Satupena Sumbar akan Bedah Dua Buku Sekaligus: Menyingkap Wajah Minangkabau “Bersama” Tuanku Nan Renceh

Pengurus DPD Satupena Sumbar

Padang – Baru sebulan dikukuhkan, DPD Satupena Sumatera Barat, sebuah komunitas penulis terbesar di Sumatera Barat, memiliki anggota 200-an orang, langsung tancap gas.

“Alhamdulillah, kita sudah merampungkan program kerja satu tahun ke depan. Sejumlah agenda juga sudah dilaksanakan,” kata Ketua I DPD Satupena Sumatera Barat Sastri Bakry, di Padang, sesaat selepas buka puasa, Selasa (26/4).

Sepanjang tahun ini, katanya, ada beberapa kegiatan dilaksanakan. Puncaknya, direncanakan Februari 2023 dengan menghadirkan program Internasional Minangkabau Literacy Festival 2023. Pesertanya bukan saja anggota Satupena Sumbar, tetapi juga penulis Satupena se-Indonesia dan sejumlah peserta dari luar negeri.

Sebelum sampai ke puncak program tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan sejumlah kegiatan, sekaligus “pemanasan” bagi Satupena untuk program puncak tersebut.

“Selepas lebaran nanti, kita akan usung buku, musik dan halal bi halal, di Padang,” kata Sastri Bakry.

Kegiatan ini, katanya ditujukan untuk semua anggota Satupena Sumatera Barat. Sekaligus sebagai ajang silaturrahmi, sebab saat pengukuhan Maret 2022 lalu, peserta yang datang dibatasi karena keterbatasan tempat dan hal-hal lainnya.

Iven Buku, Musik dan Halal bi Halal, direncanakan di Taman Pucuk Merah Café, dimulai pukul 13.30 WIB. Selain dilaksanakan Halal bi Halal, juga ada pentas musik dan bedah buku.

“Kita akan membedah dua buku sekaligus,” kata Sastri Bakry.

Kedua buku tersebut, pertama Tuanku Nan Renceh, karya Irwan Setiawan, anggota Satupena Sumatera Barat. Buku kedua, Menyingkap Wajah Minangkabau (Paparan Adat dan Budaya) karya Yus Datuk Parpatih.
“Mak Datuk Yus Parpatih bukan anggota Satupena, namun kami memberikan apresiasi kepada beliau,” kata Sastri.

Mengapa apresiasi diberikan kepada Yus Datuk Perpatih? Selain beliau seorang budayawan Minangkabau yang konsisten dijalurnya, pengembangan dan mengawal budaya dan adat istiadat, ternyata ada hal yang mengejutkan. Disaat usianya sudah 84 tahun, ternyata beliau masih menulis. Menggunakan mesin tik.

“Saat kami bersilaturrahim ke kediaman beliau di Sungai Batang, kami menemukan berkas tulisan mesin tik di meja kerjanya. Ada sejumlah koreksian di kertas yang sudah ditulis tersebut,” Sastri Bakry menjelaskan.

Kedua buku tersebut dibahas oleh pembahas berbeda. Menyingkap Wajah Minangkabau akan dibahas Hasril Chaniago (Penasihat Satupena Sumatera Barat), dipandu Dr Hermawan. Buku Tuanku Nan Renceh dibahas Januarisdi dan dipandu Sry Eka Handayani, semuanya pengurus DPD Satupena Sumatera Barat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*