Skotlandia Inginkan Kemerdekaan Dari Inggris

kemerdekaan_skotlandiaSkotlandia, PADANGTODAY.com – Sesungguhnya permusuhan rakyat Skotlandia dengan Inggris secara diam-diam telah terjadi. Bahkan mereka lebih memusuhi bangsa Britania dibanding Yahudi, walau anti-Semit juga ada di pelbagai kota di Skotlandia. Seorang jurnalis berdarah Yahudi-Inggris punya pengalaman diskriminasi saat kecil.

Advertisements

Skotlandia lusa bakal menuju babak baru dalam kehidupan bernegara mereka. Setelah sekian lama menjadi bagian dari Inggris Raya, rakyat negeri itu menginginkan kemerdekaa.

Jenni Frazer lahir dan besar di Kota Glasgow, Skotlandia bercerita saat dia melakukan hal nakal di sekolah gurunya akan menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam satu sama lain. “Maklum saja, ibunya Inggris,” ujar mereka dan ini semacam sindiran yang halus namun menusuk.

Frazer juga mengatakan banyak warga Skotlandia menganggap pendidikan mereka lebih unggul dibanding Inggris dan punya hubungan dengan Britania merupakan kerugian besar. Berbeda saat dia menjadi Yahudi, walau harus mengganti nama aslinya yakni Frieze namun tetap diterima baik dan warga Yahudi bergaul erat dengan penduduk asli.

Sejatinya di awal bulan kedudukan pendukung referendum dan mereka yang menolak masih sama. Hanya sekitar delapan persen warga belum tahu harus memilih mana. Itulah sebabnya pegiat kemerdekaan Skotlandia Fraser Leith dan seluruh warga memilih lepas dari Inggris giat menyusuri pintu-pintu penduduk layaknya penjaja barang. Mereka mengetuk setiap rumah dan menawarkan kemerdekaan serta keyakinan negara itu akan lebih baik tanpa Inggris.

“Katakan ya untuk Skotlandia,” ujar Leith pada seorang perempuan tua di pintu. Wanita itu sebelumnya pernah mengatakan pada Leith, dia belum memberi suara untuk referendum. “Aku akhirnya memutuskan. Tidak pernah ada akhir yang baik dari negara yang terpisah,” ujar perempuan itu sembari menutup pintunya. Leith hanya tersenyum.

Leith sendiri memutuskan memilih kemerdekaan bagi Skotlandia lantaran sudah mual dengan pelbagai kebijakan politisi Inggris, terutama sekali mengurangi anggaran dan layanan bagi warga yang cacat dan miskin. “Ini bukan demokrasi sejauh mata saya melihat,” ujar Leith. Dia sempat merasa senang sebab lonjakan pendukung bebas dari Britania semakin besar. Namun nampaknya senang ini hanya sementara. Berdasarkan lansiran stasiun televisi Al Arabiya (13/9) ternyata yang memilih masih ingin bergabung dengan Inggris lebih unggul.

Perbedaannya tipis. Hanya sekitar 6,2 persen. Sembilan persen lainnya belum mengambil keputusan dan diantaranya menolak memberitahu pilihan mereka. Meski hanya sekitar 1.004 responden yang disurvei tapi ini jelas membuat deg-degan mereka yang mendukung kemerdekaan.

Apapun pilihannya tentu rakyat Skotlandia telah mengerti betul untung-rugi mereka jika berpisah dari Inggris. Meski merdeka bakal menghadapkan mereka pada pelbagai potensi, termasuk diserang ekstremis seperti kata Perdana Menteri Britania David Cameron, namun kebebasan menentukan kesejahteraan diri sendiri tentu rasanya luar biasa ketimbang harus mengikuti kebijakan negara induknya.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*