Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Padang Pariaman Masih Andalkan Sektor Pertanian

Bupati Padang Pariaman bersama Gubernur berdialog penyuluhan sektor pertanian.

Bupati Padang Pariaman bersama Gubernur berdialog penyuluhan sektor pertanian.

Advertisements

PADANGPARIAMAN, PADANGTODAY.com-Kabupaten Padangpariaman hingga kini masih mengandalkan sektor pertanian sebagai ujung tombak perekonomian masyarakat. Sebagian masyarakat Padangpariaman masih menggantungkan hidupnya disektor tersebut.

“Kita dapat melihat dengan 25 parsen PDRB Padangpariaman disumbangkan dari sektor pertanian,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Padangpariaman Yurisman dan Kabag Humas Pemkab Padangpariaman Hendra Aswara kepada Padangtoday, kemarin.

Katanya, dinasnya adalah salah satu SKPD yang melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pertanian peternakan dan kehutanan, berdasarkan azas otonomi daerah dan tugas pembantuan.

SKPD ini merupakan perpanjangan tangan pemerintah daerah dan pusat melayani masyarakat tani dalam menjalankan usahataninya dan urusan lain yang berhubungan dengan sector pertanian.

“Berbagai upaya telah kita lakukan dalam memberikan pelayan kepada masyarakat tani selama periode 2010-2015 dan menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian peternakan dan kehutanan,” ujarnya.

Dikatakanm perubahan dan inovasi yang telah dilaksanakan, seperti teknologi Padi Tanam Sabatang (PTS). PTS ini adalah salah satu teknologi dalam rangka peningkatan produktivitas padi sawah.

“Teknologi ini pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Universitas Andalas Padang. Sejak tahun 2006 teknologi ini telah diuji coba dilapangan melalui SL (Sekolah Lapang) di kelompok tani,” ujarnya.

Sampai saat ini teknologi ini jelasnya, sudah mulai memasyarakat dikalangan kelompok tani, karena dengan teknologi PTS produktivitas mencapai 8 sampai 10 ton per hektar.

Jika dihitung secara ekonomis teknologi ini dapat meningkatkan pendapatan petani sampai Rp. 15.000.000 per hektar. Salah satu bukti keberhasilan PTS ini adalah diterimanya penghargaan Peningkatan Produksi Beras Nasional tahun 2010 dan 2014 atas keberhasilan Padangpariaman dalam meningkatkan produksi beras lebih dari 5 parsen.

“Mulai tahun 2015 teknologi PTS diintegrasikan pada kegiatan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT). Dalam GPPTT ini teknologi PTS diintegrasikan dengan teknolgi jajar legowo, dimana sistim tanam dengan pola 2:1 dan 4:1,” ujarnya.

Kemudian katanya, terdaftarnya jambu biji merah piraweh Pariaman sebagai varietas asli Padangpariaman pada Dirjen Hortikultura Kemeterian Pertanian RI. Pengembangannya di Nagari Ampalu Kecamatan VII Koto Sungai Sarik sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan luas 1 hektar.

“Sampai saat ini pertanaman jambu biji ini sudah mencapai 25 hektar dengan produksi 250 ton per tahun. Pemasaran jambu biji ini di seluruh daerah dalam Propinsi sampai luar Propinsi Sumbar. Pengembangan kawasan pun sudah mulai dilakukan pada tahun 2014,” ujarnya.

Selanjutnya, nagari model kakao, pembangunan sarana dan prasarana pertanian, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier, embung dan dam parit

jaringan. Semua itu salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas padi sawah adalah ketersediaan air irigasi dalam jumlah dan waktu yang tepat.

Pengembangan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah salah satu teknologi tepat guna yang merupakan pilihan utama dalam peningkatan mutu genetic ternak. Melalui kegiatan IB penyebaran bibit unggul ternak sapi dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan murah serta dapat meningkatkan pendapatan petani ternak.

“Mulai tahun 2010 teknologi IB ini sudah mulai memasyarakat dikalangan peternak sapi, sehingga itu perlu peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya petugas IB,” ujarnya.

Juga katanya, sapi perah tahun 2012 mulai dikembangkan, seperti di Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam, VII Koto Sungai Sarik, Kecamatan Patamuan, Kecamatan Padang Sago, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kecamatan V Koto Timur, Kecamatan Sungai Geringging dan Kecamatan IV Koto Aur Malintang.

Tahun 2012 kelompok peternak banda manggis memulai kegiatan ini dengan bantuan langsung 12 ekor sapi perah dari dana APBN. Tahun 2013 mulai pengembangan dengan kelompok peternak talago sakato dengan jumlah sapi perah 25 ekor.

“Tahun 2015 ini ketua kelompok Talago Sakato ini mengikuti seleksi di Dirjen Peternakan untuk magang di New Zealand,” ujarnya.

Apalagi katanya, produk sapi perah ini berupa susu sapi segar dengan produksi 20 liter per hari dan dipasarkan di Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam dan Kota Padang Panjang. Untuk masa yang akan datang perlu pembinaan dan dukungan dana yang cukup dari APBD sebagai dana sharing untuk pengembangan kawasan. Kondisi saat ini belum ada pengembangan ke kecamatan lainnya dalam kawasan, masih di Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam.

Terbentuknya hutan kemasyarakatan dan hutan nagari yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat. Pemberdayaan msyarakat setempat dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat untuk mendapatkan manfaat sumberdaya hutan secara optimal dan adil melalui pengembangan kapasitas dan pemberian akses dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. (eri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*