Resnulius: Jangan Beri Ikan Tapi Berikanlah Kailnya

Resnulius-Tokoh Masyarakat Lamposi Tigo Nagori

Resnulius-Tokoh Masyarakat Lamposi Tigo Nagori

Advertisements

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-”Pepatah jangan memberi ikan jika kita ingin mereka bisa makan untuk besok dan seterusnya, beri kail dan ajari mereka cara mendapatkan ikan. Supaya bisa digunakan untuk keperluan hidup.”

Ungkapan tokoh masyarakat Resnulius itu disampaikannya dengan bersemangat saat bercerita tentang pengalamannya memimpin beberapa lembaga. Kepala SMAN 5 Kota Payakumbuh tersebut, menguraikan segala apa yang ia jalani selama mengabdi menjadi pengelola lembaga buat masyarakat Lamposi Tigo Nagori (Latina), Jumat (26/8/2016) di Payakumbuh.

SMAN 5 Payakumbuh dikenal kini dengan Kampus Qalbu. Berawal dari 1985, sebuah yayasan terbentuk guna untuk menopang perekonomian masyarakat latina  khususnya di bidang peternakan. Dimana pada saat itu masyarakat yang ingin beternak disediakan hewan ternak seperti itik dan sapi. Seiring perjalanan waktu, pada 2002 lahirlah sebuah wadah dinamai “Lumbuang”, sebuah wadah usaha Niniak Mamak serta Bundo kanduang.

“Masih segar dalam ingatan saya, saat itu sekitar pukul 14.00 WIB, Jumat 22 Februari 2002, Lembaga Usaha Niniak Mamak dan Bundo Kanduang ini lahir, seiring keluarnya mata air dari dalam bumi,” kata Resnulius, bersemangat.

Pak Res sebutan akrab Resnulius, kembali mengatakan bahwa tujuan lembaga ini tercipta untuk pompanisasi atau pengairan sawah warga. Sebab ada filosofi saat itu yakni, “Padi Sadang Manjadi”. Lembaga ini sukses di tengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat Latina.

Pada tahun 2008, Kecamatan Lamposi Tigo Nagari secara resmi dibentuk oleh Pemko Payakumbuh yang saat itu Walikotanya Josrizal Zein. Kecamatan Latina terdiri dari 6 Kelurahan; Kelurahan Sungai Durian, Kelurahan Parambahan, Kelurahan Koto Panjang Dalam, Kelurahan Koto Panjang Padang, Kelurahan Parik Muko Aia dan Kelurahan Padang Sikabu di bawah 1 KAN: Lamposi.

Pada kepemimpinan Riza Falepi di 2015 Nagari Lamposi menjadi tiga yakni; Kelurahan Parambahan, Sungai Durian dan Koto Panjang. Setahun kemudian pada 2016 lahirlah Yayasan “Peti Bunian”. Peti Bunian berarti brankas. Tujuan dari Peti Bunian ini untuk menghimpun dana bagi siswa guna melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi lagi, terutama untuk melanjutkan pendidikan Islam.

Di dalam Yayasan Peti Bunian ada namanya gerakan 2 GMT (Dua Jam Mematikan TV) setelah Sholat Maghrib. Tujuan gerakan untuk mendidik anak seperti mengaji dan pelajaran lainnya. Disamping itu agar orang tua dan anak dapat berdiskusi dan berkomunikasi dengan baik.

Saat melaunching program, Yayasan Peti Bunian dihadiri oleh 250 warga. Beberapa nama tokoh ternama seperti Dt Damuanso KAN Parambahan, Dt Pundoko KAN Sungai Durian, Dt Tunaro KAN Koto Panjang. Disamping itu beberapa nama Bundo Kanduang seperti, Nuraini dan Hj Murfinis BA juga hadir. Acara tersebut dijamu dengan makan bajamba.

Yayasan Peti Bunian yang saat ini diketuai oleh Resnulius, Wakil Ketua Mawi Etek Erianto, Sekretaris Syafrizal, Bendahara Budi Nanda serta penggalang dana Purkan dan Putra Idaman serta pengurus anggota Peti Bunian lainnya.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*