Puasa, Komsumsi Rokok Tetap Tinggi

PADANGTODAY.COM -Periode puasa sepertinya tidak banyak berpengaruh pada tingkat konsumsi rokok di Indonesia. Direktur Penerimaan dan Peraturan Bea Cukai Kementerian Keuangan Susiwijono Moegiarso mengatakan, tren konsumsi rokok bisa dilihat dari pemesanan pita cukai rokok sebelum memasuki bulan puasa. “Sebelum puasa, pemesanan (pita cukai) malah naik,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (29/7).

Advertisements

Menurut dia, pemesanan pita cukai terlihat menurun saat bulan puasa. Hal itu disebabkan aktivitas produksi rokok selama Ramadan memang turun. Namun, pemesanan pita cukai rokok setelah Lebaran diproyeksi kembali naik. “Ini menunjukkan tingkat konsumsi rokok di Indonesia masih tinggi,” katanya.

Data Bea Cukai menunjukkan, sepanjang Januari-Juni 2014 realisasi cukai sudah mencapai Rp 57,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 96 persen atau Rp 55,3 triliun di antaranya berasal dari cukai rokok. Sedangkan sisanya berasal dari komoditas etil alkohol (EA) dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA).

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Ismanu Sumiran mengatakan, puasa memang tidak berpengaruh signifikan pada konsumsi rokok. Sebab, bagi yang berpuasa aktivitas merokok tetap bisa dilakukan di malam hari. ‘Biasanya konsumsi rokok saat puasa memang sedikit turun, sekitar 10 persen,’ ujarnya.

Bagaimana dengan dampak Peraturan Pemerintah No 109/2012 dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 28/2013 yang mewajibkan pemasangan gambar-gambar bahaya rokok dalam kemasannya? Menurut Ismanu, hal itu tidak terlalu berpengaruh pada konsumen. “Sampai sekarang belum terlihat pengaruhnya. Tapi pada jangka panjang kemungkinan bisa menurunkan minat merokok,” katanya.

Secara umum, lanjut Susiwijono, tren konsumsi rokok terus naik. Karena itu, meski tahun ini ada penutupan beberapa pabrik rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) seperti milik HM Sampoerna di Lumajang dan Jember, produksi rokok masih tetap membubung. “Proyeksi kami, produksi (rokok) tahun ini mencapai 362 miliar batang. Itu naik dibanding tahun lalu 341,9 miliar batang,” jelasnya.

Sementara itu, produksi tembakau nasional dinilai masih rendah. Karena itu, sebagian kebutuhan tembakau disuplai dari impor. Untuk menyiasati terbatasnya lahan, petani didorong meningkatkan produktivitas tembakau yang saat ini rata-rata hanya 1 ton per hektare.

Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo mengatakan, tiap tahun lahan cenderung tetap dengan luas 200.000-240.000 hektare. Kondisi ini disebabkan tembakau hanya bisa tumbuh di daerah tertentu. Selain itu, tembakau juga merupakan tanaman alternatif di musim kemarau. “Makanya kadang petani menanam tembakau, tapi lain waktu mereka ganti komoditas lain,” tuturnya.

Untuk menutupi kebutuhan, industri memilih mengimpor tembakau. Antara lain dari Turki, Zimbabwe, dan Tiongkok. “Selain impor, sebenarnya kita juga mengekspor tembakau yang biasanya dipergunakan untuk cerutu. Jumlahnya masih kecil, sekitar 10-20 persen,” jelasnya.

Diyakini, dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) bisa mendorong petani meningkatkan produksi tembakau. Dengan demikian, kebutuhan nasional yang masih kurang bisa ditutupi dari produksi petani dalam negeri. Selama ini defisit diambil dari impor. Disebutkan, produksi tembakau nasional sekitar 180.000-200.000 ton per tahun dan 60 persen dari Jatim. Sedangkan kebutuhan per tahun 300.000 ton.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*