Ratusan Hektar Sawah Tanjung Barulak Gagal Panen

Salah satu aliran irigasi yang ada di Tanjung Barulak, Kabupaten Tanahdatar kekeringan

Salah satu aliran irigasi yang ada di Tanjung Barulak, Kabupaten Tanahdatar kekeringan

Tanahdatar, PADANGTODAY.com – Petani di Sawah Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanahdatar harus gigit jari, pasalnya kondisi lahan sawah masyarakat yang luasnya mencapai 1300 hektar ini gagal panen.

Ibarat pepatah “Iduik sagan mati ndak namuah”, itulah kejadian duka bagi sebahagian besar petani nagari “Banda Kalanggik” ini.

Musim kemarau yang berkepanjangan sejak juni sampai agustus 2014 mengakibatkan ratusan hektar sawah petani gagal panen.
Beberapa kali masyarakat Tanjung Barulak melakukan sholat istiqa untuk meminta hujan, namun tidak juga membantu ribuan hektar sawah dinagari ini untuk bertahan hidup.

Ditemui PADANGTODAY.com, Rosna (65), salah seorang petani yang juga menjadi korban gagal panen menjelaskan bahwa ia mengalami kerugian yang sangat besar. Karena musim kemarau yang berkepanjangan.

“Sawah yang saya tanami bulan Mei kemaren yang seharusnya menghasilkan 1000 gantang padi (di rupiah kan Rp 7.500.0000,-). Namun panen kali ini hanya menghasilkan 85 gantang (Rp 400.000,-), sedangkan padi yang tidak jadi/ gagal panen di jadikan masyarakat sekitar untuk makanan jawi (sapi.red) layaknya rumput,” ujar Rosna, minggu (7/9).

Wanita yang beralamat Simpang Talang, Lingkungan Kawek, Tanjung Barulak Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanahdatar ini menambahkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk modal menanam padinya jika di rupiahkan sekitar 1,5 juta rupiah.

“Sebenarnya untuk daerah tanjung barulak ini telah ada saluran irigasi yang sumber airnya dari sungai yang tak pernah kering yang biasa di sebut batang selo oleh masyarakat Tanahdatar. Namun saluran irigasi ini sudah kering dan banyak yang telah tertimbun tumpukan tanah,” lanjut Rosna.

Memang setelah ditelusuri, saluran irigasi di daerah Tanjung Barulak banyak yang tidak berfungsi dan sudah berapa tahun ini saluran irigasi ini tidak di aliri air. Kalaupun ada hanya sedikit dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air petani keseluruhannya dan panen kali bisa diprediksi hanya dapat menghasilkan paling banyak sepertiga dari jumlah panen normal.

“Jadi, dari 1300 hektar sawah masyarakat, kira-kira yang akan menjadi padi atau dapat dipanen hanya sekitar 430 hektar,” ujar Dedi Fayed salah seorang tokoh masyarakat nagari Tanjung Barulak.

Sementara, Kabid PSDA Dinas PU Kabupaten Tanahdatar, Pempri menyatakan memang saluran irigasi di daerah Tanjung Barulak khususnya banyak yang telah tertimbun sedimen yang disebabkan tanah longsor dan sampah-sampah yang di buang masyarakat ke dalam saluran irigasi ini. Kemudian pintu air banyak yang telah rusak.

“Pihak PSDA (pengelolaan sumber daya air) Dinas PU telah juga berupaya memperbaikinya, tapi akibat keterbatasan dana, pekerjaan terpaksa di hentikan. Sebenarnya kewenangan irigasi Batang Selo yang sampai ke nagari Tanjung Barulak adalah kewenangan provinsi,” ujar Pempri, Senin (8/09).

Saluran irigasi Batang Selo memiliki panjang 34 kilometer, dan melewati 3 nagari yaitu nagari Saruaso, Koto Tanggah dan Tanjung Barulak. Disepanjang aliran tersebut, pihak PSDA telah menempatkan 7 personel di UPT kecamatan, yang bertugas untuk mengawasi pembagian air saluran irigasi ini. Namun tetap juga belum ada titik terang dari permasalahan ini.

“PSDA provinsi Sumbar telah melakukan peninjauan ke Tanjung Barulak pada Agustus 2014. Ada alternatif mengunakan sumber air yang berasal dari Bukit Martabak, khusus untuk petani nagari Tanjung Barulak, harapan kita PSDA provinsi Sumbar dapat mengajukan anggaran untuk 2015 nanti. Ini merupakan alternatif pengairan untuk daerah Tanjung Barulak agar peristiwa seperti tidak terjadi lagi di masa mendatang. (romi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas