden.

“Yang atur anak kecil, inkubator jadinya. Yang diatur juga prematur ya susah,” ketusnya.

Dalam kesempatan itupula, anggota Fraksi PDIP ini merasa was-was bila Jokowi tidak segera bersikap. Bisa jadi, sikap tak tegas Jokowi akan membuka peluang untuk dijatuhkan pihak lawan.

“Saya terus terang miris. Saya takut. Siapapun yang ingin jatuhkan Jokowi, maka saatnya itu memang sekarang, karena banyak celahnya. Mudah-mudahan dua-duanya yang jatuh. Kalau kira-kira di Senayan mau jatuhkan nomor 1, saya jatuhkan juga nomar 2. Jadi peluang jatuhkan Jokowi terbuka, saya pribadi kasihan,” jelasnya.

5. Hitungan bulan Jokowi Lengser

Tiga bulan sudah Joko Widodo ( Jokowi) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Kekisruhan antar lembaga serta keputusannya dalam mengambil kebijakan menjadi pertanda Jokowi tidak mampu memimpin negara ini.

Polemik yang kian melekat di pemerintahan baru ini, seolah membuka kacamata publik terhadap masih belum mampunya Jokowi membawa perubahan Indonesia ke lebih baik. Bahkan, ada yang memastikan Jokowi akan meninggalkan tahtanya sebagai RI 1 dalam waktu beberapa bulan lagi.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP), Effendi Simbolon, menyampaikan hal itu mengingat publik mulai sadar atas kinerja Jokowi yang terus menuai kontroversi.

“Saya kira (Jokowi) tidak sampai dua tahun, paling hitungan bulan lagi lengser,” kata Effendi usai diskusi bertajuk ‘Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi- JK’ di kawasan SCBD, di Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (26/1).

Terlebih, lanjut dia, kebijakan Jokowi yang bertentangan dengan pegawai negeri sipil (PNS). Dia menambahkan, bila melihat kondisi seperti ini banyak masyarakat yang mendoakan Jokowi lengser dari jabatannya sebagai kepala negara.

“Coba kita cek ke masyarakat, mereka sudah mendoakan agar Jokowi turun. Banyak PNS yang kecewa, sehingga setiap kali kunjungan mereka memilih menginap di tempat saudara,” jelasnya.

(did/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*