Presiden Korsel Jadikan Tenggelamnya Kapal Feri Sewol Sebagai Peringatan Nasional

Crane dari kilang lepas pantai, Jumat (18/4/2014), telah berada di lokasi tenggelamnnya kapal feri Sewol di perairan di sekitar pulau resor Jeju, Korea Selatan.

Crane dari kilang lepas pantai, Jumat (18/4/2014), telah berada di lokasi tenggelamnnya kapal feri Sewol di perairan di sekitar pulau resor Jeju, Korea Selatan.

Seoul, PADANGTODAY.COM-Presiden Korea Selatan, Kamis (16/4/2015), berjanji untuk menjadikan tenggelamnya kapal feri Sewol sebagai peringatan nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam peringatan setahun tragedi tersebut.

Pemerintah mengatakan pengangkatan kapal akan menelan biaya sebesar 110 juta dolar AS atau Rp 1,4 trilliun. Tetapi Presiden Park Guen-hye, yang berbicara di pelabuhan Jindo, mengatakan dia akan “melakukan langkah yang penting untuk mengangkat kapal secapat mungkin”.

Peringatan bencana kapal feri Sewol, yang menewaskan 304 orang di dekat Pulau Jindo, dilakukan di 300 lokasi di seluruh Korsel.

Lebih dari 250 siswa sekolah termasuk di antara mereka yang tewas ketika kapal – yang kelebihan beban dan didesain ulang secara ilegal – tenggelam di pulau Jindo.

Bencana tersebut telah memicu kemarahan dan kesedihan nasional. Hal ini menyebabkan kritik keras atas standar keselamatan dan upaya penyelamatan.

Beberapa upacara peringatan diadakan di seluruh negeri. Menteri Dalam Negeri Jeong Jeong-Seop mengatakan hampir 300 organisasi swasta dan pemerintah setenpat memperingati acara tersebut.

Dua upacara peringatan direncanakan diadakan di kota Ansan, tempat asal para siswa yang tengah melakukan perjalanan sekolah. Pada Rabu, para kerabat sejumlah orang yang meninggal, berlayar ke lokasi tenggelamnya kapal untuk melakukan upacara tabur bunga.

“Saya sangat sedih, memikirkan, betapa dinginnya dia berada dalam air itu,” demikian kantor berita Reuters mengutip Lee Jung-seob tentang putrinya, siswi sekolah Hye-kyung, yang turut menjadi korban.

“Hati saya sangat sakit, ketika memikirkan betapa ia merindukan ayah, ibu dan seluruh keluarganya, saat hidupnya berakhir,” tambah dia.

Saat kapal – yang berlayar dari Incheon ke pulau Jeju – miring, kru kapal memerintahkan para penumpang untuk tinggal di kabin mereka dan menunggu.

Kemudian, sejumlah pesan telepon mengerikan dan rekaman video muncul menunjukkan para siswa yang semakin ketakutan saat mereka terjebak di dalam kapal tenggelam. Dari 476 orang yang berada dalam kapal, 304 meninggal dunia.

(BBC Indonesia/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas