Presiden Jokowi Akhirnya Pindah Kantor Ke Istana Bogor

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Istana Bogor

Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Istana Bogor

Advertisements

PADANGTODAY.COM– Presiden Jokowi akhirnya pindah kantor ke Istana Bogor. Jokowi akan banyak beraktivitas di Istana Bogor daripada di Istana Negara. Bagaimana pendapat warga Bogor mengenai hal ini?

Jokowi sudah memastikan untuk tinggal dan mengurusi pemerintah di Istana Bogor. Istri dan anak-anaknya juga diboyong ke gedung megah kebanggaan kota hujan itu. Dari pandangan warga di sekitar Bogor muncul berbagai pendapat. Ada yang tidak tahu, tidak peduli, ada pula memandang negatif, dan tidak sedikit juga menilai positif.

Loh, saya belum tahu kalau dia pindah ke sini,” kata Ijan, seorang warga yang mengaku tinggal tak jauh dari Istana Bogor, Sabtu (21/2).

Ijan yang datang untuk rekreasi bersama keluarganya ke Istana Bogor mengatakan tidak terlalu mengikuti perkembangan berita. Dia baru tahu kalau Jokowi pindah kantor ke Istana Bogor. Yah, saya sih senang saja. Kalau presiden tinggal di sini, kan dia jadi lebih tahu kondisi Bogor, tambah Ijan yang juga berharap dengan hadirnya Jokowi bisa membuat warga sekitar makin sejahtera.

Berbeda dengan Iman, seorang sopir angkutan umum 03 jurusan Baranangsiang Bubulak, agak sinis dengan keputusan Jokowi tinggal di Bogor. Kemarin saja sempat macet, waktu rombongan Jokowi lewat. Tapi sudah biasa kalau pejabat lewat ya semua kendaraan di-stop. Kalau sering-sering begitu, bisa tambah macet nih,” keluh Iman.

Seorang ibu berjilbab bernama Retno yang mengaku guru di Bogor juga menyampaikan kekhawatirannya tentang kemacetan. Saya udah tinggal di sini dari kecil. Sekarang Bogor sudah beda. Lebih panas, lebih macet. Kalau Pak Presiden tinggal di sini mudah-mudahan bukan tambah macet tapi dibantu, tutur Retno.

Kepindahan Jokowi dari Istana Merdeka Jakarta ke Istana tentu memiliki nilai plus dan minus. Pengamat politik dari LIMA Ray Rangkuti menilai lebih banyak hal positif dengan pindahnya Jokowi ke Istana Bogor. Salah satunya adalah sebagai upaya agar masyarakat tidak hanya berorientasi ke Jakarta. Saat ini ibu kota sudah menumpuk dengan segala aktivitas, baik bisnis, maupun pemerintahan.

“Kalau pun nanti Jokowi akan pindahkah ibu kota, psikis masyarakat sudah terbangun. Sudah saatnya Jakarta ini dipecah, jangan lagi menumpuk dan sesak. Kota-kota lainnya juga perlu dibangun dan menjadi orientasi masyarakat. Bogor ini bisa menjadi eksperimen dia untuk membangun itu, jelas Ray.

Negatifnya, menurut Ray, tidak terlalu signifikan. Kebanyakan hanya bersifat teknis. Tentu presiden harusnya sudah memikirkan kendala yang akan dia hadapi jika berkantor di Bogor. Manajemen komunikasi, mobilitas para menteri, dan transportasi harus dipersiapkan agar tidak menjadi kendala yang signifikan.

“Jangan sampai kehadiran Jokowi justru mengganggu kebutuhan publik, dalam hal transportasi misalnya. Jangan menimbulkan macet, kalau mau pakai kereta tidak perlu sampai mengosongkan tiga gerbong dan mengubah jadwal keberangkatan, tambah Ray.

Mengenai kemungkinan Jokowi akan menggunakan kereta untuk menteri-menterinya, masyarakat juga berharap agar tidak sampai mengganggu kebutuhan publik. Mudah-mudahan saja, Jokowi sama menteri-menteri gak ganggu jadwal kereta. Nasib saya bisa keteter, soalnya harus bolak-balik Bogor-kampus, kata Bahari, seorang mahasiswa Universitas Pancasila yang juga mengaku tinggal dan bekerja menjaga toko di Bogor.

Pendapat lain diutarakan oleh seorang wanita bernama Nana yang rutin naik kereta sepekan sekali. Nana mengaku memiliki anak yang dititipkan di rumah orang tuanya. Sementara Nana bekerja dan ngekos di Kota. Tiap Sabtu saya harus nengok anak. Kalau nanti keretanya diborong Jokowi buat urusan negara ya terpaksa naik bus. Ya, kalau bisa jangan nambah susah rakyat kecil, Pak, tutur Nana.

(has/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*