Selang Sepuluh Tahun, Ketam Ubi Bisa Sampai Larut Malam

Ibu-ibu pekerja upah pemotong ubi kayu di RT02/RW02, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh masih bekerja walau sudah masuk waktu siang.

Ibu-ibu pekerja upah pemotong ubi kayu di RT02/RW02, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh masih bekerja walau sudah masuk waktu siang.

Advertisements

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Hari sudah terik, sementara batang-batang ubi masih banyak bertumpuk. Waktu sudah menunjukkan tengah hari. Matahari pula, ikut berada di atas ubun-ubun. Selayaknya siang hari yang wajar, teriknya matahari di atas ubun-ubun itu harusnya dapat dinikmati sebagai waktu istirahat sembari melakukan santap siang.

Namun tidak bagi beberapa ibu-ibu di RT02/RW02, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Sabtu (3/9). Setiap hari, ibu-ibu tersebut harus merelakan waktu-waktu yang sewajarnya digunakan sebagai istirahat siang untuk jam ekstra mengejar upah mereka. Menahan rasa lapar saat bekerja menjadi hal yang harus dibiasakan. Begitulah suasana yang dialami ibu-ibu pengetam ubi kayu di tempat tersebut hampir setiap hari.

Lurah Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat Gusmardi Tanjung, bersama Padang-Today.com siang itu ikut melihat jerih-payah ibu-ibu yang bekerja sebagai pekerja upah pemotong ubi kayu tersebut.

“Harus kami kerjakan dari pagi-pagi hari,” adu salah seorang ibu-ibu pekerja di sana.

Menurut pengakuan, ibu-ibu di sana mereka mengerjakan ubi-ubi kayu tersebut untuk dipotong-potong hanya beralatkan pisau dan ketam ubi seadanya. Tak jarang, sebab tangan yang terkena kontak langsung dengan ubi-ubi kayu seperti itu membuat getah melekat dan menimbulkan alergi kulit yang cukup perih. Tangan mereka kerap gatal dan timbul bercak-bercak. Meski demikian, lebih sering dibiarkan sembuh sendiri.

Lurah Gusmardi yang melihat hal itu mengaku terenyuh hatinya. Diakuinya, melihat jasa upah yang dijalankan ibu-ibu di sekitar lingkungan tersebut sekadar mengejar bayaran limapuluh ribu rupiah adalah hal yang membuat iba hati.

“Kadang mereka mengerjakan sampai larut malam, sebab tak terkejar untuk selesai cepat mengetam dan memotong ubi-ubi kayu sebanyak itu. Betapa tidak, alat yang dipakai masih serba manual, cuma dibantu pisau dan ketam ubi seadanya. Bahkan ini sudah berlangsung sepuluh tahun, masih berjalan statis dan tak ada peningkatan,” iba Gusmardi.

Ditambahkan oleh Gusmardi, usaha tersebut masih dijalankan warganya sekadar jasa upah begitu saja. Bila ada pesanan, maka ibu-ibu tersebut dapat bekerja. Itu pun cuma diupah limapuluh ribu dan kerap dikerjakan sampai larut malam. Bila tak ada pesanan pemotongan, tentu ibu-ibu tersebut tidak bekerja.

Padahal, ia melihat potensi yang dimiliki usaha ubi kayu tersebut sangatr besar. Dinilainya bahwa usaha itu, bila dikembangkan dan diberi modal yang mencukupi dapat menjadi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menopang kehidupan rumah tangga mereka.

“Kita melihat ini berpotensi untuk dijadikan UKM , bahkan bisa menopang hidup ibu-ibu ini dan keluarga. Hanya saja perlu bantuan dari Dinas Koperindag untuk memberikan bantuan modal usaha dalam pengembangannya,” ucap Gusmardi.

Ibu-ibu pekerja upah pemotong ubi kayu di RT02/RW02, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh masih bekerja walau sudah masuk waktu siang.

Ibu-ibu pekerja upah pemotong ubi kayu di RT02/RW02, Kelurahan Talang, Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh masih bekerja walau sudah masuk waktu siang.

Dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kota Payakumbuh, Lurah Gusmardi berharap diberikan bantuan berupa mesin pemotong ubi kepada ibu-ibu ini. Menurutnya, pemberian bantuan mesin pemotong ubi itu dapat meningkatkan dan mempersingkat waktu produksi. Lebih lagi, bantuan seperti demikian bisa mencegah resiko alergi akibat terlalu lama tangan kontak dengan getah ubi-ubi yang dipotong.

Selain itu, Lurah Gusmardi menginginkan adanya perhatian serius terhadap potensi UKM dari Diskoperindag.

“Bila sudah diberi mesin dan modal usaha, serta berjalan sebagai industri UKM, usaha ini dapat menjadi mata pencarian paling tidak menopang 15 KK di sini. Lebih lagi, kita sama-sama berharap pemberian bantuan juga disertai dengan pembinaan dan pendampingan sampai industri UKM ini berjalan baik. Bila sudah bisa produksi lebih cepat dan mampu untuk mengemas dan memasarkan sendiri dalam bentuk keripik, pendapatan ibu-ibu di sini bisa meningkat dan memperbaiki perekonomia mereka,” tutup Gusmardi penuh harap.(Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*