REVITALISASI PASAR RAKYAT ( Tak ada ikan besar yang hidup di air yang dangkal) Oleh: Yanti Elvita

Mengapa pasar tradisional atau pasar rakyat makin terpinggirkan? Apakah karena laju supermarket dan minimarket makin bergerak kencang di tengah Padang yang indah ini?

Eksistensi supermarket dan minimarket dalam peradaban ekonomi yang makin canggih memang sulit dielakkan.

Bagaimana cara menghadapinya? Tak ada pilihan lain, yakni revitalisasi!

Salah satu cara merevitalisasi pasar tradisional adalah menata pasar tradisional menjadi oasar yang nyaman, bersih dan aman. Kadang Yanti berpikir, bisakah mewujudkan Pasar Tradisional rasa supermarket?

Kalau ada dalam pikiran, apa yang kita ak bisa diwujudkan? Penghambat pikiran itu adalah ketika ia dimulai dari kata sulit. Pembunuh pikiran adalah, kata sulit, kata susah, kata tak mungkinlah itu.

Memang kita sadari, bahwa konsekwensi pikiran atau gagasan adalah, dicemeeh, diremehkan atau diterima.

Ya, kita tahu bahwa Program Revitalisasi Pasar Rakyat merupakan salah satu bentuk komitmen Kementerian Perdagangan RI . Tujuannya meningkatkan daya saing pasar rakyat. Meningkatkan kesejahteraan para pedagang melalui peningkatan omzet.M endukung kelancaran logistik dan distribusi bahan kebutuhan masyarakat dan mendorong terjadinya penguatan pasar dalam negeri di era persaingan global yang kian terbuka lebar.

Di Padang, banyak tumbuh pasar rakyat. Pasar pasar tradisional yang legend di hati masyarakat Padang antara lain, pasar Lubukbuaya, pasar Siteba, pasar ulakkarang, pasar Alai, pasar pagi, pasar Simpangharu, pasar Bandarbuat dan pasar lainnya. Induk dari Pasar Tradisional itu, kita kenal dengan sebutan Pasar Raya atau ” Pasa Jauh”. Di Pasar Raya, dulu ada dua terminal. Terminal Goanhoat untuk angkutan kota dan Terminal Lintas Andalas untuk Bus antar kota dan antar propinsi.

Begitulah. Dua terminal itu kini sudah berganti supermarket dan mol. Hingga kini belum tergantikan.

Nah, mari kita ke topik semula. Soal revitalisasi pasar tradisional. Dengan revitalisasi pasar tradisional, harapan kita meningkatlah hendaknya pendapatan para pedagang juga pelaku-pelaku ekonomi yang ada di masyarakat.

Bayangkan, sebuah pasar tradisional tak lagi berbentuk lapak lapak atau kios kios dalam los. Kita rancang dengan cita rasa modern berbasis kearifan lokal.

Lalu, biayannya darimana? Mana sanggup APBD kita menanggungnya?

Tak usah kgawatir, ada pikiran ada jalan, ada cakrawala ada jendela.

Kalau sekiranya nanti Yanti diberi amanah jadi anggota DPRD Padang, salah satu program Yanti adalah revitalisasi pasar tradisional.

Bersama sama dengan eksekutif, Yanti akan meyakinkan Pemerintah Pusat untuk pembangunan pasar rakyat tersebut melalui beberapa jalur pendanaan yang bersumber dari APBN.

Ya Allah betapa indahnya pasar tradisional itu nanti sekiranya mimpi mimpi ini terwujud. Dan jangan sampai gamant bermimpi. Salah cara memperbaiki hidup, perbesarlah mimpi. Bukankah, tak ada ikan besar yang hidup di air yang dangkal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas