Selamat Datang Tahun Ketidakpastian “Falter Year” 2023

Oleh: Tomi Syavitra, 03 Januari 2023

Tomi Syavitra, Founder & CEO Syavitra SOLUTIONS, Dosen Studi Kelayakan Bisnis Perbanas Institute Jakarta

IMF memperingatkan bahwa sepertiga negara di dunia akan mengalami resesi pada tahun 2023. Perang di Ukraina, kenaikan harga, kenaikan suku bunga, dan penyebaran virus Covid di China memengaruhi ekonomi global.

Pertumbuhan Ekonomi 2023

Pemerintah Indonesia memprediksi ekonomi negara akan tumbuh sebesar 5,3% pada tahun 2023, sejalan dengan proyeksi pada rentang 4,7% hingga 5,1% dari berbagai lembaga internasional. Proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2023 tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan outlook perekonomian global tahun 2023 yang diperkirakan berada pada kisaran 2,2% hingga 2,7% (Haryo Limanseto, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 06 Desember 2022)

Biaya Hidup

Saat ini kita hidup di tengah banyak krisis. Kita menghadapi krisis biaya hidup, krisis perubahan iklim, dan pandemi Covid-19 telah menunjukkan betapa rentannya kita  terhadap ancaman yang tak terlihat.

Menurut Ipsos, masyarakat Indonesia memprediksi kenaikan biaya hidup  pada tahun 2023. Lebih dari setengah dari mereka yang disurvei memprediksi kenaikan harga  makanan,  listrik dan gas serta biaya rumah tangga lainnya. Kemudian masyarakat Indonesia merasa inflasi  tahun depan akan meningkat lagi (73%), pengangguran akan meningkat (72%), beban pajak (52%) dan suku bunga bank akan lebih tinggi dari hari ini (51%).

Standar Kelas Sosial

Musim dingin 2022 ini, Bank Dunia mengubah aturan untuk kelas berpenghasilan menengah ke bawah dan kelas berpenghasilan menengah ke atas.

Batas kelas penghasilan menengah ke bawah dinaikkan menjadi US$ 3,65 atau Rp 55.590. per orang per hari dari sebelumnya US$ 3,20 atau Rp 48.740.  Sementara itu, batas kelas berpenghasilan menengah ke atas menjadi US$ 6,85 atau Rp 104.325 per hari dari sebelumnya US$ 5,50 atau Rp 83.675 per hari.

Maka jumlah warga kelas menengah miskin Indonesia akan bertambah 27 juta menjadi 168 juta.

Pertumbuhan konsumsi diperkirakan akan melambat pada tahun 2023, sehingga sebagian besar konsumen merasakan tekanan inflasi dan resesi yang membayangi. Otomatis, pengeluaran yang tidak penting akan berkurang.

Melalui indepth interview pada salah satu perusahaan besar di Indonesia, di meja CEO mereka telah siap dengan exit plan pemangkasan sampai 40% jumlah karyawan mereka, jika resesi berkepanjangan benar-benar terjadi di Indonesia.

Apa Yang Harus Dilakukan oleh Pemerintah, Pengusaha dan UMKM

Pemerintah melakukan respons berbagai kebijakan untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi dan target outlook ke depan, dilakukan Pemerintah secara terukur dan penuh kehati-hatian. Kebijakan tersebut termasuk dengan mendorong pengembangan UMKM untuk naik kelas, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui Program Kartu Prakerja, mendorong kebijakan fiskal sebagai shock absorber, melanjutkan reformasi struktural, dan terus melakukan upaya stabilisasi harga, menyebabkan Indonesia terhindar dari resesi tahun 2023.

Pengusaha dan UMKM 

Pertama, Pengusaha dan UMKM harus kian bertumpu otomasi dan layanan mandiri guna mensiasati kurangnya staf karyawan. Tahun 2023, isu ketenagakerjaan akan tetap jadi isu menantang, khususnya bagi anggaran semua perusahaan.

Kedua, Pengusaha dan UMKM harus mampu mengimplementasikan lebih banyak program dengan anggaran yang lebih kecil dan fokus pada program pemasaran dengan nilai pendapatan tertinggi dengan cara sebagai berikut: 1) berkolaborasi dengan influencer, 2.) memperkuat brand awareness dan brand existance perusahaan dengan video singkat dan konten menimbulkan customer experience kepada perusahaan, 3.) berkolaborasi dengan pengguna, 4.) memanfaatkan media online sebagai sarana SEO.

Tomi Syavitra, Founder & CEO Syavitra SOLUTIONS, Dosen Studi Kelayakan Bisnis Perbanas Institute Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*