Silek Lanyah Atraksi Memukau di Padang Panjang

Padangpanjang, Padang-today.com – Banyak aliran silat yang ada di Minangkabau, di antaranya ada silat kumango, silat lintau, sitaralak, sungai patai, pasaman. Tapi ada satu silat di Padang Panjang, namanya silat kubu gadang. Warga setempat menyebut “silek lanyah” atau silat lumpur. Bermain silat ini di dalam sawah yang lanyah (berlumpur), kini menjadi suguhan kepada tamu yang datang.

Advertisements

“Bila berkunjung ke Dusun Kubu Gadang, Kelurahan Ekor Lubuk, Padang Panjang Timur, tepat di tepi jalan kampung Kubu Gadang, ada sawah yang tidak ditanami seluas lapang bola volly. Di sana pesilat muda akan menunjukkan kebolehannya kepada tamu,” kata Walikota Padang Panjang, Hendri Arnis melalui Kabag Humas Setdako Ampera Salim di ruang kerjanya, beberapa waktu lampau.

Silat lanyah atau bersilat dalam lumpur ini, beberapa waktu lalu perneh tampil di rubrik seribu kata Majalah Tempo. Waktu itu ada kunjungan beberapa tamu pejabat tinggi dari Jakarta ke Padang Panjang. Mereka yang juga terdiri dari beberapa wartwan foto, sempat melihat pesilat muda yang melayang, terbang menghayun kaki, menendang dalam sawah berlumpur.

Setiap penonton pasti berdecak kagum melihatnya. Mereka tidak hanya bermain tangan kosong. Tapi juga memakai pisau senjata tajam. “Datanglah ke Padang Panjang, jika ingin melihat langsung,” kata walikota.

Dari keterangan yang diperoleh, “Silek Lanyah” merupakan Silek Tuo Asli Rang Kubu Gadang Padang Panjang. “Silek” atau Silat merupakan seni tradisi beladiri turun temurun yang ada di Minangkabau. Bermacam filosofi terkandung dalam ajarannya, begitu juga dengan teknik dan metode dalam ‘mendidik’ watak penggiatnya.

Tradisi inilah yang kemudian kembali gencar diangkat oleh masyarakat Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang setelah sempat mati suri beberapa waktu. Berdasarkan sejarah kesenian lokal, ternyata silek sudah sangat akrab melekat dengan sendi kehidupan masyarakat Kubu Gadang dikelurahan Ekor Lubuk kecamatan Padangpanjang Timur.

Dan siapa sangka jika di kota Padang Panjang kota berjuluk “Serambi Mekah” itu, juga merupakan daerah asal salah satu guru besar silek tuo perempuan di Minangkabau bernama “Inyiak Upiak Palatiang” yang konon disaat berusia seabad lebih, ternyata masih piawai bersilat dengan lincah hingga penghujung hayatnya.

Beberapa waktu lampau, orang di luar Sumbar mungkin tak sering mendengar Padang Panjang. Tapi kini kota berjuluk serambi mekah itu, sudah lekat diingatan setiap orang pernah atau akan berwisata ke Sumbar.

Selain silek lanyah, yang kini sedang tren dikunjungi wisatawan di Padang Panjang, nuansa alam kota ini juga dikagumi para pendatang. Kota kecil yang elok rupa ini, dikelilingi pegunungan dengan pohon-pohon menjulang dari hutan primer yang hijau.

Kota dengan wilayah terkecil di Sumatera Barat ini berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, berada pada kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan suhu udara maksimum 26.1 °C dan minimum 21.8 °C, dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm/tahun.

“Inilah salah satu kota yang alamnya bernuansa pedesaan. Udaranya bersih. Masyarakatnya ramah. Setiap pejabat daerah lain yang melakukan kunjungan kerja ke Padang Panjang, pasti memuji keindahan alam dan keramahan warga kota ini,” kata Ampera Salim.

Sementara, Akhyari Hananto, seorang penikmat wisata dari Jakarta mengatakan, “Jika di Jawa kita punya Bogor yang berjuluk Kota Hujan, maka Padang Panjang adalah Kota Hujan di Sumatera. Saya mengunjungi kota ini di hari-hari awal musim hujan, dan benar saja hujan di sini benar-benar deras,” kata Hananto.

Di bagian utara dan agak ke barat Padang Panjang berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat yang menjulang. Kota ini punya banyak julukan lain selain kota hujan. Masyarakat Padang Panjang sangat bahagia dengan sebutan Kota Serambi Mekkah.

Pada masa lalu, Belanda menyebut Padang Panjang dengan Egypte van Andalas (Mesir di Tanah Sumatera), Kota Pendidikan karena banyaknya institusi pendidikan dan sejarah panjang bagaimana kota ini memerankan peran pendidikan sejak masa lalu.

Sejak zaman kolonilal, Padang Panjang memainkan peran penting sebagai tempat persinggahan dan menjadi simpul 3 kota utama di pulau emas tersebut, yakni Medan, Padang, dan Pekanbaru.

Tak heran, banyak tokoh-tokoh Sumatera Barat di masa itu mempunyai irisan penting dengan Padang Panjang yang juga menjadi tujuan pendidikan di masa lalu. Mulai dari Sutan Sjahrir, Hamka, AA Navis dan masih banyak lagi.

“Saya tak ingat satu persatu. Di sinilah berdiri sekolah agama modern pertama di Indonesia, yakni Diniyah School dan Diniyah Putri, juga yayasan pendidikan Thawalib tempat Hamka pernah menuntut ilmu,” kata Hananto dalam sebuah tulisannya.

Melukiskan rasa kagum kepada Padang Panjang Akhyari Hananto menyebut, “Di Padang Panjang lah, setting cerita fenomenal Tenggelamnya Kapal van Der Wick, salah satu cerita yang sangat saya sukai,”.

Dia juga mengatakan dengan jujur, “Di Padang Panjang saya diterima sebagai keluarga, dan saya begitu merasa terhormat bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang begitu mencintai kotanya. Mereka mencurahkan waktu tenaga dan pikirannya untuk kemajuan kota kecil yang indah ini,” tulisnya.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Padang Panjang, selain bisa menikmati alamnya yang indah, juga bisa dirasakan kulinernya yang enak. Selain itu tamu yang datang juga akan disuguhi atraksi memukau, yaitu bersilat dalam lumpur. Itulah yang disebut “silek lanyah”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*