Tolak Pungutan, Fasilitas Siswa Di Batasi

ruang-kls
TULUNGAGUNG, PADANGTODAY.com-Penolakan rencana pungutan oleh orang tua siswa baru di SMPN 1 Tulungagung berdampak pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu. Buktinya, sebagian siswa tidak mendapat fasilitas yang memadai di sekolah favorit bekas RSBI tersebut. Di antaranya, beberapa siswa harus belajar di ruang laboratorium karena minimnya jumlah ruang kelas. Fasilitas AC pun dimatikan.

Advertisements

Berdasar informasi dari seorang guru yang enggan disebutkan namanya, sebagian siswa terpaksa mendapat fasilitas yang berbeda dengan siswa lainnya. Sebab, sejumlah orang tua siswa menolak rencana pungutan dalam rapat Kamis (21/8).

Salah satu yang terkena dampak adalah ruangan kelas VII D. Ruangan tersebut semula memiliki fasilitas AC, namun saat ini dimatikan sekolah. ’’Ada wali murid dari kelas VII D yang vokal saat rapat. Karena itu, seluruh orang tua siswa ikut terprovokasi,’’ jelasnya.

Selain itu, sejumlah siswa terpaksa belajar di luar ruangan karena belum memiliki ruang kelas. Di antaranya, ada yang terpaksa belajar di ruang laboratorium dan lapangan. ’’Itu sekadar informasi dan tentunya sekolah memiliki alasan tersendiri, apakah karena orang tua siswa yang menolak pungutan atau sekolah memang kekurangan fasilitas,’’ lanjutnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 1 Tulungagung Mustar menyatakan bahwa sekolah yang dibinanya tersebut masih memerlukan banyak biaya. Sebab, dana dari bantuan operasional sekolah (BOS) tidak cukup untuk melengkapi fasilitas yang dibutuhkan sekolah. Termasuk, perbaikan serta peningkatan mutu sekolah.

“Saat rapat, saya menyampaikan rencana pungutan kepada orang tua siswa yang meliputi dana operasional dan perbaikan sarana dan prasarana. Totalnya mencapai Rp 1.915.000,” ungkapnya.

Namun, sebelum pihak sekolah dan komite sekolah selesai menyampaikan penjelasan, seorang wali murid justru menyudutkan sekolah terkait dengan pungutan tersebut. Menurut orang tua siswa itu, sekolah tidak berhak melakukan pungutan kepada wali murid.

“Akhirnya, rapat memanas dan semua wali murid ikut menyudutkan sekolah. Karena itu, rapat saya tunda dan akan dilanjutkan setelah semuanya tenang,” jelasnya.

Terkait dengan fasilitas AC yang dimatikan serta sejumlah siswa yang terpaksa belajar di luar ruangan, mantan kepala SMPN 2 Kedungwaru menyatakan bahwa sekolah tetap memberikan fasilitas yang layak kepada siswa baru. Namun, karena ada beberapa ruang kelas yang masih direnovasi, siswa terpaksa belajar di ruang laboratorium.

“Justru saya dikomplain orang tua siswa kalau tidak ada pungutan. Mereka khawatir jika anaknya tidak mendapat fasilitas dan pembelajaran seperti di sekolah-sekolah pinggiran,” tuturnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, keinginan komite sekolah beserta manajemen SMPN 1 Tulungagung untuk mendapat bantuan dana segar dari wali murid harus bertepuk sebelah tangan. Sebab, sejumlah wali murid justru memprotes rencana sekolah yang memberlakukan pungutan setelah penerimaan peserta didik baru.

Apalagi, sekolah berdalih, pungutan itu bakal digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana sekolah. Akibatnya, pertemuan yang diadakan tiga hari lalu sekitar pukul 10.00–11.30 tersebut berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa pun alias deadlock. (JPNN/dil)