SUTANTO KEMBALI DITUNTUT EMPAT TAHUN

Padang-today.com – Xaveriandy Susanto bos gula di Padang masih menjalani hukuman,dituntu Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) empat tahun,dan pidana denda sebesar Rp 100 juta serta subsider empat bulan kurungan penjara.

KPK menuntut terdakwa Xaveriandy Susanto, karena terbukti melakukan suap kepada salah seorang oknum jaksa di Kejaksaan Tinggi Sumbar, pada beberapa waktu.

“Menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa Xaveriandy Susanto berupa pidana penjara selama empat tahun,dan pidana denda sebesar Rp 100 juta serta subsider empat bulan kurungan penjara,” kata JPU Helmi Syarif, saat membacakan amar tuntutannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Padang.

Helmi menambahkan bahwa, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintah yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Terdakwa juga pernah dihukum dalam perkara lain.

Helmi menjelaskan,perbuatan terdakwa melanggar pasal   5 Undang-undang 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Selain itu JPU juga menuturkan bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi semua unsur dalam melakukan penyuapan,”ujarnya.

Terhadap tuntutan tersebut, terdakwa yang didampingi Penasihat Hukum (PH) Defika Yufiandra bersama tim, akan mengajukan nota pembelaan (pleidoi). “ Untuk itu kami berikan waktu kepada PH terdakwa untuk mempersiapkan pleidoi selama satu minggu.

Maka dari sidang kita tunda dan dilanjutkan kembali pada 26 Mei 2017 mendatang, sidang ditutup,” kata hakim ketua sidang Yose Ana Roslinda dengan didampingi hakim anggota Mahyudin dan  Elysiah Plorence.

Usai sidang di Pengadilan Tipikor Padang terdakwa Xaveriandy Susanto langsung meninggalkan ruang sidang. Dari pantauan, terlihat sejumlah polisi membawa senjata laras panjang, untuk mengawal terdakwa XaveriandySusanto. Kemudian terdakwa masuk ke dalam mobil tahanan.

Dalam dakwaan JPU dikatakan, terdakwa Xaveriandy Susanto, memberikan uang kepada Farizal dengan beberapa tahap, yang mana jumlah secara keseluruhannya Rp 440 juta.

Hal ini bertujuan, untuk mengurus perkaranya kasus peredaran gula tanpa SNI seberat 30 ton, di Kota Padang dan meringankan hukuman, serta pembuatan nota keberatan terhadap dakwaan (eksepsi).

Sebahagian besar pemberian uang itu terjadi di rumah Farizal, Lubuk Minturun, Koto Tangah, daerah setempat.

Penyerahan uang dilakukan beberapa kali, pertama untuk kepentingan penahanan total uang sebesar Rp55 juta. Rinciannya pertama diserahkan sebesar Rp20 juta, lalu Rp15 juta, dan terakhir Rp20 juta.

Penyerahan uang dilakukan dengan cara meletakkan di halaman depan rumah terdakwa Farizal.

Selanjutnya untuk pengurusan perkara di pengadilan Xaveriandy Sutanto memberikan uang sebesar Rp150 juta. Uang itu diterima pada 3 Agusutus 2016 sekitar pukul 22.00 WIB. Penyerahan uang itu dilakukan dengan, dengan cara dimasukkan dalam kardus lalu diletakkan dekat taman bunga rumah milik terdakwa.

Kemudian pengurusan pembuatan nota keberatan (eksepsi) dilakukan melalui komunikasi yang dilakukan dengan Farizal di gudang gula milik Xaveriandy Sutanto, di kilometer 22 By Pass Padang.

Pada saat itu juga dibahas tentang peringanan tuntutan.

Dalam pertemuan tersebut Farizal menyebutkan dirinya akan memberi tuntutan ringan berupa hukuman percobaan. Untuk hal itu XaveriandySutanto diminta menyiapkan uang sebesar Rp200 juta.

Penyerahan uang Rp200 juta itu dilakukan dalam tiga transaksi. Pertama diserahkan sebesar Rp50 juta, lalu Rp10 juta, dan terakhir Rp160 juta.

Penyerahan uang Rp50 juta dilakukan pada 12 Agustus 2016 melalui seseorang bernama Loli Vianda di BNI Cabang Veteran, Padang.

Kemudian penyerahan uang Rp10 juta dilakukan di mini market Tanaka Mart Jl Kampung Kelawi Nomor 88 Padang, pada 7 September 2016.

Lalu penyerahan terakhir di mini market yang sama pada 7 September 2016 sekitar pukul 21.30 WIB. Uang tersebut dimasukkan dalam kardus dan diletakkan di pinggir jalan.  Selain itu disebutkan di luar kepentingan-kepentingan tersebut Xaveriandy Sutanto juga pernah menyerahkan uang lainnya sebesar Rp35 juta.

Dalam kasus tersebut  Xaveriandy Sutanto berstatus sebagai terdakwa, dan Farizal berstatus sebagai ketua tim Jaksa Penuntut Umum (JPU).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*