Satu Siswa UN di Rumah Sakit Direktur: Difasilitasi Ruangan Khusus

Kadisdik Desmon didampingi Direktur RSUD dr Ardoni saat meninjau siswa SMKN 2 Padangpanjang yang menjalani UN di rumah sakit setempat.

Kadisdik Desmon didampingi Direktur RSUD dr Ardoni saat meninjau siswa SMKN 2 Padangpanjang yang menjalani UN di rumah sakit setempat.

Padangpanjang, PADANGTODAY.com-Berbeda dengan ribuan siswa lainnya yang tengah konsentrasi mengikuti proses Ujian Nasional (UN) hari pertama di sekolah masing-masing, pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Padangpanjang harus berjuang keras menyelesaikan jawaban lembaran soal di ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Siswa jurusan Tekhnik Komputer Jaringan (TKJ) II, Taufik Hidayat tampak fokus mengerjakan lembaran jawaban UN meski dengan kondisi tergolong kritis akibat DBD yang menyerangnya semenjak Minggu (12/4) kemarin. Di ruangan rawat inap yang khusus disediakan pihak rumah sakit, Taufik mengerjakan soal-soal UN dengan pengawalan ketat oleh dua orang guru pengawas dan satu guru sekolah terkait.

DIrektur RSUD Padangpanjang, dr Ardoni menyebutkan siswa SMKN 1 tersebut divonis DBD saat memeriksakan kesehatan. Saat itu, yang bersangkutan dikatakan tidak bersedia dirawat karena akan mengikuti UN. Namun karena DBD berdasarkan analisis medis dinyatakan yang bersangkutan telah pada kondisi kritis, pihak rumah sakit tetap menyarankan untuk dirawat.

“Awalnya yang bersangkutan tidak bersedia dirawat karena akan mengikuti UN. Akan tetapi karena kondisi kritis yang mengharuskannya dirawat, kami menyampaikan bahwa pelaksanaan UN akan difasilitasi rumah sakit dengan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan. Alhamdulillah, Disdik puhn mengizinkan dengan syarat diberikan ruangan khusus,” ujar Ardoni.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Desmon pada kesempatan meninjau Taufik Hidayat di ruangan rawat inap Intan III pada RSUD kota Serambi Mekkah itu menyampaikan yang bersangkutan difasilitasi rumah sakit untuk UN karena tidak bersedia ujian susulan. Dalam pelaksanaannya, siswa terkait tetap mendapatkan pengawasan ketat untuk kerahasiaan soal oleh dua tenaga pengawas dan satu guru sekolah terkait.

“Keamanannya tetap kita utamakan dengan menempatkan dua petugas pengawas UN dan satu guru sekolah terkait. Hanya saja untuk siswa kita berikan kelonggaran untuk lama pengerjaan. Waktu yang semestinya 120 menit, kita lakukan sedikit fleksibel mengingat kondisinya sangat lemah akibat sakit yang diderita,” jawab Desmon. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*