Ritual Basapa, Surau Pondok Ketek Kunjungan Pertama Jamaah Syattariah

 

Padang-today.com__Surau Pondok Ketek Syekh Burhanuddin salah satu surau pertama tempat bermula ajaran Islam berkembang di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minangkabau, pada umumnya. Tarekat Syattariah yang dibawa Syekh Burhanuddin mendapat tempat di hati masyarakat Minangkabau pada waktu itu.

Setiap pada tanggal 10 Safar sendiri diyakini sebagai hari dimana meninggalnya Guru Besar Jamaah Syatariah yaitu Syekh Burhanuddin yaitu 10 Syafar 1111 H/1691 M. Setiap bulan Safar itu, jamaah syattariah melaksanakan ritual ‘Basapa’.

Ritual basapa biasanya dilaksankan pada tanggal 10 Syafar atau pada hari Rabu minggu kedua dan Minggu ketiga bulan Syafar. Ritual basapa ini dilakukan masyarakat sebagai ungkap rasa syukur dan terimakasih terhadap Syekh Burhanuddin atas jasanya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau.

Maka jamaah Syattariah, setiap bulan Syafar tradisi ‘Basapa’ sudah menjadi agenda tahunan di daerah itu. Tradisi ritual ‘Basapa’ karena kegiatan ini hanya dilaksanakan pada bulan Syafar Tahun Hijriah. Pada bulan itulah ribuan jamaah tarekat Syatariah dari berbagai daerah melaksanakan ritual ‘Basapa’.

Salah satu rangkaian ritual Basapa adalah bermula dari Surau Pondok Ketek tempat Syekh Burhanuddin melakukan ibadah dan mengembangkan agama Islam. Maka tak herang, setiap bulan Safar Surau Pondok Ketek cukup ramai dikunjungi oleh peziarah dari jamaah Syattariah di berbagai daerah dan mancanegara untuk melakukan ritual Basapa di surau itu.

Biasanya jamaah sebelum ziarah ke makam Syekh Burhanuddin jamaah melakukan ziarah terlebih dahulu ke Surau Pondok Ketek untuk melihat pakaian syekh burhanuddin, dan menemui Tuangku Hery Firmansyah sebagai khalifah 15 Syekh Burhanuddin di koto panjang timur nagari ulakan.

“Ribuan jamaah melaksanakan ritual Basapa tersebut sebagai bentuk kecintaan terhadap gurunya. Basapa adalah menziarahi guru baik semasa hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Dengan istilah sakral bahasa dari ulama-ulama terdahulu, taragak jo guru yang hiduik, rumah tanggo nyo dijalang, suraunyo ditingkek, kaji nyo dituntuik.  Kemudian, Taragak jo guru yang telah meninggal dunia, kuburannyo dan peninggalanyo yang diziarahi,” kata Tuangku Hery Firmansyah sebagai Kalifah yang ke XV dari keturunan Syekh Burhanuddin ketika ditemui di Surau Pondok Ketek.

Menurutnya, dengan menziarahi guru yang masih hidup akan mendapatkan keberkahan dan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan menziarahi guru yang telah meninggal dunia bagi jamaah menyakini untuk menambah keimanan dan ketajaman marifaat kepada Allah S.W.T.

“Ziarah ke makam guru, kata dia, merupakan penghormatan atas jasanya sehingga ilmu yang diperoleh direstui Allah SWT, sedangkan mendatangi guru yang masih hidup akan mendapatkan ilmu yang berguna di dunia dan akhirat. Selain itu, Ziarah ke makam dapat memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita tidak hidup selamanya,” kata dia.

Ritual  ‘Basapa’ para peziarah akan menginap beberapa hari di sejumlah mushalla dan masjid yang ada di daerah itu serta ada pula yang langsung kembali ke daerahnya masing-masing. Adapun rangkaian kegiatan Basapa yang dikenal dengan Sapa Gadang, Sapa Ketek dan Sapa Tuangku Saliah” kata dia.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan peziarah dalam ritual ‘Basapa’ yaitu berzikir, membacakan tahlil dan tahmid. Rangkaian ritual ‘Basapa’ dilakukan di Korong Koto Panjang, Korong Tanjung Medan, dan Manggopoh Palak Gadang di Ulakan

Katanya, Surau Pondok Ketek salah satu Cagar Budaya Peninggalan Syekh Burhanuddin yang telah berusia 413 tahun itu sebagai tempat ‘Mengaji’ pengembangan Islam dan tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Syekh Burhanuddin pada saat itu.

“Syekh Burhanuddin banyak meninggalkan pusaka diantaranya berupa jubah dan peci sebanyak 4 helai yang usianya jauh dari keberadaan Syekh Burhanuddin itu sendiri,hingga saat ini benda sejarah yang ditinggalkan beliau masih tersimpan di Surau Pondok Ketek ini” kata dia.

Dinilai tak sangup lagi menampung jamaah, kata dia, Surau Pondok Ketek sebagai penyimpanan benda berharga peninggalan Syekh Burhanuddin dilakukan pemugaran. “Syukur Alhamdulliah bangunan Surau Pondok Ketek saat ini sudah dapat menampung jamaah dari sebelumnya,” kata dia.

Selain bulan Syafar yang mashur dengan Syafa Gadang dan Syafa Ketek, pada bulan Rajab dan Sa’ban juga menjadi puncak ramainya jamaah yang datang ke Surau Pondok itu. Semuanya itu merupakan tradisi sejak dulunya oleh jamaah yang bertalian dengan Syekh Burhanuddin dari berbagai daerah di Sumatera Barat ini.

“Disini mereka melakukan tradisi wirid pengajian, tahlil dan terakhir melihat dari dekat pakaian kebesaran Syekh Burhanuddin. Jadi artinya, tradisi ritual Basapa diawali di Surau Pondok Ketek ini, setelah itu barulah para jamaah berziarah ke makam Syekh Burhanuddin” kata dia menghakiri. (Herry Suger)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas